
Coba jawab jujur, ketika seorang dosen berpulang, apa yang sebenarnya tertinggal di ingatan para mahasiswanya: materi yang pernah diajarkan, nilai yang diberikan, atau kebaikan kecil yang pernah dilakukan ketika mereka membutuhkan pertolongan?
Sebuah kabar duka memutus keheningan hari saya dan membuat langkah terhenti sejenak. Dosen favorit saya telah berpulang.
Kabar itu tidak hanya menghadirkan rasa kehilangan, tetapi juga membawa ingatan saya kembali pada masa lalu, sekaligus mengajak saya merenungkan arti pengabdian dan perjalanan saya sendiri sebagai seorang dosen yang kini setiap hari berhadapan dengan wajah-wajah muda di ruang kelas.
Ingatan saya melompat jauh ke masa-masa awal perkuliahan. Ketika itu saya masih mahasiswa sekaligus wartawan kampus yang cukup sering mengetuk pintu ruangannya.
Sebagai Wakil Rektor, beliau merupakan salah satu pejabat tinggi di rektorat. Secara posisi, tentu ada jarak yang cukup jauh antara beliau dan saya sebagai mahasiswa.
Namun, saya tidak pernah merasakan adanya tembok birokrasi yang dingin. Tidak ada pula kesan bahwa jabatan membuatnya sulit ditemui. Pintunya selalu terbuka, senyumnya ramah, dan beliau tidak pernah menolak ketika diajak berdialog ataupun diwawancarai.
Keramahan itu ternyata bukan sekadar bagian dari formalitas seorang pejabat. Karakter tersebut justru semakin terlihat ketika berada dalam situasi yang tidak mudah.
Ketika Seorang Mahasiswa Datang dalam Kepanikan
Saya masih mengingat satu hari ketika berada dalam situasi yang cukup membuat panik.
Sebagai koordinator kegiatan pendidikan anggota baru UKM Pers Mahasiswa yang berlokasi di Sindangkerta, saya harus menghadapi persoalan yang muncul tepat sebelum keberangkatan. Seluruh peserta sudah duduk di dalam bus kampus. Barang-barang dan perlengkapan kegiatan telah dimasukkan ke bagasi. Tempat penginapan pun sudah dibayar.
Namun, ketika semuanya seharusnya siap berangkat, sopir bus kampus justru belum mau memutar kunci kontak. Surat perizinan resmi dari rektorat belum sampai ke tangannya.
Para senior sudah menunggu di lokasi. Membatalkan kegiatan bukan pilihan.
Dalam kepanikan itu, saya berlari menuju gedung rektorat dan mengetuk pintu ruang Wakil Rektor. Napas masih tersengal-sengal, sementara di balik pintu itu ada seorang pejabat yang tentu sedang memiliki banyak urusan kampus untuk diselesaikan.
Anehnya, beliau tidak marah atau menunjukkan rasa terganggu. Beliau justru menyambut saya dengan tenang. Setelah mengetahui persoalannya, beliau meminta sekretaris menyiapkan dokumen yang diperlukan dan langsung menandatangani surat perizinan tersebut.
Bus akhirnya dapat berangkat, meskipun terlambat sekitar satu hingga dua jam dari jadwal yang saya buat. Bagi saya, hari itu beliau tidak sekadar menandatangani selembar surat. Beliau membantu menyelamatkan harapan seorang mahasiswa muda yang sedang belajar bertanggung jawab.
Tahun-tahun kemudian berlalu. Takdir kembali mempertemukan kami di ruang kuliah S2, dalam mata kuliah Filsafat.
Di tengah perkuliahan, saya sempat mendengar bisikan dari beberapa rekan di barisan belakang yang mempertanyakan latar belakang pribadi dan keyakinan beliau. Karena saya merupakan alumnus baru dari kampus tersebut sekaligus mahasiswa yang paling muda, pertanyaan itu kemudian diarahkan kepada saya.
Saya hanya menggeleng dan memilih tidak ikut menanggapinya. Bagi saya, selama beliau berdiri di depan kelas dan memberikan ilmu, kebaikan, serta kebijaksanaan, kehidupan pribadinya merupakan wilayah yang tidak perlu saya hakimi.
Kita tidak perlu mengurangi rasa hormat kepada seorang guru hanya karena dorongan untuk menilai jalan hidupnya, terlebih ketika sesuatu yang dibicarakan pun belum tentu benar.
Kenangan Terakhir di Koridor Kampus
Momen indah terakhir bersama beliau terjadi di sebuah koridor kampus.
Saat itu saya sedang duduk gelisah menunggu dosen pembimbing tesis. Beliau lewat, kemudian tiba-tiba menghentikan langkah. Tatapannya tertuju kepada saya. Dalam beberapa detik, ingatannya seperti kembali bekerja.
Beliau masih mengingat saya sebagai mahasiswa pers yang dulu cukup sering datang ke ruangannya.
Kami pun tertawa bersama, mengenang masa-masa yang telah lama berlalu.
Tawa itu sederhana. Hangat dan ringan. Namun, setelah kepergiannya, percakapan singkat tersebut justru menjadi salah satu kenangan terakhir yang paling saya ingat tentang beliau.
Kini, setelah beliau berpulang dan saya sendiri telah berdiri di depan kelas sebagai seorang dosen, kepergiannya menghadirkan pertanyaan yang berbeda.
Saya mulai melihat ruang kelas dari sudut pandang yang lain. Di hadapan saya ada mahasiswa-mahasiswa yang datang dengan kecemasan, harapan, kepolosan, dan sesekali kepanikan.
Mereka mengingatkan saya pada diri sendiri puluhan tahun lalu: seorang mahasiswa yang datang mengetuk pintu ruang Wakil Rektor dengan napas terburu-buru karena sebuah persoalan.
Dari situlah refleksi itu menjadi semakin personal. Apakah saya sanggup mendedikasikan sisa hidup untuk menjadi pendidik seperti beliau?
Apakah saya memiliki ketulusan untuk tetap membuka pintu dan menghadirkan senyum bagi mahasiswa yang sedang berada dalam kesulitan, bahkan ketika saya sendiri sedang lelah, jenuh, atau menghadapi persoalan pribadi?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak akan pernah selesai saya jawab.
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Kepergian beliau membuat saya kembali menyadari sesuatu yang mungkin sering terlupakan dalam dunia akademik.
Pada akhirnya, mahasiswa belum tentu mengingat seluruh teori yang pernah dituliskan dosen di papan tulis. Mereka mungkin juga tidak lagi mengingat setiap slide presentasi atau angka yang pernah tertera di lembar hasil studi.
Namun, ada hal lain yang mungkin justru menetap jauh lebih lama: bagaimana seorang dosen membuat mereka merasa dihargai sebagai manusia.
Barangkali seorang mahasiswa tidak selalu membutuhkan jawaban yang rumit. Ada kalanya mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau membuka pintu, mendengarkan persoalan, atau memberikan sedikit ruang ketika keadaan sedang tidak berpihak kepada mereka.
Dan itulah yang saya rasakan dari sosok dosen yang hari ini saya kenang.
Pertanyaan yang kemudian muncul di dalam diri saya adalah: ketika waktuku tiba nanti, akan dikenang seperti apakah saya oleh mahasiswa?
Apakah saya hanya akan diingat sebagai seorang pengajar yang datang ke kelas, menyampaikan materi, memberi nilai, lalu menyelesaikan kewajiban?
Ataukah saya pernah menjadi seseorang yang membuka jalan ketika seorang mahasiswa merasa tidak memiliki jalan keluar?
Mengenang beliau hari ini akhirnya bukan hanya tentang kehilangan seorang dosen favorit. Ini juga menjadi kesempatan bagi saya untuk melihat kembali seperti apa dosen yang ingin saya jalani di masa depan.
Beliau telah menyelesaikan tugasnya di dunia dan meninggalkan jejak berupa kebaikan serta kehangatan yang masih saya rasakan sampai hari ini.
Kini, tongkat estafet itu terasa seperti berpindah ke tangan saya.
Semoga setiap kali melangkah ke ruang kelas, saya selalu mengingat pintu yang dahulu terbuka, senyum yang tidak mudah goyah, dan kebaikan yang pernah diberikan kepada seorang mahasiswa yang datang dalam kepanikan.
Sebab mungkin, pada akhirnya, warisan seorang dosen bukan hanya ilmu yang pernah diajarkan, melainkan kebaikan yang membuat seorang mahasiswa ingin meneruskannya kepada orang lain.
Ketika waktunya tiba nanti, semoga ada mahasiswa yang masih mengingat bahwa pernah ada seorang dosen yang membuat mereka merasa didengar, dihargai, dan tidak sendirian dalam perjalanan mereka.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Saat Waktunya Tiba, Bagaimana Dosen akan Dikenang?"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.