Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Gitakara Ardhytama
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Gitakara Ardhytama adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan

Kompas.com, 17 September 2026, 15:45 WIB

Seberapa sering kita benar-benar memberi ruang bagi diri sendiri untuk hening, tanpa gawai, tanpa notifikasi, dan tanpa kesibukan apa pun, sekadar untuk mendengarkan apa yang sebenarnya sedang kita rasakan dan pikirkan?

Ada satu pemandangan yang belakangan ini cukup sering saya temui di ruang-ruang publik. Di halte bus, antrean kasir swalayan, dalam lift, atau bahkan di meja-meja kafe yang remang, orang-orang tampak sibuk dengan dunianya masing-masing.

Begitu ada jeda beberapa detik, ketika tidak ada interaksi sosial atau aktivitas fisik yang perlu dilakukan, tangan dengan cepat meraba saku atau tas. Sebuah benda persegi dengan layar yang berpendar segera berpindah ke tangan. Jempol kemudian mulai bergerak, menggulir layar dari satu informasi ke informasi lainnya.

Mungkin ini bukan sesuatu yang aneh. Kita hidup di zaman ketika ponsel pintar memang telah menjadi bagian dari keseharian. Ia membantu kita bekerja, berkomunikasi, mencari informasi, hingga mengisi waktu luang.

Namun, ada satu hal yang menarik untuk direnungkan: jangan-jangan kita mulai terbiasa mengisi setiap jeda dengan sesuatu, sampai-sampai merasa kurang nyaman ketika tidak ada apa-apa untuk dilakukan.

Saya pun bertanya-tanya, apakah manusia modern perlahan menjadi semakin tidak terbiasa dengan ruang hening?

Hari-hari ini kita hidup dalam begitu banyak stimulasi visual dan auditori. Ada notifikasi, pesan singkat, video pendek, musik, berita, percakapan, hingga berbagai pembaruan di media sosial. Ketika semuanya tersedia hanya dalam beberapa sentuhan, duduk diam dan mendengarkan pikiran sendiri justru bisa terasa asing.

Hening, meski hanya sesaat, kadang terasa seperti ruang kosong yang perlu segera diisi. Teknologi pun akhirnya bukan hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga teman untuk mengusir rasa bosan, sepi, bahkan kegelisahan.

Di tengah dering notifikasi, guliran linimasa yang seolah tidak pernah selesai, dan percakapan di media sosial, ada satu pertanyaan sederhana yang mungkin jarang kita ajukan: ketika kita begitu terbiasa menghindari kesunyian, kapan terakhir kali kita benar-benar memberi waktu untuk bertemu dan berbicara dengan diri sendiri?

Ilusi Koneksi dan Hilangnya Solitude

Mari jujur kepada diri sendiri. Tidak setiap kali kita membuka gawai di sela-sela kesibukan, kita sedang mencari informasi penting atau percakapan yang bermakna.

Sering kali, kita hanya sedang mengisi ruang kosong.

Kita menghindari kesendirian dan keheningan karena di dalam ruang tersebut bisa muncul berbagai pertanyaan yang selama ini kita tunda: Apakah arah hidup saya sudah benar? Mengapa saya merasa lelah padahal tidak banyak melakukan aktivitas? Apakah orang-orang di sekitar saya benar-benar menyayangi saya?

Teknologi menawarkan cara yang mudah untuk mengalihkan perhatian dari pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Dengan satu sentuhan, kita dapat berpindah dari realitas kehidupan sehari-hari menuju dunia digital yang menyediakan hiburan hampir tanpa batas.

Di sinilah kita perlu membedakan dua istilah yang dalam bahasa Inggris memiliki makna berbeda: loneliness dan solitude.

Loneliness atau kesepian lebih dekat dengan perasaan terasing dan kebutuhan akan koneksi yang bermakna. Sementara solitude atau kesendirian merupakan kondisi ketika seseorang memilih untuk mengambil jarak sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan dan menikmati ruang pribadinya.

Keduanya memang sama-sama berbicara tentang berada seorang diri, tetapi pengalaman yang dirasakan bisa sangat berbeda.

Kesepian dapat terasa menyakitkan karena ada kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Sementara kesendirian yang dipilih dengan sadar justru dapat menjadi ruang untuk beristirahat, berpikir, dan mengenali diri sendiri.

Tidak sedikit orang yang justru menemukan ide, inspirasi, atau kejernihan pikiran ketika berada dalam suasana solitude. Dalam keadaan yang lebih tenang, emosi yang sebelumnya terasa berantakan dapat perlahan dipahami dan ditata kembali.

Di tengah kehidupan yang semakin terhubung secara digital, menarik untuk melihat ironi kecil di dalamnya. Teknologi memang dapat membantu manusia tetap terhubung dan mengurangi jarak, tetapi pada saat yang sama, kebiasaan terus-menerus terhubung juga dapat membuat kita kehilangan kesempatan untuk menikmati kesendirian.

Ketika hampir setiap detik diisi dengan cerita orang lain—melalui vlog kehidupan, opini publik, berbagai perdebatan di media sosial, hingga meme yang berganti dalam hitungan detik, ruang untuk mendengarkan pikiran sendiri menjadi semakin sempit.

Tanpa disadari, kita menerima begitu banyak informasi setiap hari. Berbagai gagasan, opini, pengalaman, dan emosi orang lain masuk ke dalam kepala kita silih berganti.

Akibatnya, terkadang kita tidak lagi memiliki cukup waktu untuk berhenti dan bertanya: sebenarnya, apa yang kita pikirkan sendiri?

Pergeseran Validasi: Ketika Pengalaman Pribadi Membutuhkan Penonton

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Kata Netizen
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Kata Netizen
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Kata Netizen
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Kata Netizen
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Kata Netizen
Bandung, Kota yang Memberi Ruang bagi Tumbuhnya Bakat
Bandung, Kota yang Memberi Ruang bagi Tumbuhnya Bakat
Kata Netizen
Bisakah Lelaki dan Perempuan Benar-benar Hanya Bersahabat?
Bisakah Lelaki dan Perempuan Benar-benar Hanya Bersahabat?
Kata Netizen
Hak Cuti ASN, Kebutuhan Pegawai Bertemu Beban Kerja
Hak Cuti ASN, Kebutuhan Pegawai Bertemu Beban Kerja
Kata Netizen
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Kata Netizen
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau