Saat sesi istirahat dan makan bersama di Seniman Pangan, saya dan rekan-rekan sempat kembali membicarakan soal hutan pangan dan bertemu dengan persoalan lain yang tidak kalah penting: ekonomi.
Kita sering mengatakan bahwa masyarakat lokal perlu mengembangkan pangan lokal.
Tetapi setelah itu muncul pertanyaan lain: akan dijual kepada siapa? Berapa harganya?
Di Seniman Pangan, pendekatan yang mereka gunakan menurut saya cukup menarik.
Masyarakat tidak selalu diarahkan untuk bersaing melalui jumlah produksi. Sebab, jika pertandingannya adalah volume, produsen kecil tentu akan menghadapi tantangan besar ketika berhadapan dengan industri berskala besar.
Justru yang dicari adalah keunikannya.
Bahan dari wilayah tertentu, produk musiman, cara pengolahan khas, pengetahuan komunitas, serta karakter rasa yang tidak mudah ditemukan di tempat lain dapat menjadi modal untuk menjadikan sebuah produk lebih dikenal.
Cashew butter dari Flores menjadi salah satu contohnya. Kacang mete lokal tidak sekadar dijual sebagai bahan mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk dengan nilai tambah.
Ada pula jamur gerigit, jambu hutan, Nypa Salt, madu, terasi udang Papua, rosella, dan berbagai produk lainnya.
Saya melihat sebuah kemungkinan di sini. Ketika pangan lokal memiliki pasar, orang yang memproduksinya mendapatkan peluang ekonomi. Pengetahuan yang menyertainya pun memiliki alasan untuk tetap dipertahankan dan diwariskan.
Tentu saja, ini tidak berarti semua yang ada di hutan harus dipanen lalu dijual. Justru prinsip keberlanjutan perlu menjadi batasnya.
Hasil hutan tetap perlu dipanen sesuai kemampuan alam untuk memulihkan diri. Hak masyarakat harus dihormati. Pengetahuan tradisional juga tidak semestinya hanya diambil tanpa pengakuan atau manfaat yang adil.
Jika tidak, kita hanya akan mengubah bentuk eksploitasi.
Bagaimana Jika Kota Juga Punya Hutan Pangan?
Setelah melihat kebun di Seniman Pangan, saya kemudian membayangkan bagaimana jika prinsip hutan pangan juga hadir di kota.
Tentu tidak semua orang tinggal di dekat hutan. Tidak semua orang pula memiliki lahan yang luas.
Namun, mungkin kita tidak membutuhkan lahan seluas hutan untuk mulai memahami prinsip keberagaman tersebut.
Halaman rumah bisa ditanami pohon buah dan tanaman pangan. Sekolah bisa membuat kebun yang tidak hanya cantik, tetapi juga dapat dipanen.
Ruang terbuka di kompleks perumahan bisa menjadi kebun bersama. Kantor dapat menanam rempah, sayuran, atau buah di area yang selama ini hanya menjadi lanskap dekoratif.
Bahkan halaman yang kecil pun bisa memiliki satu atau dua tanaman pangan.
Memang, jangan dibayangkan satu pot cabai akan menyelesaikan krisis pangan nasional. Tentu tidak.
Namun, mungkin ada perubahan cara berpikir yang dapat dimulai dari sana.
Kita mulai mengenali tanaman. Kita mulai mengetahui musimnya. Kita mulai memahami dari mana makanan berasal.
Anak-anak juga bisa melihat bahwa singkong bukan benda yang tiba-tiba muncul dalam kemasan keripik yang mereka beli di supermarket.
Semakin dekat kita dengan sumber makanan, semakin mudah kita memahami betapa panjang proses yang membuat makanan sampai ke meja.
Dan mungkin, di situlah gagasan tentang hutan pangan menjadi menarik.
Bukan semata-mata tentang menanam sebanyak mungkin tanaman, melainkan tentang belajar melihat pangan sebagai sesuatu yang beragam, hidup, dan memiliki hubungan erat dengan alam serta manusia yang merawatnya.
Barangkali, ketika membicarakan dapur masa depan, kita tidak hanya perlu bertanya berapa banyak makanan yang bisa kita produksi, tetapi juga seberapa beragam makanan yang mampu kita kenali dan pertahankan.
Dari kebun kecil di tengah Bekasi, pertanyaan itu terasa cukup dekat untuk mulai kita renungkan.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Seniman Pangan: Ketika Hutan Jadi Dapur Masa Depan"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya