
Bagaimana generasi muda memandang profesi guru ketika mereka juga harus memikirkan penghasilan, beban kerja, jenjang karier, dan kehidupan yang layak?
Apalagi itu terpatri dengan pertanyaan-pertanyaan semasa kecil soal cita-cita. Jawaban tersebut lahir dari kepolosan dan rasa kagum. Cita-cita pada masa kanak-kanak biasanya berbicara tentang apa yang ingin kita lakukan dan siapa yang ingin kita tiru.
Namun, ketika anak-anak itu tumbuh dewasa dan memegang ijazah perguruan tinggi, pertanyaannya perlahan bergeser.
“Pekerjaan apa yang dapat menopang hidup saya secara layak?”
Pertanyaan ketika dewasa tidak lagi hanya berbicara tentang romantisme atau idealisme, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menjalani kehidupannya. Di antara dua pertanyaan itulah dinamika dan dilema profesi guru hari ini berada.
Pergeseran Cara Pandang Generasi Baru
Dahulu, menjadi guru merupakan identitas sosial yang cukup kuat. Profesi ini lekat dengan status sosial, keteladanan, pengabdian, dan penghormatan masyarakat.
Hari ini, generasi baru mungkin melihat profesi dengan pertimbangan yang lebih beragam. Lulusan perguruan tinggi melangkah ke dunia kerja dengan kalkulasi yang lebih nyata.
Oleh karena itu, pertanyaannya kemudian menjadi lebih luas: apakah masyarakat dan pemerintah telah menjadikan profesi guru sebagai pilihan hidup yang cukup layak bagi generasi berikutnya?
Antara Penghormatan Simbolik dan Realitas Kerja
Ada sebuah jarak yang kerap muncul dalam percakapan mengenai profesi guru. Di satu sisi, guru ditempatkan pada posisi yang sangat mulia.
Kalimat-kalimat seperti guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, guru itu digugu dan ditiru, atau guru adalah pelita yang menerangi masa depan, selalu muncul ketika kita berbicara tentang pendidikan.
Namun, pada saat yang sama, ada kenyataan lain yang juga perlu dibicarakan, yaitu kondisi kerja yang dihadapi guru sehari-hari.
Ungkapan bahwa guru merupakan profesi mulia berbicara mengenai makna. Sementara keputusan seseorang dalam memilih karier juga berkaitan dengan struktur kerja: kesejahteraan, perlindungan kerja, beban tugas, serta kepastian masa depan.
Keduanya merupakan hal yang berbeda dan semestinya tidak dipertentangkan.
Ketika masyarakat atau institusi terlalu sering menempatkan “keikhlasan” sebagai jawaban atas berbagai persoalan yang dihadapi guru, pembicaraan mengenai kesejahteraan dan sistem kerja justru bisa terabaikan.
Keikhlasan merupakan nilai moral pribadi. Namun, keikhlasan semestinya tidak menggantikan kebutuhan akan kesejahteraan yang layak dan sistem kerja yang sehat.
Profesionalisme juga tidak selalu berarti pengorbanan tanpa batas. Seorang guru dapat menjalankan pekerjaannya dengan penuh dedikasi sekaligus memiliki hak untuk memperoleh penghargaan yang layak atas pekerjaan yang dilakukannya.
Lalu, mengapa keikhlasan perlu ditempatkan secara tepat, dan mengapa profesionalisme tidak seharusnya selalu dikaitkan dengan pengorbanan tanpa batas?
Ketika Narasi Pengabdian Berhadapan dengan Relasi Kerja
Ketika negara atau institusi pendidikan menggunakan narasi “pengabdian” dan “keikhlasan” dalam membicarakan persoalan gaji atau beban kerja, ada risiko munculnya ketidakseimbangan dalam relasi kerja.