Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Pekik Aulia Rochman
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Pekik Aulia Rochman adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk

Kompas.com, 20 September 2026, 16:02 WIB

Ketika kabar buruk datang hampir setiap hari, apakah menjaga kesehatan mental berarti mengambil jarak dari semua informasi yang melelahkan, atau justru belajar tetap tenang agar kita mampu melihat kenyataan dan meresponsnya dengan lebih jernih?

Dunia digital belakangan ramai membicarakan unggahan video Maudy Ayunda yang membagikan sejumlah pandangan mengenai cara merawat kesehatan mental melalui konten bertajuk Mindfulness in the Age of Bad News.

Di tengah derasnya kabar buruk, mulai dari persoalan ekonomi, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), hingga dinamika politik yang melelahkan, ia mengajak audiens untuk lebih memperhatikan asupan informasi.

Beberapa sarannya antara lain membatasi informasi yang dikonsumsi, melakukan kurasi terhadap konten yang dibaca, hingga menentukan batas kapan seseorang perlu berhenti mengikuti arus informasi, yang dalam videonya disebut sebagai stop at 15th content.

Secara umum, gagasan untuk mengatur paparan informasi bukanlah sesuatu yang asing dalam upaya menjaga kesehatan mental. Di tengah arus informasi yang begitu cepat, mengambil jeda dapat membantu seseorang mengurangi rasa kewalahan dan memberi ruang untuk memulihkan perhatian.

Namun, respons terhadap unggahan tersebut berkembang menjadi perdebatan yang lebih luas. Sejumlah netizen dan pengamat sosial mengkritik cara pesan tersebut disampaikan dan mempertanyakan relevansinya dengan kondisi masyarakat yang menghadapi persoalan sosial secara langsung.

Salah satu istilah yang kemudian muncul dalam perdebatan adalah tone deafness, yakni anggapan bahwa sebuah pesan kurang peka terhadap situasi atau pengalaman yang sedang dirasakan kelompok masyarakat tertentu.

Lalu, mengapa ajakan untuk melakukan self-care dan mindfulness justru dapat memunculkan perdebatan ketika disampaikan di tengah situasi sosial yang penuh tekanan?

Persoalannya barangkali bukan pada ajakan untuk menenangkan pikiran, bermeditasi, atau mengambil jeda dari informasi.

Yang menarik untuk dibicarakan justru adalah bagaimana konsep mindfulness dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di ruang publik modern, mindfulness terkadang dipersempit menjadi cara untuk membuat diri merasa lebih tenang dengan mengurangi paparan terhadap hal-hal yang tidak menyenangkan. Padahal, kesadaran diri tidak selalu harus berujung pada menjauh dari realitas.

Ada perbedaan antara mengambil jarak agar kita dapat bernapas dan mengambil jarak untuk tidak lagi melihat apa yang terjadi di sekitar kita.

Di sinilah perbincangan mengenai mindfulness menjadi lebih kompleks. Ketika ketenangan batin hanya dipahami sebagai kemampuan menghindari hal-hal yang membuat tidak nyaman, self-care berisiko berubah menjadi bentuk pelarian.

Anatomi McMindfulness: Ketika Ketenangan Batin Menjadi Komoditas

Dalam kajian mengenai budaya populer, terdapat istilah McMindfulness yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana praktik kesadaran dapat dikemas dan dipasarkan sebagai bagian dari gaya hidup.

Istilah tersebut merujuk pada proses ketika praktik mindfulness dilepaskan dari konteks spiritual dan reflektifnya, kemudian dikemas menjadi solusi yang praktis dan mudah dikonsumsi untuk menghadapi tekanan kehidupan modern.

Dalam bentuk tertentu, mindfulness kemudian dipasarkan sebagai cara untuk mendapatkan ketenangan dengan cepat di tengah kelelahan yang juga berkaitan dengan kondisi kehidupan yang lebih luas.

Salah satu persoalan yang sering dibicarakan dalam kritik terhadap McMindfulness adalah kecenderungannya melihat masalah terutama sebagai persoalan individu.

Seolah-olah setiap orang memiliki kemampuan yang sama untuk mengatur kehidupannya, mengelola stres, dan mengambil jarak dari persoalan yang sedang dihadapi.

Padahal, pengalaman setiap orang dalam menghadapi kabar buruk tentu berbeda.

Bagi seseorang yang memiliki kondisi ekonomi cukup mapan, berita tentang kenaikan harga beras, perubahan subsidi, atau dinamika pasar kerja mungkin terasa sebagai informasi yang perlu diketahui, tetapi tidak selalu berdampak langsung pada kebutuhan sehari-hari.

Dalam kondisi tersebut, membatasi konsumsi berita atau melakukan digital detox bisa menjadi salah satu pilihan untuk menjaga keseimbangan emosional.

Namun, bagi buruh harian, pekerja dengan pendapatan tidak tetap, atau keluarga yang sangat bergantung pada penghasilan bulanan, kabar mengenai harga kebutuhan pokok, kebijakan pemerintah, maupun kondisi pasar kerja bisa memiliki konsekuensi yang jauh lebih nyata.

Kabar buruk bukan sekadar informasi yang mengganggu suasana hati.

Ia bisa berkaitan dengan pertanyaan yang sangat konkret: apakah pendapatan bulan depan masih cukup, apakah pekerjaan masih tersedia, bagaimana membayar kebutuhan rumah tangga, dan bagaimana memastikan dapur tetap mengepul.

Dalam kondisi seperti ini, memilih untuk tidak membaca berita tentu bukan perkara yang sesederhana menekan tombol mute atau unfollow.

Ada realitas yang memang harus tetap diikuti karena berhubungan langsung dengan kehidupan.

Di titik inilah kita perlu berhati-hati ketika berbicara mengenai mindfulness. Saran untuk mengurangi konsumsi berita dapat bermanfaat bagi sebagian orang, tetapi tidak selalu dapat dilepaskan dari kondisi sosial dan ekonomi orang yang menerimanya.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Kata Netizen
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Kata Netizen
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Kata Netizen
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Kata Netizen
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Kata Netizen
Bandung, Kota yang Memberi Ruang bagi Tumbuhnya Bakat
Bandung, Kota yang Memberi Ruang bagi Tumbuhnya Bakat
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau