
Di sisi lain, ada beberapa hal sederhana yang menurut saya juga dapat dilakukan untuk membantu menjaga ketenangan selama masa pemulihan.
Lebih Selektif Mengonsumsi Informasi
Hal pertama adalah lebih selektif dalam mengonsumsi berita dan informasi mengenai gempa bumi. Di tengah derasnya informasi di media sosial, kita tidak harus membaca atau mengikuti setiap kabar yang beredar.
Informasi mengenai gempa sebaiknya berasal dari sumber yang dapat dipercaya, terutama lembaga resmi yang memang memiliki kewenangan dan kompetensi dalam menangani informasi kebencanaan.
Kita juga perlu berhati-hati terhadap berbagai prediksi atau informasi yang tidak memiliki sumber jelas. Dalam situasi bencana, informasi yang belum terverifikasi dapat dengan mudah menambah kecemasan, terlebih bagi mereka yang memang sedang berada dalam kondisi takut.
Berbagai berita mengenai bencana alam memang sulit dihindari. Media sosial membuat informasi dapat menyebar dalam hitungan detik. Namun, justru karena itulah kemampuan untuk memilih informasi menjadi semakin penting.
Informasi yang keliru bukan hanya berpotensi menyesatkan. Dalam situasi tertentu, informasi tersebut juga dapat memperkuat rasa takut dan membuat seseorang semakin sulit merasa aman.
Karena itu, selama berada dalam situasi bencana atau masa pemulihan, tidak ada salahnya memberikan jeda kepada diri sendiri dari arus informasi yang terlalu deras. Kita tetap perlu mengetahui informasi penting mengenai kondisi terkini, tetapi tidak berarti harus terus-menerus mengikuti setiap kabar yang beredar.
Sesekali, memberikan ruang bagi pikiran untuk beristirahat juga penting. Mencari aktivitas yang membuat hati lebih tenang dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga diri di tengah situasi yang belum sepenuhnya pulih.
Saling Memberikan Dukungan
Hal kedua adalah saling memberikan dukungan. Dukungan ini dapat datang dari orang-orang yang berada jauh dari lokasi bencana maupun dari mereka yang mengalaminya secara langsung.
Sebagai seseorang yang sedang berada jauh dari keluarga, saya mungkin tidak bisa banyak membantu secara langsung. Yang bisa saya lakukan adalah terus menghubungi mereka dan memberikan dukungan moral.
Salah satunya dengan berbagi pengalaman pribadi ketika pernah berada di episentrum gempa bumi pada 2024 di Filipina bagian utara, yang saat itu berkekuatan 7,0. Dari pengalaman tersebut, saya mencoba menyampaikan kepada keluarga bahwa gempa bumi susulan memang dapat terjadi setelah gempa utama.
Bukan untuk membuat mereka semakin takut, melainkan agar mereka memiliki sedikit gambaran mengenai apa yang mungkin terjadi setelah gempa utama. Dengan mengetahui hal tersebut, saya berharap mereka dapat menghadapi situasi dengan lebih tenang dan tetap memperhatikan keselamatan.
Perlahan, kita memang perlu berdamai dengan kenyataan bahwa gempa susulan merupakan salah satu kemungkinan setelah gempa utama. Namun, menerima kenyataan tersebut tentu bukan berarti mengabaikan kewaspadaan.