
Ketika kabar buruk datang hampir setiap hari, apakah menjaga kesehatan mental berarti mengambil jarak dari semua informasi yang melelahkan, atau justru belajar tetap tenang agar kita mampu melihat kenyataan dan meresponsnya dengan lebih jernih?
Dunia digital belakangan ramai membicarakan unggahan video Maudy Ayunda yang membagikan sejumlah pandangan mengenai cara merawat kesehatan mental melalui konten bertajuk Mindfulness in the Age of Bad News.
Di tengah derasnya kabar buruk, mulai dari persoalan ekonomi, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), hingga dinamika politik yang melelahkan, ia mengajak audiens untuk lebih memperhatikan asupan informasi.
Beberapa sarannya antara lain membatasi informasi yang dikonsumsi, melakukan kurasi terhadap konten yang dibaca, hingga menentukan batas kapan seseorang perlu berhenti mengikuti arus informasi, yang dalam videonya disebut sebagai stop at 15th content.
Secara umum, gagasan untuk mengatur paparan informasi bukanlah sesuatu yang asing dalam upaya menjaga kesehatan mental. Di tengah arus informasi yang begitu cepat, mengambil jeda dapat membantu seseorang mengurangi rasa kewalahan dan memberi ruang untuk memulihkan perhatian.
Namun, respons terhadap unggahan tersebut berkembang menjadi perdebatan yang lebih luas. Sejumlah netizen dan pengamat sosial mengkritik cara pesan tersebut disampaikan dan mempertanyakan relevansinya dengan kondisi masyarakat yang menghadapi persoalan sosial secara langsung.
Salah satu istilah yang kemudian muncul dalam perdebatan adalah tone deafness, yakni anggapan bahwa sebuah pesan kurang peka terhadap situasi atau pengalaman yang sedang dirasakan kelompok masyarakat tertentu.
Lalu, mengapa ajakan untuk melakukan self-care dan mindfulness justru dapat memunculkan perdebatan ketika disampaikan di tengah situasi sosial yang penuh tekanan?
Persoalannya barangkali bukan pada ajakan untuk menenangkan pikiran, bermeditasi, atau mengambil jeda dari informasi.
Yang menarik untuk dibicarakan justru adalah bagaimana konsep mindfulness dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di ruang publik modern, mindfulness terkadang dipersempit menjadi cara untuk membuat diri merasa lebih tenang dengan mengurangi paparan terhadap hal-hal yang tidak menyenangkan. Padahal, kesadaran diri tidak selalu harus berujung pada menjauh dari realitas.
Ada perbedaan antara mengambil jarak agar kita dapat bernapas dan mengambil jarak untuk tidak lagi melihat apa yang terjadi di sekitar kita.
Di sinilah perbincangan mengenai mindfulness menjadi lebih kompleks. Ketika ketenangan batin hanya dipahami sebagai kemampuan menghindari hal-hal yang membuat tidak nyaman, self-care berisiko berubah menjadi bentuk pelarian.
Anatomi McMindfulness: Ketika Ketenangan Batin Menjadi Komoditas
Dalam kajian mengenai budaya populer, terdapat istilah McMindfulness yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana praktik kesadaran dapat dikemas dan dipasarkan sebagai bagian dari gaya hidup.
Istilah tersebut merujuk pada proses ketika praktik mindfulness dilepaskan dari konteks spiritual dan reflektifnya, kemudian dikemas menjadi solusi yang praktis dan mudah dikonsumsi untuk menghadapi tekanan kehidupan modern.
Dalam bentuk tertentu, mindfulness kemudian dipasarkan sebagai cara untuk mendapatkan ketenangan dengan cepat di tengah kelelahan yang juga berkaitan dengan kondisi kehidupan yang lebih luas.
Salah satu persoalan yang sering dibicarakan dalam kritik terhadap McMindfulness adalah kecenderungannya melihat masalah terutama sebagai persoalan individu.
Seolah-olah setiap orang memiliki kemampuan yang sama untuk mengatur kehidupannya, mengelola stres, dan mengambil jarak dari persoalan yang sedang dihadapi.
Padahal, pengalaman setiap orang dalam menghadapi kabar buruk tentu berbeda.
Bagi seseorang yang memiliki kondisi ekonomi cukup mapan, berita tentang kenaikan harga beras, perubahan subsidi, atau dinamika pasar kerja mungkin terasa sebagai informasi yang perlu diketahui, tetapi tidak selalu berdampak langsung pada kebutuhan sehari-hari.
Dalam kondisi tersebut, membatasi konsumsi berita atau melakukan digital detox bisa menjadi salah satu pilihan untuk menjaga keseimbangan emosional.
Namun, bagi buruh harian, pekerja dengan pendapatan tidak tetap, atau keluarga yang sangat bergantung pada penghasilan bulanan, kabar mengenai harga kebutuhan pokok, kebijakan pemerintah, maupun kondisi pasar kerja bisa memiliki konsekuensi yang jauh lebih nyata.
Kabar buruk bukan sekadar informasi yang mengganggu suasana hati.
Ia bisa berkaitan dengan pertanyaan yang sangat konkret: apakah pendapatan bulan depan masih cukup, apakah pekerjaan masih tersedia, bagaimana membayar kebutuhan rumah tangga, dan bagaimana memastikan dapur tetap mengepul.
Dalam kondisi seperti ini, memilih untuk tidak membaca berita tentu bukan perkara yang sesederhana menekan tombol mute atau unfollow.
Ada realitas yang memang harus tetap diikuti karena berhubungan langsung dengan kehidupan.
Di titik inilah kita perlu berhati-hati ketika berbicara mengenai mindfulness. Saran untuk mengurangi konsumsi berita dapat bermanfaat bagi sebagian orang, tetapi tidak selalu dapat dilepaskan dari kondisi sosial dan ekonomi orang yang menerimanya.