Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Ditta Atmawijaya
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Ditta Atmawijaya adalah seorang yang berprofesi sebagai Editor. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

"Hamil Kebo", Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir

Kompas.com, 28 April 2026, 20:14 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Bagaimana rasanya menanti kehadiran buah hati selama bertahun-tahun, lalu menjalani kehamilan yang terasa “ringan”, tetapi berujung pada proses persalinan yang penuh tantangan dan emosi?

Rak sepatu itu kini tampak berbeda. Sepatu-sepatu berhak tinggi yang dulu setia menemani aktivitas ke kantor, kini tersimpan di bagian belakang, tertutup debu tipis.

Bukan tanpa alasan. Ada kehati-hatian yang muncul bahkan mungkin terdengar sederhana tentang bagaimana setiap langkah bisa berdampak pada janin yang telah dinantikan selama tiga tahun.

Sebagai gantinya, sepatu datar kini menjadi pilihan utama. Lebih nyaman, lebih aman, meski terasa jauh dari kebiasaan sebelumnya.

Menariknya, kekhawatiran itu justru tidak sejalan dengan kondisi fisik yang dirasakan. Jika banyak ibu hamil mengalami mual hebat di trimester awal, pengalaman ini justru berbeda. Tubuh terasa lebih bertenaga, tanpa gangguan berarti.

Dalam istilah Jawa, kondisi ini kerap disebut “hamil kebo”—kehamilan yang minim keluhan. Tidak ada morning sickness, tidak ada keinginan makan yang aneh di tengah malam. Semuanya terasa relatif ringan.

Namun, kehamilan ini bukan hanya tentang perubahan fisik. Ada kehangatan baru yang hadir dari lingkungan sekitar.

Di rumah, perhatian keluarga terasa semakin nyata. Adik yang biasanya santai, mendadak menjadi sangat protektif. Ia sigap membantu, mengingatkan untuk tidak terlalu lelah, bahkan menggantikan peran suami yang tidak selalu bisa hadir karena pekerjaan.

Rasa sepi yang sebelumnya kadang hadir, perlahan tergantikan oleh perasaan penuh. Ada dialog kecil yang terbangun setiap hari dengan calon bayi dalam kandungan—percakapan sunyi yang justru menghadirkan kedekatan.

Di tempat kerja, perhatian serupa juga terasa. Seorang rekan kerja yang sudah sepuh, misalnya, sering datang membawa buah tangan sederhana—pisang, mangga, atau kacang hijau rebus.

“Ini untuk si kecil,” ujarnya setiap kali menyodorkan makanan dengan tulus.

Perhatian-perhatian kecil itu menjadi penguat, menghadirkan rasa hangat yang sulit digantikan.

Namun, perjalanan ini tidak sepenuhnya berjalan mulus.

Suatu dini hari, sekitar pukul dua, suasana kamar yang sunyi tiba-tiba berubah. Ada sensasi hangat yang tidak biasa. Dalam diam, muncul kekhawatiran yang sulit dijelaskan—apakah ini tanda air ketuban pecah?

Sendirian di kamar, suara terasa begitu lemah saat mencoba memanggil bantuan. Waktu berjalan lambat hingga akhirnya azan Subuh terdengar. Saat itulah bantuan datang, dan dalam waktu singkat, perjalanan menuju rumah sakit dimulai.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
'Hamil Kebo', Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
"Hamil Kebo", Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
Kata Netizen
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kata Netizen
Bukan Sekadar Wisata, Museum Bisa Jadi Ruang Refleksi
Bukan Sekadar Wisata, Museum Bisa Jadi Ruang Refleksi
Kata Netizen
Batu Baginde dan Cara Kita Melihat Waktu
Batu Baginde dan Cara Kita Melihat Waktu
Kata Netizen
Titik Balik Hidup, Saat Semua Mengajarkan Pentingnya Menjaga Diri
Titik Balik Hidup, Saat Semua Mengajarkan Pentingnya Menjaga Diri
Kata Netizen
Soto Tanpa Nama dan Cerita tentang Harga Plastik yang Digunakan
Soto Tanpa Nama dan Cerita tentang Harga Plastik yang Digunakan
Kata Netizen
Merawat Inner Child Lewat Bacaan Masa Kecil
Merawat Inner Child Lewat Bacaan Masa Kecil
Kata Netizen
Es Tawon Malang, Manis yang Bertahan di Tengah Perubahan Kota
Es Tawon Malang, Manis yang Bertahan di Tengah Perubahan Kota
Kata Netizen
Cerita Kehamilan Kembar, Tantangan dan Strategi Memenuhi Nutrisi
Cerita Kehamilan Kembar, Tantangan dan Strategi Memenuhi Nutrisi
Kata Netizen
Perjalanan Menjadi Ayah, dari Jarak hingga Momen Mendampingi
Perjalanan Menjadi Ayah, dari Jarak hingga Momen Mendampingi
Kata Netizen
Belajar Memahami Orang Tua di Usia Senja
Belajar Memahami Orang Tua di Usia Senja
Kata Netizen
Split Bill, Cara Sederhana Menjaga Kenyamanan dalam Pertemanan
Split Bill, Cara Sederhana Menjaga Kenyamanan dalam Pertemanan
Kata Netizen
Relasi Manusia dan Alam, Biawak Terdesak, dan Sapu-Sapu Mendominasi
Relasi Manusia dan Alam, Biawak Terdesak, dan Sapu-Sapu Mendominasi
Kata Netizen
Menyiasati Barang Menumpuk, Kapan Disimpan, dan Kapan Dilepas?
Menyiasati Barang Menumpuk, Kapan Disimpan, dan Kapan Dilepas?
Kata Netizen
'Single-by-Choice', Menemukan Makna Hidup di Luar Pernikahan
"Single-by-Choice", Menemukan Makna Hidup di Luar Pernikahan
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau