
Apakah kedekatan antara lelaki dan perempuan benar-benar dapat sepenuhnya terbebas dari perasaan, terutama ketika hubungan itu sudah berubah dari sekadar teman menjadi tempat berbagi cerita, mencari dukungan, dan saling membutuhkan?
Saya percaya, tidak ada persahabatan yang benar-benar murni antara lelaki dan perempuan.
Berteman? Bisa. Menjadi rekan kerja? Tentu saja. Saling mengenal, membantu, berdiskusi, bekerja sama, bahkan sesekali bercanda? Tidak ada masalah.
Tetapi ketika hubungan itu mulai disebut sebagai persahabatan, bagi saya, di situlah persoalannya menjadi lebih kompleks.
Ketika seorang lelaki dan perempuan sudah menyebut hubungan mereka sebagai sahabat, biasanya terdapat kedekatan yang lebih dalam daripada sekadar teman.
Ada komunikasi yang lebih intens, perhatian yang lebih khusus, tempat untuk berbagi cerita, saling mengetahui persoalan pribadi, hingga menjadi orang pertama yang dicari ketika sedang membutuhkan seseorang.
Ketika dua orang berbeda jenis kelamin berada dalam kedekatan seperti itu, saya sulit meyakini bahwa hubungan tersebut akan selalu terbebas dari kemungkinan munculnya perasaan.
Perasaan itu pun tidak selalu harus berupa cinta. Bisa saja berupa rasa nyaman, kekaguman, atau sekadar rasa kehilangan ketika perhatian yang selama ini diterima tiba-tiba berkurang.
Tetapi tetap saja, ada sesuatu yang tumbuh.
Berteman Boleh, Bersahabat Jangan
Bagi saya, persoalannya bukan apakah lelaki dan perempuan boleh berinteraksi. Tentu saja boleh.
Kita hidup di tengah masyarakat. Di sekolah, kampus, tempat kerja, organisasi, komunitas, maupun lingkungan sosial, lelaki dan perempuan pasti bertemu dan berinteraksi.
Karena itu, saya tidak sedang mengatakan bahwa lelaki dan perempuan harus saling menjauh. Yang menjadi perhatian saya adalah kedekatan yang kemudian diberi label persahabatan.
Jika memang ingin menjaga batas, mengapa harus bersahabat terlalu dekat?
Cukup berteman. Menjadi rekan kerja, kenalan yang dapat saling menyapa dan membantu seperlunya, atau menjadi bagian dari lingkungan pertemanan yang sehat.
Tidak perlu menjadikan seseorang sebagai tempat pertama untuk menceritakan semua persoalan. Tidak harus membangun komunikasi tanpa batas setiap hari atau selalu hadir dalam kehidupan masing-masing.
Sebab, menurut saya, kedekatan emosional yang terlalu intens dapat membuat keberadaan satu sama lain perlahan menjadi begitu penting.
Semakin intens hubungan dibangun, semakin besar pula kemungkinan batas persahabatan menjadi sulit dijaga. Dan jika pada akhirnya batas tersebut harus dijaga dengan susah payah, saya kembali bertanya: mengapa harus membangun kedekatan sampai sejauh itu?
"Kami Tidak Punya Perasaan Apa-Apa"
Kalimat seperti ini mungkin akan muncul dari mereka yang merasa persahabatannya baik-baik saja.
Namun, manusia tidak selalu dapat memastikan bagaimana perasaannya pada hari esok. Hari ini mungkin hanya ada rasa nyaman. Besok, rasa itu bisa saja berkembang menjadi kekaguman. Kekaguman yang semakin besar dapat berubah menjadi kerinduan.
Jika dibiarkan tumbuh, kerinduan mungkin berkembang menjadi keinginan untuk memiliki. Semua itu dapat berlangsung perlahan, bahkan tanpa disadari, karena merasa cocok, merasa diperhatikan, dan terlalu sering berbagi waktu.
Lama-kelamaan, dua orang bisa saling membutuhkan dan merasa ada sesuatu yang hilang ketika salah satunya tidak hadir.
Sampai akhirnya, seseorang menjadi terlalu penting.
Pada titik itulah, hubungan yang sejak awal disebut "hanya persahabatan" mungkin tidak lagi sesederhana namanya.