
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Tinggal di Bekasi, kerja di Jakarta. Bukan hanya jaraknya yang jauh, tetapi mesti kuat fisik dan mental jalani rutinitas sehari-hari.
Bayangkan saja, seperti adegan sinetron tetapi tanpa kamera yang merekam: setiap pagi perjalanan dari Bekasi naik KRL Commuter Line layaknya episode panjang dengan beragam genre.
Bayangkan, pada pukul 6 pagi stasiun Bekasi sudah mirip konser K-pop, cuma bedanya yang antre bukan penggemar bawa lightstick, tapi bapak-bapak berbatik, nona-nona pakai rok, ibu-ibu pakai baju dinas, atau mahasiswa dan mahasiswi pakai ransel dan buku-buku tebal di tangan.
Begitu pintu kereta dibuka, suasananya berubah jadi pertandingan rugby. Dorong-dorongan, saling sikut, tapi semua dengan wajah datar.
Nah, di sinilah stres biasanya lahir, bahkan sebelum kursi kereta sempat diduduki.
Tapi tenang, commuting tak selalu harus jadi cerita sedih. Kalau pintar menyiasati, justru bisa jadi ruang eksperimental, meski kadang absurd, tapi bisa bawa kita sampai tujuan dengan tawa, bukan amarah. Mari kita bahas caranya.
1. Gym Gratis di Dalam Kereta
Kalau kamu tinggal di Bekasi dan kerja di Jakarta, sebenarnya kamu gak butuh kartu membership gym yang harganya bisa bikin dompet nangis.
Cukup naik KRL pagi-pagi, dan selamat, kamu sudah otomatis jadi anggota Gym Commuter Indonesia.
Bedanya, di sini kamu gak dapat personal trainer, tapi dapat "sparring partner" gratis berupa penumpang lain yang sama-sama berebut pegangan besi.
Bayangin, lenganmu dilatih saat pegangan besi ditarik bersama tiga orang lain, mirip latihan pull day tapi versinya lebih emosional.
Otot paha otomatis terlatih ketika kamu berdiri satu jam tanpa sandaran, sambil berusaha jaga keseimbangan setiap kali kereta berhenti mendadak di Manggarai.
Kalau beruntung, kamu bisa dapet bonus latihan betis saat jinjit cari oksigen di tengah lautan manusia.
Dan jangan lupa, ada cardio ekstra juga: sprint kilat lima detik pas pintu kereta hampir nutup. Itu rasanya kayak HIIT workout versi KRL.
Bonus pamungkas? Keringat bercucuran, bukan dari treadmill mewah, tapi dari AC kereta yang kadang kekecilan atau mendadak mati di tengah perjalanan.
2. Main Drama Sendiri di Kepala
Ini paling sering aku lakukan. Mungkin karena 10 tahun jadi jurnalis dan terlalu sering naik kereta, otak rasanya otomatis pengen bikin cerita melulu. Alih-alih bete di commuter, aku justru menganggap kereta sebagai panggung drama gratis.
Setiap penumpang punya peran. Misalnya, mas-mas yang baca buku tebal di pojok langsung aku kasih label "pahlawan intelektual."
Dalam kepalaku, dia sedang menyelamatkan dunia dari kebodohan, padahal aslinya mungkin cuma lagi ngulang materi ujian.
Lalu ada bapak-bapak yang ketiduran sambil ngorok dengan nada fals. Dia jelas komedian relief, bikin soundtrack kereta yang tak pernah off.
Dan tentu saja, villain utama selalu hadir. Siapa lagi kalau bukan ibu-ibu dengan jurus sikut kiri-kanan demi kursi kosong. Kalau ada kamera, pasti rating sinetron ini sudah menyaingi Ikatan Cinta atau Cinta Fitri.
Kadang aku bikin narasi liar. "Ah, ibu-ibu itu pasti agen rahasia, menyamar demi misi rebut kursi strategis." Atau, "Mas-mas berkacamata itu sebenarnya penulis novel, lagi riset karakter di dalam KRL. Kalau aku ngobrol, bisa-bisa aku masuk jadi tokoh antagonis bukunya."
Lucunya, karena terlalu asyik bikin skenario, aku sering lupa sudah sampai stasiun tujuan. Pernah suatu kali aku kelewatan satu stasiun gara-gara lagi sibuk bikin plot twist.
Ternyata komedi relief alias bapak ngorok itu adalah pewaris perusahaan besar yang lagi menyamar naik KRL.
3. Karaoke atau Konser Gratis di KRL