
Ketika dompet digital menawarkan promo di hampir setiap transaksi, berapa banyak e-wallet yang sebenarnya masih perlu kita miliki agar tetap praktis tanpa membuat pengelolaan keuangan ikut rumit?
“Kak, jangan lupa iuran BPJS bulan ini, kalau telat dendanya lumayan. Gas habis, cari yang promo saja. Token listrik sudah berisik, jangan lupa isi.”
Kalimat semacam ini barangkali cukup akrab terdengar di banyak rumah tangga, terutama ketika akhir bulan mulai mendekat. Ada saja kebutuhan yang harus dibayar dan diselesaikan.
Menariknya, satu kata seperti “promo” bisa membuat kita sejenak ikut berpikir. Aplikasi mana, ya, yang sedang memberikan penawaran paling menarik?
Beberapa menit kemudian, jari pun mulai sibuk membuka dua, tiga, bahkan empat aplikasi digital sekaligus. Satu per satu dibandingkan, mulai dari potongan harga, cashback, biaya transaksi, sampai merchant yang bisa digunakan.
Di balik kemudahan tersebut, ada fenomena yang mungkin belum terlalu sering dibicarakan: cashless fatigue. Di satu sisi, transaksi tanpa uang tunai memang membuat banyak hal menjadi lebih praktis. Namun, di sisi lain, semakin banyak aplikasi yang digunakan juga berarti semakin banyak hal yang perlu diperhatikan.
Survei yang dilakukan Cimigo menunjukkan bahwa konsumen di Indonesia rata-rata mengoperasikan dua sampai tiga aplikasi e-wallet yang berbeda. Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menggambarkan penetrasi dompet digital yang telah digunakan oleh lebih dari sepertiga, atau sekitar 33,04 persen, rumah tangga di Indonesia. Secara demografi, pengguna aktif didominasi oleh kalangan Gen Z dan Milenial.
Lebih lanjut, riset Jakpat menemukan bahwa pengguna memanfaatkan multi-e-wallet untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari transfer uang (71 persen), menyimpan uang (52 persen), transaksi belanja langsung (45 persen), hingga membayar makanan dan transportasi.
Bank Indonesia, didukung laporan industri termasuk riset e-wallet nasional oleh Populix dan Katadata Insight Center, juga menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen pengguna e-wallet memiliki lebih dari satu aplikasi pembayaran. Alasannya antara lain mengejar promo, diskon, serta menyesuaikan dengan merchant yang tersedia.
Dalam berbagai momentum, penulis pun mengalami sendiri bahwa berbeda merchant, bisa berbeda pula jenis dompet digital yang dapat digunakan.
Di satu sisi, kondisi tersebut memberikan fleksibilitas. Namun, di sisi lain, semakin banyak aplikasi juga berarti semakin banyak hal yang harus dikelola. Riset tersebut menyebutkan sekitar 50 persen pengguna mengaku merasa kewalahan mengelola banyaknya aplikasi finansial dalam satu waktu.
Bayangkan saja, untuk membayar tagihan listrik kita menemukan promo yang lebih murah di aplikasi A. Sementara itu, untuk kebutuhan lain, aplikasi tersebut justru kurang memberikan keuntungan dibandingkan aplikasi B atau C.
Pada titik tertentu, kemudahan yang seharusnya membantu justru bisa membuat kita sibuk membandingkan berbagai pilihan.
Bukan Lagi Sekadar Kebutuhan
Transformasi digital dalam transaksi keuangan terus berkembang. Hal ini antara lain terlihat dari penggunaan dompet digital yang disebut telah menjangkau sekitar 92 persen masyarakat Indonesia. Nilai transaksinya pun tidak kecil, diperkirakan mencapai Rp712 triliun dengan volume 15,8 miliar transaksi.
Perubahan ini juga mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Warung hingga pedagang jajanan di sekitar kawasan Palmerah, misalnya, semakin banyak yang menyediakan kode barcode untuk pembayaran. Sebelum membeli, pertanyaan yang otomatis muncul dari pelanggan bisa jadi, “Bisa bayar pakai QRIS, Pak?” atau “Kalau pakai (sebut nama dompet digital yang digunakan), bisa?”
Ketika pilihan pembayaran digital semakin luas, sebagian konsumen pun akhirnya terbiasa memilih pedagang yang menyediakan metode pembayaran yang mereka inginkan.
Dari sini, terbentuklah ekosistem yang menarik. Aplikasi A digunakan untuk mengejar promo makanan, aplikasi B untuk transportasi, aplikasi C untuk membayar aneka cicilan, sementara aplikasi D khusus untuk membayar tagihan karena menawarkan bonus atau cashback bagi pelanggan.
Promo menjadi salah satu daya tarik utama. Diskon menawarkan harga yang lebih ringan, sedangkan cashback memberikan insentif untuk kembali bertransaksi.
Masalahnya, semakin banyak pilihan tidak selalu berarti semakin sederhana.
Pada akhirnya, seseorang bisa saja mengunduh sebuah aplikasi bukan karena memang membutuhkan layanan tersebut dalam jangka panjang, melainkan karena ada keuntungan yang terasa menarik saat itu. Pertimbangannya sederhana: apa keuntungannya, berapa potongan harganya, berapa cashback yang bisa diperoleh?
Lantas, sebenarnya berapa banyak dompet digital yang ideal untuk dimiliki?