
Melihat pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), apakah teknologi ini akan mengambil alih pekerjaan manusia, atau justru membuka lebih banyak kesempatan bagi mereka yang mampu beradaptasi?
Beberapa waktu terakhir, hampir setiap kali saya membuka media daring, sebuah iklan tentang pelatihan kecerdasan buatan (AI) muncul di layar.
Menariknya, alih-alih langsung menawarkan produk, iklan tersebut lebih dulu menghadirkan kisah-kisah yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Tokohnya berganti, latarnya berbeda, tetapi pesan yang disampaikan tetap sama: AI bukan sekadar teknologi baru, melainkan alat yang dapat membantu manusia bekerja lebih efektif.
Di situlah letak daya tariknya. Iklan tersebut tidak hanya menjual sebuah kursus, tetapi mengajak penonton membayangkan bagaimana dunia kerja sedang berubah.
Perubahan itu memang semakin nyata. AI kini hadir di berbagai bidang pekerjaan, mulai dari administrasi, pemasaran, pendidikan, desain, hingga pengembangan perangkat lunak. Di tengah perubahan tersebut, masih banyak orang yang memandang AI sebagai ancaman.
Padahal, jika digunakan secara tepat, AI justru dapat menjadi alat yang membantu manusia menyelesaikan pekerjaan yang rumit dalam waktu yang lebih singkat.
Mengapa hal itu penting? Karena semakin kompleks sebuah pekerjaan, semakin besar pula waktu dan energi yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Di sisi lain, dunia kerja saat ini bergerak semakin cepat. Tenggat waktu semakin pendek, sementara tuntutan produktivitas terus meningkat.
Dalam kondisi seperti itu, sering kali orang mencoba "mencuri waktu" dengan cara yang kurang sehat. Datang lebih pagi, pulang lebih malam, atau membawa pekerjaan hingga ke rumah demi mengejar target.
Akibatnya, waktu bersama keluarga berkurang, kesempatan mengembangkan diri semakin sempit, waktu istirahat terabaikan, dan kelelahan menjadi bagian dari rutinitas.
Saya pernah mengalami situasi semacam itu dalam beberapa proyek pekerjaan.
Pada awal proyek, ritme kerja masih terasa wajar. Jam pulang masih normal dan masih ada ruang untuk melakukan aktivitas di luar pekerjaan, baik menghabiskan waktu bersama keluarga, mengikuti kegiatan komunitas, belajar hal baru, maupun sekadar bertemu teman.
Namun, ketika tenggat mulai mendekat, suasana berubah. Jam pulang semakin larut. Pekerjaan yang belum selesai ikut dibawa ke rumah. Keesokan harinya kembali bekerja dengan kondisi tubuh dan pikiran yang belum sepenuhnya pulih.
Pada akhirnya, hampir seluruh perhatian tersita untuk pekerjaan. Berita-berita penting sering terlewat. Bahkan kabar dari keluarga sendiri kadang luput karena pikiran terus dipenuhi daftar pekerjaan yang belum selesai.
Gambaran seperti itulah yang juga ditampilkan dalam iklan yang saya tonton.