Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Erinintyani Shabrina
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Erinintyani Shabrina adalah seorang yang berprofesi sebagai Editor. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?

Kompas.com, 16 September 2026, 16:03 WIB

Ketika dompet digital menawarkan promo di hampir setiap transaksi, berapa banyak e-wallet yang sebenarnya masih perlu kita miliki agar tetap praktis tanpa membuat pengelolaan keuangan ikut rumit?

“Kak, jangan lupa iuran BPJS bulan ini, kalau telat dendanya lumayan. Gas habis, cari yang promo saja. Token listrik sudah berisik, jangan lupa isi.”

Kalimat semacam ini barangkali cukup akrab terdengar di banyak rumah tangga, terutama ketika akhir bulan mulai mendekat. Ada saja kebutuhan yang harus dibayar dan diselesaikan.

Menariknya, satu kata seperti “promo” bisa membuat kita sejenak ikut berpikir. Aplikasi mana, ya, yang sedang memberikan penawaran paling menarik?

Beberapa menit kemudian, jari pun mulai sibuk membuka dua, tiga, bahkan empat aplikasi digital sekaligus. Satu per satu dibandingkan, mulai dari potongan harga, cashback, biaya transaksi, sampai merchant yang bisa digunakan.

Di balik kemudahan tersebut, ada fenomena yang mungkin belum terlalu sering dibicarakan: cashless fatigue. Di satu sisi, transaksi tanpa uang tunai memang membuat banyak hal menjadi lebih praktis. Namun, di sisi lain, semakin banyak aplikasi yang digunakan juga berarti semakin banyak hal yang perlu diperhatikan.

Survei yang dilakukan Cimigo menunjukkan bahwa konsumen di Indonesia rata-rata mengoperasikan dua sampai tiga aplikasi e-wallet yang berbeda. Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menggambarkan penetrasi dompet digital yang telah digunakan oleh lebih dari sepertiga, atau sekitar 33,04 persen, rumah tangga di Indonesia. Secara demografi, pengguna aktif didominasi oleh kalangan Gen Z dan Milenial.

Lebih lanjut, riset Jakpat menemukan bahwa pengguna memanfaatkan multi-e-wallet untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari transfer uang (71 persen), menyimpan uang (52 persen), transaksi belanja langsung (45 persen), hingga membayar makanan dan transportasi.

Bank Indonesia, didukung laporan industri termasuk riset e-wallet nasional oleh Populix dan Katadata Insight Center, juga menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen pengguna e-wallet memiliki lebih dari satu aplikasi pembayaran. Alasannya antara lain mengejar promo, diskon, serta menyesuaikan dengan merchant yang tersedia.

Dalam berbagai momentum, penulis pun mengalami sendiri bahwa berbeda merchant, bisa berbeda pula jenis dompet digital yang dapat digunakan.

Di satu sisi, kondisi tersebut memberikan fleksibilitas. Namun, di sisi lain, semakin banyak aplikasi juga berarti semakin banyak hal yang harus dikelola. Riset tersebut menyebutkan sekitar 50 persen pengguna mengaku merasa kewalahan mengelola banyaknya aplikasi finansial dalam satu waktu.

Bayangkan saja, untuk membayar tagihan listrik kita menemukan promo yang lebih murah di aplikasi A. Sementara itu, untuk kebutuhan lain, aplikasi tersebut justru kurang memberikan keuntungan dibandingkan aplikasi B atau C.

Pada titik tertentu, kemudahan yang seharusnya membantu justru bisa membuat kita sibuk membandingkan berbagai pilihan.

Bukan Lagi Sekadar Kebutuhan

Transformasi digital dalam transaksi keuangan terus berkembang. Hal ini antara lain terlihat dari penggunaan dompet digital yang disebut telah menjangkau sekitar 92 persen masyarakat Indonesia. Nilai transaksinya pun tidak kecil, diperkirakan mencapai Rp712 triliun dengan volume 15,8 miliar transaksi.

Perubahan ini juga mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Warung hingga pedagang jajanan di sekitar kawasan Palmerah, misalnya, semakin banyak yang menyediakan kode barcode untuk pembayaran. Sebelum membeli, pertanyaan yang otomatis muncul dari pelanggan bisa jadi, “Bisa bayar pakai QRIS, Pak?” atau “Kalau pakai (sebut nama dompet digital yang digunakan), bisa?”

Ketika pilihan pembayaran digital semakin luas, sebagian konsumen pun akhirnya terbiasa memilih pedagang yang menyediakan metode pembayaran yang mereka inginkan.

Dari sini, terbentuklah ekosistem yang menarik. Aplikasi A digunakan untuk mengejar promo makanan, aplikasi B untuk transportasi, aplikasi C untuk membayar aneka cicilan, sementara aplikasi D khusus untuk membayar tagihan karena menawarkan bonus atau cashback bagi pelanggan.

Promo menjadi salah satu daya tarik utama. Diskon menawarkan harga yang lebih ringan, sedangkan cashback memberikan insentif untuk kembali bertransaksi.

Masalahnya, semakin banyak pilihan tidak selalu berarti semakin sederhana.

Pada akhirnya, seseorang bisa saja mengunduh sebuah aplikasi bukan karena memang membutuhkan layanan tersebut dalam jangka panjang, melainkan karena ada keuntungan yang terasa menarik saat itu. Pertimbangannya sederhana: apa keuntungannya, berapa potongan harganya, berapa cashback yang bisa diperoleh?

Lantas, sebenarnya berapa banyak dompet digital yang ideal untuk dimiliki?

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Kata Netizen
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Kata Netizen
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Kata Netizen
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Kata Netizen
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Kata Netizen
Bandung, Kota yang Memberi Ruang bagi Tumbuhnya Bakat
Bandung, Kota yang Memberi Ruang bagi Tumbuhnya Bakat
Kata Netizen
Bisakah Lelaki dan Perempuan Benar-benar Hanya Bersahabat?
Bisakah Lelaki dan Perempuan Benar-benar Hanya Bersahabat?
Kata Netizen
Hak Cuti ASN, Kebutuhan Pegawai Bertemu Beban Kerja
Hak Cuti ASN, Kebutuhan Pegawai Bertemu Beban Kerja
Kata Netizen
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Kata Netizen
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
Kata Netizen
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Kata Netizen
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Kata Netizen
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Kata Netizen
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau