Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Irmina Gultom
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Irmina Gultom adalah seorang yang berprofesi sebagai Apoteker. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Di Balik Tuntutan dan Realita, Ini Alasan Kenapa Menunda Pernikahan

Kompas.com, 28 Februari 2024, 20:00 WIB

Pertanyaan tentang kapan menikah sering kali menjadi sorotan utama dan selalu paling dihindari oleh mereka yang masih berstatus single. Biasanya pertanyaan-pertanyaan itu muncul saat acara reuni keluarga atau perayaan hari raya besar.

Seringnya, mereka yang menanyakan hal itu hanya dimaksudkan sebagai basa-basi atau bahkan didasarkan rasa penasaran alias kepo. Bagi mereka yang mendapat pertanyaan itu, seringnya hanya menjawab seadanya agar tak timbul pertanyaan lanjutan, seperti: "doakan saja, ya" atau "tunggu saja, kalau bukan hari Sabtu, sudah pasti Minggu."

Tahun 2023, hasil jajak pendapat Litbang Kompas menyatakan bahwa hampir separuh atau sekitar 42,4% (213 orang) dari jumlah responden keseluruhan yang berjumlah 502 orang menyatakan masih berstatus lajang. Dari 213 orang yang berstatus lajang itu, memiliki usia antara 22 hingga 35 tahun atau dengan kata lain termasuk ke dalam golongan usia produktif.

Meski begitu hasil jajak pendapat Litbang Kompas menemukan bahwa para lajang tersebut memiliki keinginan untuk menikah, akan tetapi mereka lebih mengatur soal kapan usia yang pas untuk menikah.

Lantas, mengapa banyak dari mereka yang menunda pernikahan?

Alasan Menunda Pernikahan

Boleh dikatakan bila masyarakat kelompok usia produktif di Indonesia ini didominasi oleh generasi milenial. Berbeda dengan generasi sebelumnya, generasi milenial telah mengalami banyak tren perubahan di berbagai sektor seperti ekonomi, sosial-budaya, pendidikan, hingga politik.

Jika generasi sebelumnya menganggap pernikahan adalah salah satu fase yang sudah layak dan sepantasnya dialami oleh setiap orang yang sudah cukup umur (kecuali mereka yang memutuskan selibat karena agama tertentu), kini generasi milenial lebih banyak memiliki opsi terkait keputusan soal pernikahan.

Belakangan ini negara-negara maju di kawasan Asia seperti Jepang, China, Korea Selatan menunjukkan kekhawatirannya terhadap penurunan laju populasi warganya. Hal ini karena kaum muda yang saat ini mendominasi kelompok usia produktif lebih memilih untuk menunda pernikahan.

Selanjutnya timbul fenomena resesi seks sehingga angka kelahiran pun menurun drastis dari tahun-tahun sebelumnya. Dan kini tampaknya fenomena menunda pernikahan atau dikenal juga dengan istilah "waithood", juga mulai berkembang di kalangan kaum milenial Indonesia.

Ada banyak faktor yang sekiranya memengaruhi para milenials ini memilih untuk menunda pernikahan. Apa saja faktor-faktor itu?

  • Mengejar Pendidikan dan Karier

Generasi milenial memiliki standar tinggi terkait pencapaian pendidikan dan karier. Alih-alih memikirkan pernikahan lebih dulu, mereka cenderung memilih memiliki jaminan lebih baik untuk kehidupannya di masa depan.

Alhasil pilihan untuk terus mengejar pengetahuan dan pengalaman karir sebelum memasuki komitmen pernikahan menjadi pilihan yang semakin umum.

  • Generasi Sandwich

Mereka yang termasuk kelompok milenial ini juga dikenal sebagai generasi sandwich yang berarti mereka "terpaksa" harus menanggung biaya hidup orangtua dan saudara-saudara kandungnya selain juga dirinya sendiri.

Faktor ini akhirnya juga memengaruhi kesiapan mereka untuk menikah. Jika hidup sendiri saja pas-pasan, menambah tanggungan berkeluarga bisa menjadi tantangan yang signifikan.

  • Kondisi Ekonomi dan Lingkungan di Masa Depan

Faktor-faktor ekonomi, seperti biaya hidup yang tinggi, pendidikan yang mahal, dan harga properti yang semakin tak masuk akal, menjadi kekhawatiran utama. Generasi milenial cenderung mempertimbangkan dampak lingkungan dan ekonomi jangka panjang sebelum memutuskan untuk membentuk keluarga.

  • Trauma atau Pengalaman Buruk tentang Rumah Tangga

Cukup banyak dari generasi milenial ini yang memutuskan menunda pernikahan karena memiliki trauma akibat pengalaman buruk yang dialami atau disaksikannya. Mulai dari KDRT, toxic relationship, perselingkuhan, perceraian, dan lain sebagainya.

Menurut data Badan Pusat Statistik 2023 yang dilansir dari KOMPAS.com angka perceraian di tahun 2022 menjadi yang tertinggi dalam 6 tahun terakhir. Ironisnya, angka perceraian ini justru didominasi oleh pasangan yang berasal dari generasi milenial.

Maka tak mengherankan bila banyak milenial yang jadi berpikir berulang kali sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah suatu hari nanti.

  • Belum Menemukan Pasangan yang Sesuai

Alasan belum menemukan pasangan yang sesuai ini bukan berarti mereka terlalu memilih-milih pasangan. Justru, dalam menentukan pasangan yang akan menemani kita sepanjang hidup, kita harus memiliki kriteria tertentu yang terbaik.

Hal itu karena agar ia yang kelak dipilih nanti benar-benar yang terbaik untuk kita. Kuncinya adalah kita harus tetap cerdas membuka diri pada pergaulan yang sehat, maka niscaya akan dipertemukan dengan pasangan yang tepat pada waktunya.

Tuntutan Vs Realita dan Keyakinan

Sebagai seorang perempuan, saya tentu tidak setuju dengan pendapat pria yang mengatakan bahwa wanita harus berani hidup susah dengan suaminya kelak. Mengapa? Sebab, bagaimana bisa ketika orangtua sendiri sudah bersusah payah berusaha agar anaknya memiliki kehidupan dan masa depan yang lebih baik, akan tetapi tiba-tiba ada pria yang ingin mengganti kehidupan lebih baik itu dengan kehidupan yang penuh kesusahan.

Pada dasarnya, pernikahan dan hidup berkeluarga itu merupakan keputusan yang harus benar-benar dipersiapkan dengan matang. Menikah bukan hanya soal kecukupan usia, atau bagaimana menggelar resepsi yang mewah dan berkesan, melainkan bagaimana supaya pasangan tersebut tetap konsisten menjalani komitmen berumah tangga dalam keadaan senang dan susah, untung dan malang, sehat dan sakit, hingga maut memisahkan.

Oleh sebab itu kita tetap perlu berpikir realistis terhadap kondisi saat ini dan proyeksi ke depannya. Bukan hanya dibutakan oleh euforia rasa cinta semata, atau hanya supaya tidak terus-terusan ditanya "kapan kawin?" oleh orang-orang yang kepo. Ingat, bisa jadi mereka yang bertanya seperti itu justru akan memalingkan muka ketika rumah tangga kita membutuhkan bantuan.

Menunda pernikahan bukan sesuatu hal yang buruk. Ingat bahwa menikah bukanlah suatu ajang perlombaan, melainkan seberapa siap kita dalam hal mental, fisik, dan finansial untuk menjalani komitmen seumur hidup dengan pasangan yang kita pilih. Jangan cuma gara-gara kita gerah dengan tuntutan dari orang lain, kita malah meragukan atau bahkan mengabaikan keyakinan dan kesiapan diri sendiri.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menunda Pernikahan, Antara Tuntutan Vs Realita"

 

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Kata Netizen
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
Kata Netizen
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Kata Netizen
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Kata Netizen
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Kata Netizen
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Kata Netizen
Belajar Ketahanan Pangan dari Hutan Kota di Seniman Pangan
Belajar Ketahanan Pangan dari Hutan Kota di Seniman Pangan
Kata Netizen
Dulu Maba, Kini Sarjana: Apa yang Berubah dari Cara Berpikir?
Dulu Maba, Kini Sarjana: Apa yang Berubah dari Cara Berpikir?
Kata Netizen
El Nino Bukan Sekadar Musim Kemarau, Ini Dampaknya bagi Kita
El Nino Bukan Sekadar Musim Kemarau, Ini Dampaknya bagi Kita
Kata Netizen
Membawa Kincung, Sedikit Bagian dari Kampung Halaman
Membawa Kincung, Sedikit Bagian dari Kampung Halaman
Kata Netizen
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
Kata Netizen
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Kata Netizen
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Kata Netizen
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Kata Netizen
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau