Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Achmad Saifullah Syahid
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Achmad Saifullah Syahid adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan

Kompas.com, 20 September 2026, 20:41 WIB

Bagaimana generasi muda memandang profesi guru ketika mereka juga harus memikirkan penghasilan, beban kerja, jenjang karier, dan kehidupan yang layak?

Apalagi itu terpatri dengan pertanyaan-pertanyaan semasa kecil soal cita-cita. Jawaban tersebut lahir dari kepolosan dan rasa kagum. Cita-cita pada masa kanak-kanak biasanya berbicara tentang apa yang ingin kita lakukan dan siapa yang ingin kita tiru.

Namun, ketika anak-anak itu tumbuh dewasa dan memegang ijazah perguruan tinggi, pertanyaannya perlahan bergeser.

“Pekerjaan apa yang dapat menopang hidup saya secara layak?”

Pertanyaan ketika dewasa tidak lagi hanya berbicara tentang romantisme atau idealisme, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menjalani kehidupannya. Di antara dua pertanyaan itulah dinamika dan dilema profesi guru hari ini berada.

Pergeseran Cara Pandang Generasi Baru

Dahulu, menjadi guru merupakan identitas sosial yang cukup kuat. Profesi ini lekat dengan status sosial, keteladanan, pengabdian, dan penghormatan masyarakat.

Hari ini, generasi baru mungkin melihat profesi dengan pertimbangan yang lebih beragam. Lulusan perguruan tinggi melangkah ke dunia kerja dengan kalkulasi yang lebih nyata.

Oleh karena itu, pertanyaannya kemudian menjadi lebih luas: apakah masyarakat dan pemerintah telah menjadikan profesi guru sebagai pilihan hidup yang cukup layak bagi generasi berikutnya?

Antara Penghormatan Simbolik dan Realitas Kerja

Ada sebuah jarak yang kerap muncul dalam percakapan mengenai profesi guru. Di satu sisi, guru ditempatkan pada posisi yang sangat mulia.

Kalimat-kalimat seperti guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, guru itu digugu dan ditiru, atau guru adalah pelita yang menerangi masa depan, selalu muncul ketika kita berbicara tentang pendidikan.

Namun, pada saat yang sama, ada kenyataan lain yang juga perlu dibicarakan, yaitu kondisi kerja yang dihadapi guru sehari-hari.

Ungkapan bahwa guru merupakan profesi mulia berbicara mengenai makna. Sementara keputusan seseorang dalam memilih karier juga berkaitan dengan struktur kerja: kesejahteraan, perlindungan kerja, beban tugas, serta kepastian masa depan.

Keduanya merupakan hal yang berbeda dan semestinya tidak dipertentangkan.

Ketika masyarakat atau institusi terlalu sering menempatkan “keikhlasan” sebagai jawaban atas berbagai persoalan yang dihadapi guru, pembicaraan mengenai kesejahteraan dan sistem kerja justru bisa terabaikan.

Keikhlasan merupakan nilai moral pribadi. Namun, keikhlasan semestinya tidak menggantikan kebutuhan akan kesejahteraan yang layak dan sistem kerja yang sehat.

Profesionalisme juga tidak selalu berarti pengorbanan tanpa batas. Seorang guru dapat menjalankan pekerjaannya dengan penuh dedikasi sekaligus memiliki hak untuk memperoleh penghargaan yang layak atas pekerjaan yang dilakukannya.

Lalu, mengapa keikhlasan perlu ditempatkan secara tepat, dan mengapa profesionalisme tidak seharusnya selalu dikaitkan dengan pengorbanan tanpa batas?

Ketika Narasi Pengabdian Berhadapan dengan Relasi Kerja

Ketika negara atau institusi pendidikan menggunakan narasi “pengabdian” dan “keikhlasan” dalam membicarakan persoalan gaji atau beban kerja, ada risiko munculnya ketidakseimbangan dalam relasi kerja.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Kata Netizen
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Kata Netizen
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Kata Netizen
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Kata Netizen
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Kata Netizen
Bandung, Kota yang Memberi Ruang bagi Tumbuhnya Bakat
Bandung, Kota yang Memberi Ruang bagi Tumbuhnya Bakat
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau