Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Mutia Ramadhani
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Mutia Ramadhani adalah seorang yang berprofesi sebagai Freelancer. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

7 Cara Anak Bekasi atasi "Commuting Stress"

Kompas.com, 23 Agustus 2025, 20:56 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Macet sering bikin kita jadi pendengar pasif. Kepala cuma menerima klakson kiri-kanan, teriakan pedagang asongan, atau notifikasi WhatsApp grup kantor yang isinya, "Ada yang udah sampe?"

Padahal, daripada jadi korban pasif dari kebisingan jalanan, kenapa tidak coba jadi host podcast imajiner?

Ya anggap saja kamu sedang siaran radio. Audiensmu? Helm ojol di depan, ibu-ibu dengan kantong belanja di sebelah, plus sopir angkot yang selalu merasa lampu merah bukan ditujukan untuknya.

Bintang tamunya bisa siapa saja, entah artis Korea, Presiden, atau alien yang lagi riset tentang "spesies manusia paling sabar di planet ini, ya, para anak commuter Bekasi." Wkwkwkwk.

Topiknya bebas. Kamu bisa bahas strategi mengurangi macet ala fantasi ("coba semua mobil diganti sepeda lipat aja, lumayan sekalian bakar kalori"), atau tips memasak mi instan tiga rasa dalam satu panci, karena gak ada waktu masak serius setelah commuting tiga jam. 

Kalau mau agak serius, bisa juga diskusi soal harga cabai, soalnya itu topik paling relevan bagi rakyat jelata. Selain bikin waktu jalanan lebih ringan, trik ini juga latihan public speaking gratis. 

Jadi, begitu diminta presentasi di kantor, kamu sudah terbiasa ngomong panjang. Dan siapa tahu, kalau podcast imajiner ini kamu rekam beneran, bisa jadi konten viral, "Curhat Commuter Bekasi Edisi Lampu Merah Pancoran." Minimal, kamu punya alasan baru buat gak stres. 

7. Anggap Commuting Itu Role-Playing Game

Bayangkan perjalanan Bekasi--Pancoran, atau dari stasiun/ kota mana pun kamu, bukan sekadar rutinitas, tapi sebuah game RPG (Role-Playing Game).

Kamu adalah tokoh utama, lengkap dengan stamina terbatas, mental bar yang naik turun, dan inventori berisi kartu e-money, botol minum, serta power-up berupa bantal leher. 

Setiap stasiun yang dilewati adalah level baru, penuh tantangan unik. Bekasi adalah tutorial level (masih penuh semangat), Manggarai itu boss battle (ramai, bingung pindah jalur), sementara Pancoran adalah cutscene menjelang ending.

Di dalam game ini, penumpang ngeselin otomatis jadi monster kecil. Ada monster "Sikutersaurus" yang berebut kursi, monster "Ngorokzilla" yang tertidur di sebelahmu, dan monster "HP Max Volume" yang selalu nonton sinetron tanpa headset.

Tugasmu sederhana, jangan sampai mental bar habis sebelum sampai tujuan.

Tapi tenang, ada juga side quest alias misi sampingan yang bikin game ini seru. Misalnya, kamu membantu penumpang yang hampir jatuh saat kereta mendadak ngerem.

Bisa juga berbagi tempat duduk pada lansia sambil berharap karma baik balik dalam bentuk bonus tahunan, atau menemukan shortcut legendaris dari stasiun ke kantor yang bisa memangkas 5 menit perjalanan, sebuah rare achievement!

Bedanya dengan game RPG biasa, di sini hadiahmu bukan koin emas atau pedang legendaris, tapi gaji bulanan yang otomatis masuk rekening (walau cepat juga keluar untuk bayar cicilan). 

Kalau game RPG bisa bikin kamu rela main berjam-jam, kenapa commuting gak bisa dianggap seru juga?

Siapa tahu, dengan mindset ini, perjalanan Bekasi--Pancoran terasa seperti main game harian, bukan penderitaan harian.

Intinya, semua tergantung cara kamu menyikapinya. Jakarta memang keras, tapi bukan berarti kita harus keras kepala ikut stres. Commuting bisa jadi ruang marah-marah, bisa juga jadi ruang ketawa-ketawa. 

Kalau kamu bisa melihatnya sebagai gym gratis, panggung drama, konser pribadi, jurnal absurd, dan game RPG, maka perjalanan Bekasi--Pancoran bukan lagi sekadar jalan menuju kantor, tapi sebuah petualangan harian.

Bukankah hidup memang selalu tentang bagaimana kita memberi makna pada hal yang paling biasa?

Teruntuk kamu, para pejuang commuter, jangan biarkan macet dan sesaknya KRL merampas senyum pagimu. Alih-alih mengeluh, coba lihat perjalanan itu dengan cara berbeda.***

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Cara Waras Mengatasi Commuting Stress ala Anak Bekasi"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Mudik Penuh Cerita, Kenangan Bersama Mobil Tua Keluarga
Mudik Penuh Cerita, Kenangan Bersama Mobil Tua Keluarga
Kata Netizen
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Kata Netizen
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau