Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Diantika IE
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Diantika IE adalah seorang yang berprofesi sebagai Penulis. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Siapa Sangka, Tanaman dari Pinggir Sungai Ini Bernama Hoya

Kompas.com, 29 Oktober 2026, 14:26 WIB

Menemukan tanaman liar di pinggir sungai, ternyata itu adalah tanaman hias. Bagaimana jika tanaman yang selama ini tumbuh begitu saja di rumah ternyata sedang diminati para pencinta tanaman, dan apa yang perlu diperhatikan agar tanaman tersebut dapat tumbuh dengan baik?

Entah kebetulan atau memang sudah menjadi kebiasaan, saya senang berburu tanaman unik untuk dibawa pulang dan ditanam di rumah. Beruntung, suami juga mulai menyukai tanaman. Jadi, ketika menemukan tumbuhan dengan bentuk yang tidak biasa, kami sering kali tergoda untuk membawanya pulang dan mencoba merawatnya.

Siapa sangka, salah satu tanaman yang kami bawa pulang setelah berjalan-jalan ke sungai ternyata termasuk tanaman hias yang belakangan ini sedang naik daun. Namanya hoya.

Mengenal Tanaman Hoya yang Sedang Naik Daun

Beberapa waktu lalu, saat menonton tayangan YouTube, kami menemukan pembahasan tentang tanaman hoya yang sedang populer di kalangan pencinta tanaman hias. Kami memang senang menyimak tutorial atau video yang membahas berbagai jenis tumbuhan, terlebih jika ada tanaman unik yang belum kami kenal namanya.

Dari tayangan tersebut, kami mengetahui bahwa harga beberapa jenis hoya cukup tinggi, terutama tanaman yang sulurnya sudah panjang dan memiliki banyak daun.

Kami pun langsung tercengang dan berseru, "Oh, ini namanya hoya!"

Kurang lebih seperti itulah reaksi kami saat itu. Kami saling memandang, lalu memperhatikan tanaman yang selama ini tumbuh di rumah dengan perasaan senang.

Saya mencoba mencocokkan ciri-ciri tanaman yang ditampilkan dalam video dengan tumbuhan yang pernah kami temukan di pinggir sungai. Ingatan saya juga kembali pada masa ketika masih sering menjelajahi hutan di Ciamis bersama ayah. Saat itu, saya pernah melihat tanaman yang bentuknya serupa.

Setelah memperhatikan bentuk daun dan kebiasaan tumbuhnya, kami menduga bahwa tanaman yang kami miliki memang termasuk hoya. Meski demikian, saya masih ingin memastikan jenis atau spesiesnya karena hoya memiliki banyak jenis dengan karakteristik yang berbeda-beda.

Tentu saja, rasanya menyenangkan akhirnya mengetahui nama tanaman yang selama ini kami rawat tanpa benar-benar mengenal identitasnya.

Hoya dikenal dengan sebutan wax plant atau tanaman lilin. Sebutan ini berkaitan dengan daun dan bunga sejumlah jenis hoya yang terlihat tebal, mengilap, dan seolah-olah dilapisi lilin. Bunganya juga memiliki bentuk khas, bahkan beberapa jenis mengeluarkan aroma harum yang mengingatkan pada melati atau aroma manis lainnya.

Tidak mengherankan jika hoya semakin diminati sebagai tanaman hias. Selain memiliki bentuk yang menarik, tanaman ini relatif mudah dirawat apabila kebutuhan tumbuhnya dipahami. Meski begitu, kebutuhan cahaya, kelembapan, dan media tanam tetap perlu disesuaikan dengan jenis hoya yang dipelihara.

Menemukan Hoya di Pinggir Sungai yang Masih Rimbun

Tanaman hoya yang kami bawa pulang tumbuh menempel pada pohon beringin besar di pinggir sungai. Kawasan tersebut masih cukup rimbun, menyerupai hutan kecil yang tidak banyak tersentuh aktivitas manusia.

Beberapa tetangga bahkan sempat mengingatkan kami agar tidak bermain ke kawasan tersebut. Menurut mereka, di sana terdapat sumber air dan daerahnya jarang dilewati orang.

Namun, namanya juga penyuka tanaman unik. Rasa penasaran terkadang lebih besar daripada rasa takut. Kami pun memberanikan diri menjelajahi kawasan tersebut hingga akhirnya menemukan tumbuhan yang menarik perhatian.

Siapa sangka, keputusan membawa pulang tanaman itu justru menjadi pengalaman menyenangkan yang masih kami ingat hingga sekarang.

Secara alami, banyak jenis hoya tumbuh sebagai epifit, yaitu tanaman yang menempel pada batang atau cabang pohon lain. Meski menumpang, tanaman epifit tidak mengambil makanan dari pohon yang ditumpanginya seperti tanaman parasit. Pohon tersebut menjadi tempat bertumpu, sedangkan air dan nutrisi diperoleh dari lingkungan sekitar.

Habitat alami hoya cukup beragam, mulai dari hutan tropis yang lembap hingga kawasan dengan kondisi cahaya dan sirkulasi udara tertentu. Sebagian jenis tumbuh merambat di antara pepohonan. Karena itu, keberadaannya terkadang luput dari perhatian orang yang melintas.

Tanaman Hoya Tumbuh di Dinding Kolam Ikan

Pada awalnya, kami masih bingung menentukan cara menanam hoya yang ditemukan di pinggir sungai tersebut.

Suami kemudian meletakkannya di sebuah pot batu yang sengaja dibuat pada dinding relief kolam kecil di rumah kami. Kolam ikan koi itu bahkan sampai sekarang belum dicat karena memang kami ingin membiarkannya hingga lumut tumbuh secara alami.

Hoya tersebut ditanam begitu saja menggunakan sedikit tanah, cocopeat, dan serbuk sisa pakis. Kami memperlakukannya hampir sama seperti ketika mencoba menanam pakis sebelumnya. Tidak ada perlakuan khusus. Kami hanya menempatkannya di lokasi yang teduh dan menyiramnya ketika diperlukan.

Ternyata, tanaman itu tetap tumbuh. Sulurnya perlahan memanjang dan jumlah daunnya semakin bertambah.

Kebahagiaan saya pun bertambah setelah mengetahui bahwa tanaman yang selama ini kami rawat ternyata termasuk hoya, tanaman hias yang sedang banyak dibicarakan.

Kini, saya semakin penasaran dan ingin bersabar menunggu hingga tanaman ini berbunga. Semoga suatu hari nanti saya juga bisa menemukan jenis hoya lainnya untuk menambah koleksi, sebab masih banyak hoya cantik yang ingin saya kenal lebih jauh.

Cara Menanam dan Merawat Tanaman Hoya di Rumah

Bagi yang tertarik menanam hoya di pekarangan atau halaman rumah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pengalaman saya menunjukkan bahwa tanaman ini dapat tumbuh tanpa perawatan yang rumit. Namun, bukan berarti kebutuhan dasarnya boleh diabaikan.

1. Pilih media tanam yang memiliki banyak rongga udara

Media tanam menjadi salah satu hal penting dalam perawatan hoya. Akarnya membutuhkan sirkulasi udara yang baik dan tidak menyukai kondisi terlalu basah dalam waktu lama.

Kita bisa menggunakan campuran media berpori, seperti kulit pinus, batu apung, dan bahan lain yang sesuai. Cocopeat juga dapat digunakan sebagai salah satu campuran, tetapi sebaiknya tidak mendominasi media hingga membuatnya terlalu lama menahan air.

Saya sendiri menanam hoya di pot batu pada dinding semen menggunakan sedikit tanah, cocopeat, dan serbuk sisa pakis. Meski media tersebut sederhana, tanaman kami tetap tumbuh.

Pengalaman ini tentu tidak berarti semua hoya akan tumbuh baik dengan komposisi media yang sama. Kondisi lingkungan dan kebutuhan setiap jenis tanaman tetap perlu diperhatikan.

2. Tempatkan di lokasi terang, tetapi hindari terik berlebihan

Hoya umumnya menyukai cahaya terang tidak langsung. Artinya, tanaman tetap memperoleh cukup cahaya untuk tumbuh, tetapi tidak terus-menerus terpapar sinar matahari terik yang berisiko membuat daunnya terbakar.

Lokasi di atas kolam ikan koi milik kami cukup teduh, tetapi masih mendapatkan cahaya dari lingkungan sekitar. Sejauh ini, kondisi tersebut mendukung pertumbuhan hoya yang kami pelihara.

Jika daun mulai menguning atau tampak seperti terbakar, kita perlu memeriksa kembali pencahayaan, penyiraman, dan kondisi akar. Jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa penyebabnya hanya paparan sinar matahari, sebab beberapa masalah perawatan dapat menimbulkan gejala yang serupa.

3. Bisa ditanam di pot atau ditempel pada pohon

Tanaman hoya dapat ditanam di pot dengan lubang drainase yang memadai. Pilih pot sesuai ukuran akar dan hindari penggunaan pot yang terlalu besar. Media dalam pot yang berlebihan dapat menyimpan air terlalu lama, terutama jika sirkulasi udara dan drainasenya kurang baik.

Selain menggunakan pot, hoya juga bisa ditempelkan pada batang pohon atau penyangga. Cara ini cocok untuk jenis yang tumbuh merambat, asalkan akar tetap mendapatkan sirkulasi udara dan kelembapan yang sesuai.

Jika ingin menempelkan hoya pada pohon, gunakan sedikit media yang sesuai untuk membantu menjaga kelembapan akar. Tanaman juga dapat diikat menggunakan bahan yang tidak melukai batang. Hindari menutup akar terlalu rapat karena dapat menghambat sirkulasi udara.

4. Siram ketika media mulai mengering

Selama ini, hoya milik kami tidak disiram setiap hari. Karena berada di tempat teduh, penyiraman dilakukan ketika diperlukan, kira-kira seminggu sekali.

Namun, frekuensi tersebut bukan patokan untuk semua tanaman hoya. Kondisi cuaca, kelembapan udara, ukuran pot, jenis media tanam, dan lingkungan tumbuh dapat memengaruhi kebutuhan air setiap tanaman.

Cara yang lebih aman adalah memeriksa kondisi media terlebih dahulu. Siram ketika sebagian besar media mulai mengering, lalu biarkan kelebihan air mengalir keluar melalui lubang drainase.

Dengan begitu, akar tetap memperoleh air yang dibutuhkan tanpa harus terus-menerus berada dalam media yang terlalu basah.

5. Berikan pupuk secukupnya

Hoya milik kami justru belum pernah mendapatkan pupuk khusus. Meski demikian, tanaman tetap tumbuh dan sulurnya semakin panjang.

Jika ingin mendukung pertumbuhan daun dan bunga, kita dapat memberikan pupuk sesuai kebutuhan tanaman dan petunjuk pada kemasan produk. Gunakan dalam takaran yang tepat dan hindari pemupukan berlebihan karena dapat mengganggu kesehatan akar.

Selain itu, hoya yang belum berbunga belum tentu kekurangan pupuk. Usia tanaman, kecukupan cahaya, kondisi akar, serta karakter masing-masing jenis juga dapat memengaruhi kemampuannya untuk berbunga.

Karena itu, sebelum menambahkan pupuk, sebaiknya periksa terlebih dahulu kondisi tanaman dan lingkungan tumbuhnya.

6. Sediakan tempat untuk sulur merambat

Banyak jenis hoya tumbuh dengan sulur yang merambat. Oleh karena itu, kita dapat menyediakan ajir, teralis kecil, atau penyangga lain agar pertumbuhannya lebih terarah.

Jika ditanam di dekat pohon, sulurnya juga bisa diarahkan mengikuti penyangga tersebut. Dengan penataan yang sesuai, tanaman dapat tumbuh lebih teratur sekaligus menjadi elemen menarik untuk mempercantik halaman atau sudut rumah.

Hobi Mengumpulkan Tanaman Unik, Salah Satu Cara Mencintai Alam

Sekali lagi, saya merasa senang karena akhirnya mengetahui nama tanaman yang selama ini tumbuh di rumah. Ke depannya, saya ingin mempelajari cara memperbanyak hoya dengan benar agar bisa memiliki lebih banyak tanaman tanpa harus terus-menerus mengambilnya dari alam.

Awalnya, tujuan saya hanya ingin mempercantik halaman rumah. Namun, setelah mengenal tanaman lebih dekat, muncul keinginan untuk merawat, mempelajari, dan memperkenalkannya kepada orang lain.

Saya senang membayangkan anak-anak dapat melihat berbagai jenis tanaman secara langsung. Mereka tidak hanya mengenalnya melalui gambar atau tayangan video, tetapi juga dapat mengamati bentuk daun, pertumbuhan sulur, hingga bunga yang muncul setelah tanaman dirawat dengan sabar.

Ternyata, masih banyak tanaman menarik yang mungkin selama ini kita abaikan karena dianggap sebagai tumbuhan liar. Padahal, jika dikenali lebih jauh, kita bisa menemukan banyak hal baru sekaligus belajar menghargai kekayaan alam.

Semoga semakin banyak orang yang tertarik menanam tanaman, bukan hanya untuk mempercantik halaman, tetapi juga untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

Menghijaukan dunia tidak harus selalu dimulai dengan gerakan besar. Kita bisa memulainya dari rumah sendiri, dengan menanam, merawat, dan mengenal tumbuhan yang tumbuh di sekitar kita.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Tanaman Hoya Naik Daun, Bagaimana Cara Menanam dan Merawatnya?"

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Generasi Terakhir yang Melihat Hutan Kalimantan, Mau?
Generasi Terakhir yang Melihat Hutan Kalimantan, Mau?
Kata Netizen
Siapa Sangka, Tanaman dari Pinggir Sungai Ini Bernama Hoya
Siapa Sangka, Tanaman dari Pinggir Sungai Ini Bernama Hoya
Kata Netizen
Mobil Terbang Tesla dan Pertanyaan tentang Arah Inovasi
Mobil Terbang Tesla dan Pertanyaan tentang Arah Inovasi
Kata Netizen
Semarak Bulan Bahasa, Semangat Literasi di Sekolah Kami
Semarak Bulan Bahasa, Semangat Literasi di Sekolah Kami
Kata Netizen
Jika TPG Terlambat Cair, Bagaimana Nasib Guru?
Jika TPG Terlambat Cair, Bagaimana Nasib Guru?
Kata Netizen
Belajar Biologi di Alam, dari Jejak Satwa hingga Burung
Belajar Biologi di Alam, dari Jejak Satwa hingga Burung
Kata Netizen
Tidak Naik Kelas Bukan Berarti Anak Gagal
Tidak Naik Kelas Bukan Berarti Anak Gagal
Kata Netizen
Cerita di Balik Sirih yang Tumbuh di Depan Rumah
Cerita di Balik Sirih yang Tumbuh di Depan Rumah
Kata Netizen
Dulu Ramai, Kini Food Court Tinggal Kantin
Dulu Ramai, Kini Food Court Tinggal Kantin
Kata Netizen
Ke Mana Manfaat Kenaikan Anggaran Kesehatan Dirasakan?
Ke Mana Manfaat Kenaikan Anggaran Kesehatan Dirasakan?
Kata Netizen
Sudah Bawa Bekal, Kok Pengeluaran Masih Boros?
Sudah Bawa Bekal, Kok Pengeluaran Masih Boros?
Kata Netizen
Tantangan Side Job Seorang Videografer Pernikahan
Tantangan Side Job Seorang Videografer Pernikahan
Kata Netizen
Rekan Kerja Have, Bukan Cuma soal Barang Bermerek
Rekan Kerja Have, Bukan Cuma soal Barang Bermerek
Kata Netizen
Terbiasa dengan Asap Bukan Berarti Aman
Terbiasa dengan Asap Bukan Berarti Aman
Kata Netizen
Naik Kelas atau Mengulang, Mana yang Membantu Murid?
Naik Kelas atau Mengulang, Mana yang Membantu Murid?
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau