
Seperti apa rasanya mencoba jogging malam di tengah ramainya Stadion Manahan, ketika selama bertahun-tahun kita lebih akrab dengan jalan pagi dan suasana yang tenang?
Setelah Magrib, duduk di risban teras rumah sambil menikmati kopi hitam tanpa gula adalah salah satu waktu yang saya sukai. Sambil menyeruput pelan, biasanya saya mulai mereka-reka ide untuk tulisan baru.
Siluet Merapi dan Merbabu yang sejak sore menggantung di ufuk barat perlahan semakin samar. Senja, seperti biasa, pergi tanpa perlu meminta izin.
Tiba-tiba, ponsel dengan layar 6,1 inci di samping saya bergetar. Telepon dari Solo.
“Halo Mas Wahyu, ada apakah?” tanya saya.
“Pak Budi masih rutin jalan-jalan?” Pertanyaan itu justru dijawab dengan pertanyaan.
“Masih, tiap pagi.”
“Sinio Pak Bud. Jogging malam. Manahan rame banget.”
“Gasss. Nunggu di mana?”
“Shelter barat Stadion Manahan.”
Pukul setengah tujuh malam saya berangkat dari Pengging. Sekitar pukul tujuh, saya tiba di lokasi.
Mas Wahyu sudah menunggu di warung wedang ronde dekat sekolah internasional tempat saya dulu bekerja. Tiga orang temannya juga ikut nongkrong di sana.
Area shelter terlihat ramai. Parkiran motor penuh. Orang-orang lalu-lalang tanpa jeda. Ada yang jogging, ada yang berjalan santai, ada pula yang sekadar duduk menikmati suasana malam.
Dari pakaian yang dikenakan, sebagian besar memang datang untuk berolahraga.
“Nongkrong dulu Pak Bud, cari vitamin A,” kata penjual ronde sambil tersenyum.