
Kondisi tersebut cukup berbeda dengan buku bajakan lokal. Dari pengalaman saya, buku bajakan lokal umumnya menggunakan bahan sampul yang lebih tipis, kualitas cetaknya kurang tajam, dan konstruksi bukunya lebih sederhana sehingga lebih mudah dikenali.
2. Detail Emboss dan Spot UV
Perbedaan berikutnya terlihat pada kualitas cetakan sampul.
Beberapa buku impor asli menggunakan teknik emboss maupun spot UV sehingga judul atau elemen tertentu tampak mengilap dan timbul.
Yang menarik, versi bajakan impor sering kali meniru detail tersebut dengan sangat baik. Bahkan, logo best seller atau elemen dekoratif lainnya juga dibuat menyerupai edisi asli.
Sebaliknya, pada buku bajakan lokal, detail seperti ini sering kali dihilangkan demi menekan biaya produksi. Sampul biasanya dibuat lebih sederhana tanpa efek cetak khusus sehingga lebih mudah dibedakan.
3. Kelengkapan Halaman
Aspek lain yang cukup mencolok adalah kelengkapan isi buku.
Pada buku impor bajakan, hampir seluruh bagian tetap dipertahankan. Mulai dari end paper, halaman persembahan, informasi penerbit, isi utama, daftar pustaka, hingga profil penulis tetap tersedia sebagaimana edisi asli.
Bahkan halaman-halaman kosong yang memang menjadi bagian dari desain buku juga tetap dipertahankan.
Sementara itu, pada buku bajakan lokal, saya cukup sering menemukan halaman yang dihilangkan. Bagian pembuka, halaman persembahan, maupun beberapa halaman penutup kadang tidak ikut dicetak sehingga jumlah halaman menjadi lebih sedikit dibandingkan edisi aslinya.
4. Kualitas Lem dan Penjilidan
Penjilidan juga menjadi pembeda yang cukup menarik.
Pada buku impor bajakan yang pernah saya temui, kualitas lemnya tergolong baik. Buku dapat dibuka lebar tanpa mudah retak, susunan halamannya rapi, dan hasil penjilidannya tampak kokoh.
Sebaliknya, buku bajakan lokal sering memperlihatkan kualitas lem yang kurang baik. Ketika buku dibuka, bagian tengah mudah terlihat renggang, lem kurang merata, bahkan dalam beberapa kasus halaman lebih mudah terlepas.