
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Macet sering bikin kita jadi pendengar pasif. Kepala cuma menerima klakson kiri-kanan, teriakan pedagang asongan, atau notifikasi WhatsApp grup kantor yang isinya, "Ada yang udah sampe?"
Padahal, daripada jadi korban pasif dari kebisingan jalanan, kenapa tidak coba jadi host podcast imajiner?
Ya anggap saja kamu sedang siaran radio. Audiensmu? Helm ojol di depan, ibu-ibu dengan kantong belanja di sebelah, plus sopir angkot yang selalu merasa lampu merah bukan ditujukan untuknya.
Bintang tamunya bisa siapa saja, entah artis Korea, Presiden, atau alien yang lagi riset tentang "spesies manusia paling sabar di planet ini, ya, para anak commuter Bekasi." Wkwkwkwk.
Topiknya bebas. Kamu bisa bahas strategi mengurangi macet ala fantasi ("coba semua mobil diganti sepeda lipat aja, lumayan sekalian bakar kalori"), atau tips memasak mi instan tiga rasa dalam satu panci, karena gak ada waktu masak serius setelah commuting tiga jam.
Kalau mau agak serius, bisa juga diskusi soal harga cabai, soalnya itu topik paling relevan bagi rakyat jelata. Selain bikin waktu jalanan lebih ringan, trik ini juga latihan public speaking gratis.
Jadi, begitu diminta presentasi di kantor, kamu sudah terbiasa ngomong panjang. Dan siapa tahu, kalau podcast imajiner ini kamu rekam beneran, bisa jadi konten viral, "Curhat Commuter Bekasi Edisi Lampu Merah Pancoran." Minimal, kamu punya alasan baru buat gak stres.
7. Anggap Commuting Itu Role-Playing Game
Bayangkan perjalanan Bekasi--Pancoran, atau dari stasiun/ kota mana pun kamu, bukan sekadar rutinitas, tapi sebuah game RPG (Role-Playing Game).
Kamu adalah tokoh utama, lengkap dengan stamina terbatas, mental bar yang naik turun, dan inventori berisi kartu e-money, botol minum, serta power-up berupa bantal leher.
Setiap stasiun yang dilewati adalah level baru, penuh tantangan unik. Bekasi adalah tutorial level (masih penuh semangat), Manggarai itu boss battle (ramai, bingung pindah jalur), sementara Pancoran adalah cutscene menjelang ending.
Di dalam game ini, penumpang ngeselin otomatis jadi monster kecil. Ada monster "Sikutersaurus" yang berebut kursi, monster "Ngorokzilla" yang tertidur di sebelahmu, dan monster "HP Max Volume" yang selalu nonton sinetron tanpa headset.
Tugasmu sederhana, jangan sampai mental bar habis sebelum sampai tujuan.
Tapi tenang, ada juga side quest alias misi sampingan yang bikin game ini seru. Misalnya, kamu membantu penumpang yang hampir jatuh saat kereta mendadak ngerem.
Bisa juga berbagi tempat duduk pada lansia sambil berharap karma baik balik dalam bentuk bonus tahunan, atau menemukan shortcut legendaris dari stasiun ke kantor yang bisa memangkas 5 menit perjalanan, sebuah rare achievement!
Bedanya dengan game RPG biasa, di sini hadiahmu bukan koin emas atau pedang legendaris, tapi gaji bulanan yang otomatis masuk rekening (walau cepat juga keluar untuk bayar cicilan).
Kalau game RPG bisa bikin kamu rela main berjam-jam, kenapa commuting gak bisa dianggap seru juga?
Siapa tahu, dengan mindset ini, perjalanan Bekasi--Pancoran terasa seperti main game harian, bukan penderitaan harian.
Intinya, semua tergantung cara kamu menyikapinya. Jakarta memang keras, tapi bukan berarti kita harus keras kepala ikut stres. Commuting bisa jadi ruang marah-marah, bisa juga jadi ruang ketawa-ketawa.
Kalau kamu bisa melihatnya sebagai gym gratis, panggung drama, konser pribadi, jurnal absurd, dan game RPG, maka perjalanan Bekasi--Pancoran bukan lagi sekadar jalan menuju kantor, tapi sebuah petualangan harian.
Bukankah hidup memang selalu tentang bagaimana kita memberi makna pada hal yang paling biasa?
Teruntuk kamu, para pejuang commuter, jangan biarkan macet dan sesaknya KRL merampas senyum pagimu. Alih-alih mengeluh, coba lihat perjalanan itu dengan cara berbeda.***
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Cara Waras Mengatasi Commuting Stress ala Anak Bekasi"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang