
Kalau Mau Menjaga Batas, Jangan Bersahabat Terlalu Dekat
Saya tahu akan ada yang tidak setuju dengan pandangan ini. Tidak masalah. Mungkin ada orang yang merasa berhasil bersahabat bertahun-tahun dengan lawan jenis tanpa pernah memiliki perasaan apa pun.
Saya menghargai pengalaman tersebut. Saya tetap memilih untuk berhati-hati. Sebab bagi saya, batas dalam persahabatan antara lelaki dan perempuan bukan sesuatu yang perlu diuji sampai sejauh mana bisa dilonggarkan.
Kalau memang ingin menjaga hati, saya lebih memilih berada di batas yang aman.
Berteman, iya. Menjadi rekan, tentu saja boleh. Saling membantu, tidak ada masalah. Tetapi tidak harus menjadi sahabat yang terlalu dekat.
Tidak perlu menjadikan seseorang sebagai tempat curhat utama atau orang yang selalu dicari ketika sedang sedih dan membutuhkan bantuan.
Jangan sampai kedekatan emosional dengan sahabat lawan jenis justru tumbuh lebih besar daripada kedekatan dengan pasangan masing-masing.
Sebab ketika seseorang sudah memiliki pasangan, sahabat lawan jenis yang terlalu dekat juga berpotensi menjadi persoalan baru dalam rumah tangga.
Bisa muncul kecemburuan, kesalahpahaman, atau rasa percaya yang perlahan berkurang.
Jangan sampai hubungan yang sejak awal disebut sebagai persahabatan justru menjadi sumber persoalan dalam hubungan yang lebih utama.
Persahabatan yang Harus Terus Dijaga Batasnya, Mungkin Memang Tidak Perlu Ada
Saya tetap pada pendirian saya.
Lelaki dan perempuan bisa berteman, tetapi tidak perlu membangun persahabatan yang terlalu dekat.
Bukan karena setiap lelaki pasti akan jatuh cinta kepada sahabat perempuannya. Bukan pula karena setiap perempuan pasti menyimpan perasaan kepada sahabat lelakinya.
Melainkan karena manusia tidak pernah benar-benar tahu ke mana hati akan bergerak ketika sebuah kedekatan terus dipelihara.
Kalau tujuan kita adalah menjaga hati, menjaga kehormatan, menjaga perasaan pasangan, sekaligus menghindari kesalahpahaman dan persoalan yang tidak perlu, saya memilih cara yang sederhana: bertemanlah, tetapi jangan bersahabat terlalu dekat.
Tidak perlu menjadi tempat curhat utama. Tidak juga mesti menjadi orang yang selalu dicari ketika sedang sedih atau membutuhkan bantuan.
Sebab ada perbedaan antara hadir sebagai teman dan menjadi seseorang yang memiliki tempat terlalu istimewa dalam kehidupan orang lain.
Pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan tentang apakah persahabatan lelaki dan perempuan bisa atau tidak bisa berlangsung tanpa perasaan.
Mungkin saja bisa. Tetapi, bagi saya, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita perlu membawa sebuah hubungan sedekat itu jika sejak awal kita ingin menjaga batas?
Kita tidak perlu menguji seberapa kuat hati hanya untuk membuktikan bahwa persahabatan lelaki dan perempuan dapat tetap murni.
Jika ingin benar-benar menjaga batas, kita tidak harus berdiri di tepi batas tersebut. Cukup berhenti sebagai teman.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Tak Ada Persahabatan Murni antara Lelaki dan Perempuan"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.