
Siapa yang Bisa Menjamin Tidak Ada Cemburu?
Coba tanyakan kepada diri sendiri. Ketika sahabat lelaki Anda mendapatkan kekasih, apakah Anda benar-benar tidak merasa kehilangan?
Atau ketika sahabat perempuan Anda menikah, apakah Anda benar-benar merasa tidak ada sesuatu pun yang berubah?
Mungkin tidak sampai pada rasa cemburu. Tetapi bukankah bisa muncul rasa kehilangan ketika perhatian yang sebelumnya begitu mudah didapatkan kini harus dibagi dengan pasangan?
Jika benar-benar tidak ada keterikatan emosional, mungkin perubahan tersebut tidak akan terasa terlalu berat.
Namun, kenyataannya, ada persahabatan yang mulai renggang ketika salah satu di antara mereka menemukan pasangan.
Mengapa?
Karena kedekatan yang selama ini dianggap "hanya persahabatan" ternyata dapat menciptakan keterikatan emosional.
Saya Pernah Melihatnya Sendiri
Pandangan ini bukan sekadar teori. Saya melihatnya dari pengalaman orang-orang di sekitar saya. Ada lelaki dan perempuan yang mengaku hanya bersahabat. Keduanya bahkan dapat menerima ketika masing-masing memiliki pasangan.
Namun, ketika intensitas komunikasi berubah, perhatian mulai terbagi, atau jarak mulai dibuat, tetap ada yang merasa sedih. Tetap ada yang merasa kehilangan, seolah-olah muncul ruang kosong yang sebelumnya tidak terasa.
Mungkin itu bukan cinta. Tetapi sekali lagi, bagi saya, persahabatan yang benar-benar tanpa keterikatan emosional seharusnya tidak meninggalkan persoalan semacam itu.
Saya pun pernah mengalami situasi ketika kedekatan dengan seorang lelaki yang saya anggap sebatas teman ternyata ditafsirkan berbeda.
Saya merasa hanya bersikap ramah sebagai teman. Namun, mungkin perhatian yang menurut saya biasa saja ternyata terasa istimewa bagi orang lain.
Di situlah saya belajar bahwa kita tidak pernah sepenuhnya dapat mengendalikan bagaimana orang lain menerjemahkan sebuah kedekatan.
Bisa saja kita merasa tidak pernah memberikan harapan. Namun, perhatian yang terlalu sering diberikan dapat dimaknai sebagai sesuatu yang lebih oleh orang lain.
Perempuan dan Lelaki Punya Fitrah untuk Saling Tertarik
Bagi saya, persoalan ini juga tidak dapat dilepaskan dari fitrah manusia.
Lelaki dan perempuan memiliki kemungkinan untuk saling tertarik. Itu bukan sesuatu yang memalukan karena merupakan bagian dari naluri manusia. Namun, justru karena kemungkinan tersebut ada, batas menjadi penting.
Islam juga memahami hal tersebut. Karena itu, terdapat aturan mengenai interaksi antara lelaki dan perempuan, termasuk larangan berkhalwat serta anjuran untuk menjaga pandangan dan kehormatan.
Bukan berarti lelaki dan perempuan tidak boleh berhubungan sama sekali.
Sebaliknya, interaksi tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, ada batas-batas yang perlu diperhatikan karena manusia memiliki hati dan keinginan yang dapat berubah.
Sesuatu yang pada awalnya terlihat biasa dapat menjadi berbeda ketika terus diberi ruang untuk tumbuh. Oleh karena itu, menjaga jarak bukan berarti membenci lawan jenis.
Menjaga batas juga bukan berarti harus bersikap kasar. Membatasi kedekatan bukan berarti tidak boleh saling menolong.
Justru, bagi saya, batas dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga diri sebelum muncul sesuatu yang tidak diinginkan.