Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Agil S Habib
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Agil S Habib adalah seorang yang berprofesi sebagai Freelancer. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Subsidi Transportasi Umum Lebih Utama daripada Subsidi Mobil Listrik

Kompas.com, 25 Desember 2022, 18:09 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Sebab, seseorang akan mempertimbangkan apakah dengan menggunakan transportasi umum lebih mudah, cepat, dan nyaman ketimbang menggunakan kendaraan pribadinya.

Tentu imbauan dan ajakan untuk beralih menggunakan transportasi umum tidak akan dihiraukan jika kualitas layanan transportasi umum yang diberikan masih jauh dari mudah, cepat, dan nyaman.

Apalagi sejauh ini hanya di kota besar yang terlihat serius memperbaiki kualitas layanan transportasi umum, seperti DKI Jakarta.

Banyak kota dan daerah lain di luar DKI Jakarta tampaknya tak ada upaya yang sama seriusnya untuk memperbaiki dan mengembangkan sistem transportasi umum yang terintegrasi satu sama lain dan tentu mudah, cepat, serta nyaman.

Padahal slogan-slogan sustainable, go green, green economy, dan sebagainya begitu gencar didengungkan.

Apalagi pada momen KTT G20 di Bali beberapa waktu lalu mengusung tema “serba hijau” dengan mengajak serta seluruh negara anggota G20 agar memberikan perhatian ekstra terhadap nasib alam dan bumi ini.

Sayangnya, alih-alih memberikan subsidi untuk pengembangan transportasi umum, pemerintah justru memberikan subsidi pembelian mobil listrik.

Memang kendaraan listrik memiliki kontribusi mendukung sustainable, namun ada beberapa hal yang dirasa pemberian subsidi ini dirasa kurang tepat.

Pertama, dengan dipermudahnya membeli mobil listrik, maka jumlah mobil listrik akan semakin banyak dan tentu jumlah kendaraan pribadi di jalan otomatis juga bertambah banyak.

Dengan terus bertambahnya jumlah kendaraan pribadi ini maka akan otomatis menambah kemacetan di jalan.

Bayangkan jika subsidi itu diberikan untuk perbaikan transportasi umum, diikuti dengan kebijakan untuk “mempersulit” memberli kendaraan, dan atau kebijakan mengenai umur kendaraan yang boleh melintas di jalan maksumal berusia 5 tahun.

Tentu jumlah kendaraan pribadi di jalan akan berkurang. Di sisi lain, layanan transportasi umum semakin baik, jumlahnya semakin banyak, dan ujung-ujungnya akan membuat masyarakat lebih memilih menggunakan transportasi umum alih-alih kendaraan pribadinya.

Kedua, bangkai dan sampah kendaraan akan semakin banyak dan menumpuk. Jika hal ini terjadi, tentu akan menjadi masalah besar yang akan semakin membuat sulit kerja pemerintah.

Maka alih-alih memberi subsidi untuk membeli mobil listrik, alangkah baiknya pemerintah mengalokasikan subsidi tersebut untuk perbaikan sarana dan prasarana transportasi umum.

Tidak hanya di ibu kota, melainkan di seluruh wilayah Indonesia. Dengan terciptanya layanan transportasi umum yang saling terintegrasi satu sama lain, menjamin keamanan penggunanya, tarif terjangkau, serta memberikan fleksibilatas kepada penggunanya, tentu akan membuat orang tergoda dan tertarik beralih menggunakan transportasi umum.

Transportasi umum mestinya menjadi prioritas utama perbaikan apabila kita semua menginginkan yang terbaik untuk alam sekitar.

Kendaraan listrik seharusnya berada dalam skala prioritas di bawahnya. Kendaraan listrik hanyalah pelengkap ketika angkutan umum sudah benar-benar menjalankan peranannya secara maksimal.

Menilik kondisi alam yang semakin muram belakangan ini, perbaikan ke arah sana sangat mendesak untuk dilakukan. Gembar-gembor forum internasional tidak akan ada gunanya tanpa adanya tindakan nyata yang tepat sasaran.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Perbaikan Lingkungan Hidup, Subsidi Angkutan Umum Lebih Mendesak daripada Subsidi Mobil Listrik"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau