Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Mutia Ramadhani
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Mutia Ramadhani adalah seorang yang berprofesi sebagai Freelancer. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Belajar Ketahanan Pangan dari Hutan Kota di Seniman Pangan

Kompas.com, 31 Agustus 2026, 11:09 WIB

Saat sesi istirahat dan makan bersama di Seniman Pangan, saya dan rekan-rekan sempat kembali membicarakan soal hutan pangan dan bertemu dengan persoalan lain yang tidak kalah penting: ekonomi.

Kita sering mengatakan bahwa masyarakat lokal perlu mengembangkan pangan lokal.

Tetapi setelah itu muncul pertanyaan lain: akan dijual kepada siapa? Berapa harganya?

Di Seniman Pangan, pendekatan yang mereka gunakan menurut saya cukup menarik.

Masyarakat tidak selalu diarahkan untuk bersaing melalui jumlah produksi. Sebab, jika pertandingannya adalah volume, produsen kecil tentu akan menghadapi tantangan besar ketika berhadapan dengan industri berskala besar.

Justru yang dicari adalah keunikannya.

Bahan dari wilayah tertentu, produk musiman, cara pengolahan khas, pengetahuan komunitas, serta karakter rasa yang tidak mudah ditemukan di tempat lain dapat menjadi modal untuk menjadikan sebuah produk lebih dikenal.

Cashew butter dari Flores menjadi salah satu contohnya. Kacang mete lokal tidak sekadar dijual sebagai bahan mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk dengan nilai tambah.

Ada pula jamur gerigit, jambu hutan, Nypa Salt, madu, terasi udang Papua, rosella, dan berbagai produk lainnya.

Saya melihat sebuah kemungkinan di sini. Ketika pangan lokal memiliki pasar, orang yang memproduksinya mendapatkan peluang ekonomi. Pengetahuan yang menyertainya pun memiliki alasan untuk tetap dipertahankan dan diwariskan.

Tentu saja, ini tidak berarti semua yang ada di hutan harus dipanen lalu dijual. Justru prinsip keberlanjutan perlu menjadi batasnya.

Hasil hutan tetap perlu dipanen sesuai kemampuan alam untuk memulihkan diri. Hak masyarakat harus dihormati. Pengetahuan tradisional juga tidak semestinya hanya diambil tanpa pengakuan atau manfaat yang adil.

Jika tidak, kita hanya akan mengubah bentuk eksploitasi.

Bagaimana Jika Kota Juga Punya Hutan Pangan?

Setelah melihat kebun di Seniman Pangan, saya kemudian membayangkan bagaimana jika prinsip hutan pangan juga hadir di kota.

Tentu tidak semua orang tinggal di dekat hutan. Tidak semua orang pula memiliki lahan yang luas.

Namun, mungkin kita tidak membutuhkan lahan seluas hutan untuk mulai memahami prinsip keberagaman tersebut.

Halaman rumah bisa ditanami pohon buah dan tanaman pangan. Sekolah bisa membuat kebun yang tidak hanya cantik, tetapi juga dapat dipanen.

Ruang terbuka di kompleks perumahan bisa menjadi kebun bersama. Kantor dapat menanam rempah, sayuran, atau buah di area yang selama ini hanya menjadi lanskap dekoratif.

Bahkan halaman yang kecil pun bisa memiliki satu atau dua tanaman pangan.

Memang, jangan dibayangkan satu pot cabai akan menyelesaikan krisis pangan nasional. Tentu tidak.

Namun, mungkin ada perubahan cara berpikir yang dapat dimulai dari sana.

Kita mulai mengenali tanaman. Kita mulai mengetahui musimnya. Kita mulai memahami dari mana makanan berasal.

Anak-anak juga bisa melihat bahwa singkong bukan benda yang tiba-tiba muncul dalam kemasan keripik yang mereka beli di supermarket.

Semakin dekat kita dengan sumber makanan, semakin mudah kita memahami betapa panjang proses yang membuat makanan sampai ke meja.

Dan mungkin, di situlah gagasan tentang hutan pangan menjadi menarik.

Bukan semata-mata tentang menanam sebanyak mungkin tanaman, melainkan tentang belajar melihat pangan sebagai sesuatu yang beragam, hidup, dan memiliki hubungan erat dengan alam serta manusia yang merawatnya.

Barangkali, ketika membicarakan dapur masa depan, kita tidak hanya perlu bertanya berapa banyak makanan yang bisa kita produksi, tetapi juga seberapa beragam makanan yang mampu kita kenali dan pertahankan.

Dari kebun kecil di tengah Bekasi, pertanyaan itu terasa cukup dekat untuk mulai kita renungkan.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Seniman Pangan: Ketika Hutan Jadi Dapur Masa Depan"

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Belajar Biologi di Alam, dari Jejak Satwa hingga Burung
Belajar Biologi di Alam, dari Jejak Satwa hingga Burung
Kata Netizen
Tidak Naik Kelas Bukan Berarti Anak Gagal
Tidak Naik Kelas Bukan Berarti Anak Gagal
Kata Netizen
Cerita di Balik Sirih yang Tumbuh di Depan Rumah
Cerita di Balik Sirih yang Tumbuh di Depan Rumah
Kata Netizen
Dulu Ramai, Kini Food Court Tinggal Kantin
Dulu Ramai, Kini Food Court Tinggal Kantin
Kata Netizen
Ke Mana Manfaat Kenaikan Anggaran Kesehatan Dirasakan?
Ke Mana Manfaat Kenaikan Anggaran Kesehatan Dirasakan?
Kata Netizen
Sudah Bawa Bekal, Kok Pengeluaran Masih Boros?
Sudah Bawa Bekal, Kok Pengeluaran Masih Boros?
Kata Netizen
Tantangan Side Job Seorang Videografer Pernikahan
Tantangan Side Job Seorang Videografer Pernikahan
Kata Netizen
Rekan Kerja Have, Bukan Cuma soal Barang Bermerek
Rekan Kerja Have, Bukan Cuma soal Barang Bermerek
Kata Netizen
Terbiasa dengan Asap Bukan Berarti Aman
Terbiasa dengan Asap Bukan Berarti Aman
Kata Netizen
Naik Kelas atau Mengulang, Mana yang Membantu Murid?
Naik Kelas atau Mengulang, Mana yang Membantu Murid?
Kata Netizen
Hidup dari Kios Kecil, Asal Dapur Tetap Mengepul
Hidup dari Kios Kecil, Asal Dapur Tetap Mengepul
Kata Netizen
Teknologi Tradisional di Balik Jagung Bose
Teknologi Tradisional di Balik Jagung Bose
Kata Netizen
Macet di Kampung Sendiri Gara-gara Antrean BBM
Macet di Kampung Sendiri Gara-gara Antrean BBM
Kata Netizen
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Danau Singkarak, Lebih dari Sekadar Pemandangan Indah
Kata Netizen
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Perempuan dan Masa Depan Investasi di Pasar Modal
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau