
Fenomena yang saya lihat pada Bu Tuminah juga sejalan dengan masih kuatnya budaya mengonsumsi jamu di Indonesia.
Berbagai survei menunjukkan bahwa jamu tetap menjadi pilihan masyarakat, terutama dalam bentuk cair.
Di sisi lain, perkembangan jamu modern juga membawa warna baru.
Kini banyak minuman berbasis jamu yang dikombinasikan dengan susu, sirup, madu, soda, hingga es krim agar lebih mudah diterima generasi muda.
Inovasi tersebut tentu memiliki tujuan positif, yakni memperkenalkan kembali jamu kepada pasar yang lebih luas.
Sementara itu, jamu gendong tetap mempertahankan kesederhanaannya. Racikannya mengandalkan rempah-rempah, gula aren atau gula jawa untuk jenis tertentu, bahkan ada pula yang memang disajikan tanpa pemanis.
Keduanya memiliki pangsa pasar masing-masing, yang satu menawarkan pengalaman baru, sedangkan yang lain mempertahankan keaslian yang telah dipercaya selama puluhan tahun.
Tradisi yang Tetap Berjalan
Terlepas dari berbagai inovasi yang terus bermunculan, saya percaya jamu gendong masih akan memiliki tempat tersendiri.
Bukan semata karena harganya yang terjangkau, melainkan karena hubungan personal yang dibangun antara penjual dan pelanggan.
Ketika saya datang untuk ketiga kalinya, Bu Tuminah langsung menyapa,
"Hari ini kunyit asam lagi, Neng?"
Saya tersenyum. Beliau masih mengingat minuman yang biasa saya pesan. Mungkin inilah yang tidak bisa digantikan oleh strategi pemasaran secanggih apa pun.
Di tengah penjelasan Kang Ian mengenai pohon-pohon tua yang menjadi saksi sejarah Kebun Raya Bogor, saya justru menemukan pelajaran lain.
Seperti halnya pepohonan yang tetap berdiri kokoh melewati berbagai zaman, jamu gendong pun tampaknya memiliki daya tahan yang sama.
Selama masih ada kehangatan dalam setiap sapaan, ketulusan dalam setiap racikan, dan kepercayaan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, bakul sederhana milik Bu Tuminah akan terus menjadi bagian dari wajah Kebun Raya Bogor.
Tanpa perlu promosi yang berlebihan, tanpa kemasan yang dibuat mengikuti tren, segelas jamu yang disodorkan sambil berkata, "Jamunya, Neng," rupanya sudah cukup untuk membuat banyak orang kembali datang.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Jamu Gendong Bu Tuminah yang Enggan Tergilas Tren Kekinian"
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT