Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Mutia Ramadhani
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Mutia Ramadhani adalah seorang yang berprofesi sebagai Freelancer. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

7 Cara Anak Bekasi atasi "Commuting Stress"

Kompas.com, 23 Agustus 2025, 20:56 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Ini paling sering aku, dan mungkin juga para pejuang KRL, lakukan. Karaoke. Konsepnya sederhana, kalau sudah dapat kursi dan mood lagi bagus, kenapa gak bikin gerbong jadi panggung konser pribadi? 

Suara gesekan rel, klakson kereta, plus pengumuman "harap hati-hati melangkah" otomatis jadi efek musik latar. Gak perlu peduli kualitas suara, karena bisingnya kereta sudah otomatis kasih auto autotune.

Pilih lagu sesuai suasana hati. Lagi sumpek mikirin kerjaan? Nyanyi "I Will Survive." Lagi kangen rumah? "Going Home" pas banget. Lagi bete karena target kantor nggak kelar-kelar? Coba "Let It Be" walau bosmu mungkin bakal lebih cocok kalau lagunya diganti "Work From Home."

Buat yang bawa headset, karaoke bisa diam-diam. Bibir komat-kamit, kepala sedikit goyang, penumpang lain mungkin mikir kamu lagi zoom meeting internal dengan malaikat gaib. 

Siapkan playlist random, dari dangdut koplo sampai musik klasik, biar mood naik turun sesuai jalannya kereta. Kalau pede, boleh nyanyi pelan. Tapi hati-hati, salah pilih lagu bisa bikin situasi canggung.

Pernah ada penumpang yang dengan khusyuk nyanyi "Kereta Malam" di KRL jam 7 pagi, hasilnya satu gerbong langsung salah fokus.

Kalau kamu tipe pemalu, karaoke bisa juga dilakukan di dalam hati. Ingat, commuting itu memang seperti konser pribadi di mana penontonnya random, panggungnya selalu sama, dan kadang ada bonus penonton yang ikut nimbrung humming bareng.

Akan tetapi, siapa tahu, kalau beruntung, kamu ketemu jodoh gara-gara sama-sama nyanyi refrein lagu lawas di gerbong yang sama. Hehehe. 

4. Ritual Lampu Merah dan Mindfulness

Kalau kamu kombinasi KRL + ojek online dari Stasiun Pancoran, maka macet adalah sahabat baru. Bukan sahabat yang kamu undang, tapi selalu nongol tanpa diundang, mirip mantan yang tiba-tiba ngechat pas lagi bahagia.

Nah, pada titik ini, lampu merah bisa jadi tempat meditasi gratis. 

Daripada ngomel "duh, Jakarta gini amat," coba tarik napas dalam, buang pelan, lalu bisikkan doa sederhana, semoga lampu hijau di depan kantor lebih lama dari jatah cuti tahunan.

Mindfulness ala commuter itu gak perlu ribet. Nikmati saja hal-hal kecil di sekitar, misalnya helm ojol yang kebesaran sampai bikin telinga ketekuk, obrolan driver yang entah dengan kita atau dengan dirinya sendiri, atau motor di sebelah yang plat nomornya bisa dijadikan teka-teki Sudoku. 

Dengan begitu, pikiranmu gak fokus pada "aduh telat nih," tapi pada momen lucu yang sebenarnya gratis disajikan jalanan Jakarta.

Yang bikin stres sering bukan macetnya, tapi pikiran kita yang lari lebih cepat dari motor sport. Tubuhmu masih di lampu merah, tapi pikiranmu sudah ada di meeting room, lagi ditegur bos karena telat. 

Nah, jurus mindfulness ini bikin kita kembali ke realita. Ya udah, sekarang lagi di lampu merah, nikmati aja. Toh lampunya gak bisa dipaksa jadi hijau lebih cepat, kecuali kamu Thanos dengan Infinity Gauntlet. Ya kan? 

5. Observasi Absurd ala Jurnal Jalanan

Salah satu cara paling ampuh melawan stres commuting adalah menyulap perjalanan jadi bahan riset kocak.

Caranya simpel, kamu siapkan catatan kecil atau aplikasi notes di ponsel, lalu tulis semua hal absurd yang kamu lihat di jalan. Percaya deh, Jakarta itu gak pernah kehabisan bahan.

Contoh nyata? Pernah lihat motor bawa kasur lipat di jalan macet? Itu bukan adegan film action, tapi nyata adanya.

Seakan-akan kalau macet panjang, pengendara itu bisa langsung gelar kasur, rebahan, dan tidur siang di tengah kemacetan. 

Atau kejadian lain, mas-mas santai berpakaian rapi masuk KRL sambil nenteng kandang hewan peliharaan. Penumpang lain cuma bisa melongo, ini mau ke kantor atau ke dokter hewan? 

Kalau kamu rajin mencatat, lama-lama kumpulan observasi absurd ini bisa jadi jurnal jalanan yang seru. Bisa diposting di media sosial, jadi konten blog, bahkan dikembangkan jadi buku.

Contoh judulnya: "Kisah Konyol dari Rel dan Jalan Raya." Dijamin lebih relate daripada novel drama Korea, karena ini benar-benar kisah nyata commuter Jakarta. 

6. Podcast Imajiner, Jadi Host Sendiri

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Mudik Penuh Cerita, Kenangan Bersama Mobil Tua Keluarga
Mudik Penuh Cerita, Kenangan Bersama Mobil Tua Keluarga
Kata Netizen
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Kata Netizen
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau