
Justru sebaliknya, kesadaran tersebut dapat menjadi pengingat untuk tetap berhati-hati, waspada, dan tidak gegabah setiap kali merasakan getaran.
Di antara para penyintas atau masyarakat yang berada di lokasi terdampak, dukungan juga dapat hadir dalam berbagai bentuk. Bisa berupa bantuan praktis, menemani satu sama lain, saling berbagi kebutuhan, atau sekadar memberikan kata-kata yang menenangkan.
Saya percaya tidak semua orang akan merespons bencana dengan cara yang sama. Ada yang mungkin dapat tetap tenang, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih panjang untuk kembali merasa aman.
Mereka yang lebih tenang dapat membantu memberikan rasa aman kepada orang-orang di sekitarnya. Bukan dengan mengatakan bahwa rasa takut itu berlebihan, melainkan dengan hadir, mendengarkan, dan membantu ketika diperlukan.
Dalam situasi seperti ini, solidaritas menjadi sangat penting. Masyarakat yang saling menguatkan dapat membantu satu sama lain melewati masa sulit dengan lebih baik.
Pada akhirnya, proses pemulihan setelah bencana memang tidak sederhana. Ada rumah yang harus dibangun kembali, fasilitas yang perlu diperbaiki, aktivitas ekonomi yang harus dipulihkan, dan tentu saja rasa aman yang perlahan perlu tumbuh kembali.
Karena itu, penanganan pascabencana semestinya tidak berhenti ketika gempa utama telah berlalu. Masyarakat juga membutuhkan ruang untuk memulihkan diri dari pengalaman yang mereka alami.
Pendampingan profesional tetap penting bagi mereka yang membutuhkan. Di saat yang sama, dukungan keluarga, teman, tetangga, dan komunitas juga memiliki arti yang tidak kecil.
Bagi saya yang berada jauh dari keluarga, pengalaman ini kembali mengingatkan bahwa ketika bencana datang, yang paling kita butuhkan bukan hanya informasi tentang kapan gempa berikutnya akan terjadi atau bantuan berupa kebutuhan sehari-hari.
Kita juga membutuhkan rasa aman. Dan rasa aman itu kadang tumbuh dari hal-hal sederhana: keluarga yang saling mengabari, tetangga yang saling membantu, informasi yang disampaikan dengan benar, serta seseorang yang bersedia berkata, "Kita hadapi ini bersama-sama."
Mungkin gempa bumi tidak dapat kita cegah. Namun, kita dapat belajar untuk lebih siap menghadapinya dan membantu mereka yang masih berusaha memulihkan diri setelah mengalaminya.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Keluarga Saya Trauma Gegara Gempa Bumi, Apa yang Perlu Dilakukan?"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.