Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Gobin Dd
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Gobin Dd adalah seorang yang berprofesi sebagai Buruh. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Masihkah Menantu PNS Jadi Pekerjaan Idola Mertua?

Kompas.com, 16 September 2025, 15:01 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Apakah pekerjaan atau status sosial masih menjadi tolok ukur utama mertua dalam menilai menantu? Apalagi, saat ini, benarkah menjadi seorang PNS adalah idola mertua?

Hubungan antara mertua dan menantu memang bukan perkara sederhana. Ada pasangan yang beruntung karena mertua memperlakukan mereka layaknya anak kandung sendiri, penuh kasih sayang dan dukungan.

Namun, ada pula yang harus menghadapi dinamika berbeda: relasi yang renggang, penuh ekspektasi, dan tak jarang terasa menekan.

Ekspektasi mertua terhadap menantu bisa muncul dalam banyak bentuk—mulai dari latar belakang keluarga hingga profesi yang digeluti.

Seorang teman pernah berbagi kisahnya. Ia kerap merasa kurang diterima oleh sang mertua karena tidak berstatus PNS seperti suaminya.

Teman saya ini adalah guru di sekolah swasta. Di setiap acara keluarga, ia sering kali merasa berada di posisi yang kurang diperhatikan dan bahkan kerap menjadi sasaran sindiran halus.

Syukurnya, mereka tidak tinggal serumah dengan mertua. Bagi teman saya, pilihan untuk hidup terpisah menjadi salah satu cara menjaga jarak agar hubungan dengan mertua tetap terkendali.

Situasi ini tentu akan lebih rumit jika harus tinggal bersama dalam satu atap. Konflik bisa makin besar bila ketidaknyamanan itu tidak diungkapkan dengan bijak, bahkan bisa merembet pada hubungan suami-istri itu sendiri.

Pindah atau tinggal terpisah memang bukan keputusan mudah. Orangtua mungkin merasa kehilangan jika anaknya tidak lagi tinggal bersama.

Namun, dalam banyak kasus, ini bisa menjadi langkah yang sehat untuk menjaga keharmonisan rumah tangga baru. Bagaimanapun, saat pasangan menikah, mereka membentuk keluarga mandiri yang seharusnya perlahan lepas dari intervensi orangtua.

Bukan rahasia lagi, ada rumah tangga yang akhirnya kandas karena campur tangan berlebihan dari pihak mertua.

Sebaliknya, orangtua pun perlu menyadari batasan agar tidak terlalu jauh mencampuri kehidupan anak yang sudah berkeluarga. Di sinilah pentingnya saling menghormati ruang masing-masing.

Di sisi lain, ekspektasi mertua terhadap menantu mungkin sulit dihapus sepenuhnya. Daripada berupaya memenuhi standar yang ditetapkan mertua—misalnya harus bekerja sebagai PNS—lebih bijak jika menantu fokus pada perannya sendiri sebagai pasangan dan orangtua.

Menikah sejatinya bukan untuk memuaskan mertua, melainkan untuk membangun rumah tangga yang sehat dan bahagia.

Ketika seorang menantu hanya berupaya menyenangkan mertua, ia bisa terjebak pada beban mental. Apalagi jika usahanya tidak dihargai, justru menambah rasa bersalah dan tekanan batin.

Sebaliknya, dengan menjadi pasangan dan orangtua yang baik berdasarkan nilai-nilai yang diyakininya sendiri, pandangan positif mertua lambat laun bisa ikut terbangun.

Sikap ketus mertua memang tidak selalu bisa dihindari. Jadi, daripada terus memusatkan perhatian pada ketidaksenangan mertua, lebih baik menantu fokus memperkuat kualitas dirinya sendiri.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Mertua Jadi Ketus Gegara Menantu Bukan PNS"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Kesempatan dan Keadaan untuk Menabung Semakin Menyempit
Kesempatan dan Keadaan untuk Menabung Semakin Menyempit
Kata Netizen
Menghadirkan Alam di Sudut Sederhana Pekarangan
Menghadirkan Alam di Sudut Sederhana Pekarangan
Kata Netizen
Lebih dari Sekadar Mengajar, Dosen Bertumbuh Bersama Mahasiswa
Lebih dari Sekadar Mengajar, Dosen Bertumbuh Bersama Mahasiswa
Kata Netizen
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Kata Netizen
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Kata Netizen
Mari Mengenal Gizi Daging Sapi dan Kambing
Mari Mengenal Gizi Daging Sapi dan Kambing
Kata Netizen
Kebiasaan Kecil yang Membentuk Budaya Bersih
Kebiasaan Kecil yang Membentuk Budaya Bersih
Kata Netizen
Rangrang, Bunglon, dan Ruang Hidup yang Diperebutkan
Rangrang, Bunglon, dan Ruang Hidup yang Diperebutkan
Kata Netizen
Memberi Utang Itu Mudah, Menagihnya yang Sulit
Memberi Utang Itu Mudah, Menagihnya yang Sulit
Kata Netizen
Di Balik Lomba, Ada Hati Murid yang Perlu Dijaga
Di Balik Lomba, Ada Hati Murid yang Perlu Dijaga
Kata Netizen
Dari Rawa ke Permukiman: Kisah Satwa yang Kehilangan Habitat
Dari Rawa ke Permukiman: Kisah Satwa yang Kehilangan Habitat
Kata Netizen
Fenomena 'Book Shaming' dan Cara Kita Memandang Pembaca Lain
Fenomena "Book Shaming" dan Cara Kita Memandang Pembaca Lain
Kata Netizen
Ayah dan Anak, Belajar Dekat Lewat Obrolan Sederhana
Ayah dan Anak, Belajar Dekat Lewat Obrolan Sederhana
Kata Netizen
Belajar Bersabar dari Jodoh yang Tak Kunjung Datang
Belajar Bersabar dari Jodoh yang Tak Kunjung Datang
Kata Netizen
Dari Toko Kelontong, Kesadaran Lingkungan Itu Tumbuh Perlahan
Dari Toko Kelontong, Kesadaran Lingkungan Itu Tumbuh Perlahan
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau