
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bagaimana rasanya menanti kehadiran buah hati selama bertahun-tahun, lalu menjalani kehamilan yang terasa “ringan”, tetapi berujung pada proses persalinan yang penuh tantangan dan emosi?
Rak sepatu itu kini tampak berbeda. Sepatu-sepatu berhak tinggi yang dulu setia menemani aktivitas ke kantor, kini tersimpan di bagian belakang, tertutup debu tipis.
Bukan tanpa alasan. Ada kehati-hatian yang muncul bahkan mungkin terdengar sederhana tentang bagaimana setiap langkah bisa berdampak pada janin yang telah dinantikan selama tiga tahun.
Sebagai gantinya, sepatu datar kini menjadi pilihan utama. Lebih nyaman, lebih aman, meski terasa jauh dari kebiasaan sebelumnya.
Menariknya, kekhawatiran itu justru tidak sejalan dengan kondisi fisik yang dirasakan. Jika banyak ibu hamil mengalami mual hebat di trimester awal, pengalaman ini justru berbeda. Tubuh terasa lebih bertenaga, tanpa gangguan berarti.
Dalam istilah Jawa, kondisi ini kerap disebut “hamil kebo”—kehamilan yang minim keluhan. Tidak ada morning sickness, tidak ada keinginan makan yang aneh di tengah malam. Semuanya terasa relatif ringan.
Namun, kehamilan ini bukan hanya tentang perubahan fisik. Ada kehangatan baru yang hadir dari lingkungan sekitar.
Di rumah, perhatian keluarga terasa semakin nyata. Adik yang biasanya santai, mendadak menjadi sangat protektif. Ia sigap membantu, mengingatkan untuk tidak terlalu lelah, bahkan menggantikan peran suami yang tidak selalu bisa hadir karena pekerjaan.
Rasa sepi yang sebelumnya kadang hadir, perlahan tergantikan oleh perasaan penuh. Ada dialog kecil yang terbangun setiap hari dengan calon bayi dalam kandungan—percakapan sunyi yang justru menghadirkan kedekatan.
Di tempat kerja, perhatian serupa juga terasa. Seorang rekan kerja yang sudah sepuh, misalnya, sering datang membawa buah tangan sederhana—pisang, mangga, atau kacang hijau rebus.
“Ini untuk si kecil,” ujarnya setiap kali menyodorkan makanan dengan tulus.
Perhatian-perhatian kecil itu menjadi penguat, menghadirkan rasa hangat yang sulit digantikan.
Namun, perjalanan ini tidak sepenuhnya berjalan mulus.
Suatu dini hari, sekitar pukul dua, suasana kamar yang sunyi tiba-tiba berubah. Ada sensasi hangat yang tidak biasa. Dalam diam, muncul kekhawatiran yang sulit dijelaskan—apakah ini tanda air ketuban pecah?
Sendirian di kamar, suara terasa begitu lemah saat mencoba memanggil bantuan. Waktu berjalan lambat hingga akhirnya azan Subuh terdengar. Saat itulah bantuan datang, dan dalam waktu singkat, perjalanan menuju rumah sakit dimulai.