
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Sudahkah kita menyadari bahwa apa yang dikonsumsi selama kehamilan bukan hanya untuk mengenyangkan, tetapi juga menentukan kualitas tumbuh kembang anak di masa depan?
Masa kehamilan adalah salah satu fase penting dalam kehidupan seorang perempuan. Pada periode ini, tubuh bekerja lebih keras untuk mendukung tumbuhnya kehidupan baru. Karena itu, makan saat hamil tidak lagi sekadar mengisi perut, melainkan menjadi bagian dari investasi jangka panjang bagi kesehatan ibu dan bayi.
Mual dan Turunnya Nafsu Makan
Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang dimulai sejak janin dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun, dikenal sebagai masa emas yang tidak dapat terulang. Sayangnya, pada trimester awal kehamilan, banyak ibu mengalami mual dan penurunan nafsu makan.
Pengalaman ini juga pernah saya alami saat mengandung anak pertama. Setiap kali waktu makan tiba, rasa tidak nyaman muncul di perut dan tenggorokan, seolah ingin mengeluarkan isi lambung, bahkan ketika tubuh sedang lapar.
Setelah berkonsultasi dengan dokter kandungan dan membaca berbagai referensi, kondisi tersebut ternyata umum terjadi. Peningkatan hormon seperti human chorionic gonadotropin (hCG) dan estrogen memicu morning sickness serta meningkatkan sensitivitas penciuman, sehingga makanan terasa kurang bersahabat.
Untuk menyiasatinya, pola makan bisa diubah menjadi porsi kecil tetapi lebih sering. Tidak harus terpaku pada tiga kali makan utama. Jika nasi terasa sulit dikonsumsi, sumber karbohidrat lain seperti jagung, kentang, ubi, singkong, atau bihun dapat menjadi alternatif.
Pengalaman pribadi menunjukkan, pada trimester pertama saya sama sekali tidak bisa makan nasi. Bahkan membayangkannya saja sudah memicu rasa mual.
Sebagai pengganti, camilan sehat dapat menjadi solusi, seperti biskuit, buah-buahan (alpukat, apel, pir, pepaya, mangga), bubur kacang hijau, edamame, oatmeal, atau roti gandum. Pilihan makanan hangat seperti sup, atau makanan dingin seperti jus dan puding juga bisa membantu menyesuaikan dengan kondisi tubuh.
Yang terpenting, usahakan perut tidak kosong terlalu lama dan tetap prioritaskan kualitas nutrisi, bukan sekadar rasa kenyang.
Pentingnya Mengonsumsi Vitamin dari Dokter
Dalam setiap pemeriksaan kehamilan, dokter biasanya memberikan suplemen yang perlu dikonsumsi secara rutin. Namun, tidak semua ibu hamil langsung disiplin menjalaninya.
Saya pernah mengabaikan vitamin yang diberikan karena bentuknya besar dan memperparah rasa mual. Keputusan tersebut kemudian saya sesali, karena anak pertama lahir dengan berat badan rendah, yakni 2,25 kilogram.
Beruntung, setelah lahir, kondisi anak dapat diperbaiki dengan pemberian ASI secara intensif hingga pertumbuhannya kembali optimal. Namun pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting.
Jika suplemen terasa tidak cocok, sebaiknya dikonsultasikan kembali. Saat kehamilan berikutnya, saya mengetahui bahwa tersedia berbagai bentuk suplemen, termasuk tablet effervescent yang lebih mudah dikonsumsi.