
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Ini paling sering aku, dan mungkin juga para pejuang KRL, lakukan. Karaoke. Konsepnya sederhana, kalau sudah dapat kursi dan mood lagi bagus, kenapa gak bikin gerbong jadi panggung konser pribadi?
Suara gesekan rel, klakson kereta, plus pengumuman "harap hati-hati melangkah" otomatis jadi efek musik latar. Gak perlu peduli kualitas suara, karena bisingnya kereta sudah otomatis kasih auto autotune.
Pilih lagu sesuai suasana hati. Lagi sumpek mikirin kerjaan? Nyanyi "I Will Survive." Lagi kangen rumah? "Going Home" pas banget. Lagi bete karena target kantor nggak kelar-kelar? Coba "Let It Be" walau bosmu mungkin bakal lebih cocok kalau lagunya diganti "Work From Home."
Buat yang bawa headset, karaoke bisa diam-diam. Bibir komat-kamit, kepala sedikit goyang, penumpang lain mungkin mikir kamu lagi zoom meeting internal dengan malaikat gaib.
Siapkan playlist random, dari dangdut koplo sampai musik klasik, biar mood naik turun sesuai jalannya kereta. Kalau pede, boleh nyanyi pelan. Tapi hati-hati, salah pilih lagu bisa bikin situasi canggung.
Pernah ada penumpang yang dengan khusyuk nyanyi "Kereta Malam" di KRL jam 7 pagi, hasilnya satu gerbong langsung salah fokus.
Kalau kamu tipe pemalu, karaoke bisa juga dilakukan di dalam hati. Ingat, commuting itu memang seperti konser pribadi di mana penontonnya random, panggungnya selalu sama, dan kadang ada bonus penonton yang ikut nimbrung humming bareng.
Akan tetapi, siapa tahu, kalau beruntung, kamu ketemu jodoh gara-gara sama-sama nyanyi refrein lagu lawas di gerbong yang sama. Hehehe.
4. Ritual Lampu Merah dan Mindfulness
Kalau kamu kombinasi KRL + ojek online dari Stasiun Pancoran, maka macet adalah sahabat baru. Bukan sahabat yang kamu undang, tapi selalu nongol tanpa diundang, mirip mantan yang tiba-tiba ngechat pas lagi bahagia.
Nah, pada titik ini, lampu merah bisa jadi tempat meditasi gratis.
Daripada ngomel "duh, Jakarta gini amat," coba tarik napas dalam, buang pelan, lalu bisikkan doa sederhana, semoga lampu hijau di depan kantor lebih lama dari jatah cuti tahunan.
Mindfulness ala commuter itu gak perlu ribet. Nikmati saja hal-hal kecil di sekitar, misalnya helm ojol yang kebesaran sampai bikin telinga ketekuk, obrolan driver yang entah dengan kita atau dengan dirinya sendiri, atau motor di sebelah yang plat nomornya bisa dijadikan teka-teki Sudoku.
Dengan begitu, pikiranmu gak fokus pada "aduh telat nih," tapi pada momen lucu yang sebenarnya gratis disajikan jalanan Jakarta.
Yang bikin stres sering bukan macetnya, tapi pikiran kita yang lari lebih cepat dari motor sport. Tubuhmu masih di lampu merah, tapi pikiranmu sudah ada di meeting room, lagi ditegur bos karena telat.
Nah, jurus mindfulness ini bikin kita kembali ke realita. Ya udah, sekarang lagi di lampu merah, nikmati aja. Toh lampunya gak bisa dipaksa jadi hijau lebih cepat, kecuali kamu Thanos dengan Infinity Gauntlet. Ya kan?
5. Observasi Absurd ala Jurnal Jalanan
Salah satu cara paling ampuh melawan stres commuting adalah menyulap perjalanan jadi bahan riset kocak.
Caranya simpel, kamu siapkan catatan kecil atau aplikasi notes di ponsel, lalu tulis semua hal absurd yang kamu lihat di jalan. Percaya deh, Jakarta itu gak pernah kehabisan bahan.
Contoh nyata? Pernah lihat motor bawa kasur lipat di jalan macet? Itu bukan adegan film action, tapi nyata adanya.
Seakan-akan kalau macet panjang, pengendara itu bisa langsung gelar kasur, rebahan, dan tidur siang di tengah kemacetan.
Atau kejadian lain, mas-mas santai berpakaian rapi masuk KRL sambil nenteng kandang hewan peliharaan. Penumpang lain cuma bisa melongo, ini mau ke kantor atau ke dokter hewan?
Kalau kamu rajin mencatat, lama-lama kumpulan observasi absurd ini bisa jadi jurnal jalanan yang seru. Bisa diposting di media sosial, jadi konten blog, bahkan dikembangkan jadi buku.
Contoh judulnya: "Kisah Konyol dari Rel dan Jalan Raya." Dijamin lebih relate daripada novel drama Korea, karena ini benar-benar kisah nyata commuter Jakarta.
6. Podcast Imajiner, Jadi Host Sendiri