
Dalam rapat berikutnya, analisis yang sebelumnya membutuhkan empat hari kini dapat diselesaikan hanya dalam dua jam.
Cerita tersebut tentu merupakan bagian dari sebuah iklan. Namun di balik unsur dramatisnya, ada pesan yang cukup relevan.
AI bukanlah pengganti pengalaman. Pengalaman, intuisi, kemampuan mengambil keputusan, serta pemahaman terhadap konteks tetap menjadi kekuatan utama manusia. AI hanya membantu mempercepat proses yang sebelumnya memakan banyak waktu.
Hal serupa saya rasakan dalam pekerjaan yang berkaitan dengan teknologi informasi.
Dulu, proses menganalisis sebuah persoalan, menyusun alternatif solusi, lalu mengimplementasikannya membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Kini sebagian proses analisis dapat dilakukan bersama AI. Sebelumnya memerlukan waktu berminggu-minggu, dalam beberapa kondisi dapat diselesaikan jauh lebih cepat. Waktu yang tersisa kemudian bisa digunakan untuk mengevaluasi hasil, memperbaiki kualitas solusi, atau mengembangkan ide-ide baru.
Pada akhirnya, bukan hanya produktivitas yang meningkat, tetapi kualitas hidup pun ikut membaik karena pekerjaan tidak lagi menghabiskan hampir seluruh waktu yang dimiliki.
Oleh karena itu, saya melihat AI bukan sebagai teknologi yang mengambil alih kesempatan manusia. Yang berubah hanyalah cara kita bekerja.
Jika sebelumnya banyak waktu habis untuk pekerjaan teknis yang berulang, kini sebagian proses tersebut dapat dibantu oleh AI sehingga manusia memiliki ruang lebih besar untuk mengerjakan hal-hal yang membutuhkan empati, kreativitas, komunikasi, strategi, dan penilaian yang tidak bisa sepenuhnya digantikan mesin.
Tanggung jawab atas hasil pekerjaan pun tetap berada di tangan manusia.
AI hanya membantu menghasilkan alternatif, mempercepat proses, atau menyusun informasi. Keputusan akhir, penilaian, serta konsekuensi dari pekerjaan tersebut tetap menjadi tanggung jawab orang yang menggunakannya.
Karena itu, semakin dalam seseorang menguasai bidang keahliannya, semakin besar pula manfaat AI yang dapat diperoleh.
Teknologi tidak menggantikan keahlian. Teknologi justru memperbesar nilai dari keahlian yang sudah dimiliki. Mungkin itulah cara pandang yang perlu mulai dibangun.
Alih-alih mengkhawatirkan pekerjaan yang perlahan dapat diotomatisasi, lebih baik kita memanfaatkan waktu yang berhasil dihemat untuk mempelajari kemampuan baru, meningkatkan kualitas pekerjaan, atau menghadirkan lebih banyak keseimbangan dalam hidup.
Jika ada alat yang dapat membantu menyelesaikan pekerjaan dengan lebih efisien, mengapa tidak memanfaatkannya?
Pada akhirnya, AI mungkin memang akan mengambil alih sebagian pekerjaan yang bersifat rutin.
Namun kesempatan untuk terus belajar, berkembang, beradaptasi, dan menciptakan nilai baru akan tetap menjadi milik manusia. Dan justru di sanalah masa depan dunia kerja akan ditentukan.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "AI Boleh Mengambil Alih Pekerjaanmu, tetapi Tidak Kesempatanmu"
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT