Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Priyasa Hevi Etikawan
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Priyasa Hevi Etikawan adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Pendidikan Itu Menyalakan Pelita Bukan Mengisi Bejana

Kompas.com, 27 Maret 2024, 14:00 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Begitulah kira-kira kalimat yang diucapkan Socrates ribuan tahun lalu. Meski sudah lama, kalimat tersebut masih relevan untuk bisa direnungkan hingga sekarang. Kalimat Socrates itu sengaja saya sematkan di sini agar kita semua bisa merenungkan dan bertanya, apakah praktik pendidikan yang selama ini dilakukan di negeri ini sudah "menyalakan pelita"? Atau hanya mengisi bejana belaka?

"Menyalakan pelita" dalam kalimat Socrates itu memiliki makna yang berhubungan dengan membangun kesadaran berpikir menuju sebuah pencerahan. Hal ini berhubungan dengan pencerahan tentang apa dan bagaimana mestinya kehidupan di masa depan itu bisa dicapai dengan cara yang menyenangkan dan bahagia.

Pendidikan merupakan sarana penuntun bagi proses pencarian manusia untuk mengasah akal, pikiran serta hatinya. Agar menjadi makhluk yang sempurna (insan al kamil).

Dalam teori filsafat Aristotelianisme ada istilah animal rasionale. Istilah ini menjelaskan bahwa manusia adalah binatang (baca: makhluk) yang berpikir. Ini jugalah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, yakni akal dan pikirannya.

Meski begitu, memiliki pikiran dan akal saja tidaklah cukup untuk disebut manusia sempurna. Manusia baru bisa disebut sempurna jika akal pikirannya diimbangi dengan ketajaman hati nurani dan keluhuran budi pekerti. Nah, di titik itulah pendidikan meneguhkan peranannya.

Pendidikan yang Mencerahkan

Kita semua pasti setuju dan meyakini bahwa pendidikan akan membawa kehidupan manusia ke masa depan yang lebih cerah. Artinya, dengan pendidikan yang baik, manusia akan mampu menggapai segala cita-citanya. Meskipun memang dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan kita sedang menghadapi tantangan yang cukup berat akibat dampak negatif pesatnya arus perkembangan zaman.

Salah satu tantangan yang terlihat adalah adanya fenomena perundungan di lingkungan pendidikan yang belum lama ini terjadi. Hal ini jadi bukti bahwa sistem pendidikan kita sedang diuji, seberapa siapkan perangkat pendidikan kita mampu membendung dan mereduksi segala perilaku menyimpang tersebut.

Di samping itu, sejauh mana sistem pendidikan kita mampu untuk membawa generasi penerus bangsa ini menjadi generasi bangsa yang unggul dan berdaya saing di era kompetisi global.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi memang mendorong sekuat tenaga agar kurikulum merdeka siap dilaksanakan secara serentak pada tahun pelajaran 2024/2025. Dengan harapan tentu agar kurikulum ini membawa pendidikan kita menuju sebuah titik terang dan bergerak ke arah yang lebih baik.

Pada tahun 2023, sebagaimana dilansir dari laman Kompas.id, peringkat pendidikan Indonesia berada di urutan ke-67 dari 203 negara. Posisi Indonesia masih tertinggal dari negara tetangga, seperti Singapura (21), Malaysia (38), atau Vietnam (66).

Ketertinggalan pendidikan Indonesia ini meliputi ketidakseriusan menangani salah kunci utama pendidikan soal peningkatan kualitas, profesioanalisme, dan kesejahteraan guru. Jika mengacu pada data tersebut, bisa dikatakan bahwa kualitas pendidikan Indonesia belum bisa dikategorikan baik.

Masih banyak hal yang harus dibenahi agar kualitas pendidikan kita beranjak naik dan bisa setara dengan negara-negara maju lain. Atau paling tidak pendidikan kita bisa setara dengan negara tetangga, Singapura, yang sampai saat ini masih dinobatkan sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik di kawasan Asia Tenggara.

Dari semua hal itu, apakah nantinya Kurikulum Merdeka akan menjadi solusi pendidikan kita? Tentu untuk menemukan jawabannya bukanlah hal mudah. Sebab, hal itu membutuhkan kajian yang mendalam tentang efektivitas penerapan Kurikulum Merdeka dalam mendorong keberhasilan praktik pendidikan kita.

Pendidikan Tak Sekadar Mengisi Bejana Kosong

Tentu kita semua sebagai masyarakat Indonesia merindukan pendidikan yang mencerahkan. Pendidikan yang dapat menyalakan pelita intelektual generasi penerus bangsa. Tak peduli apa kurikulum dan sistem pendidikan yang tengah diterapkan, tentu semua itu akan kembali bermuara pada falsafah bangsa Indonesia; membentuk manusia Indonesia yang berjiwa Pancasila; yang berketuhanan, berperikemanusiaan, berjiwa persatuan, serta memiliki semangat keadilan sosial dalam kebhinekaan.

Anak-anak murid kita bukan hanya diibaratkan sebagai bejana kosong yang hanya diisi dan dijejali dengan berbagai macam pelajaran yang ada di sekolah. Lebih dari itu, generasi penerus bangsa kita adalah pembelajar yang aktif, yang bahkan bisa belajar dari mana saja, dari kapan pun dan siapa pun.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Kata Netizen
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Kata Netizen
Mari Mengenal Gizi Daging Sapi dan Kambing
Mari Mengenal Gizi Daging Sapi dan Kambing
Kata Netizen
Kebiasaan Kecil yang Membentuk Budaya Bersih
Kebiasaan Kecil yang Membentuk Budaya Bersih
Kata Netizen
Rangrang, Bunglon, dan Ruang Hidup yang Diperebutkan
Rangrang, Bunglon, dan Ruang Hidup yang Diperebutkan
Kata Netizen
Memberi Utang Itu Mudah, Menagihnya yang Sulit
Memberi Utang Itu Mudah, Menagihnya yang Sulit
Kata Netizen
Di Balik Lomba, Ada Hati Murid yang Perlu Dijaga
Di Balik Lomba, Ada Hati Murid yang Perlu Dijaga
Kata Netizen
Dari Rawa ke Permukiman: Kisah Satwa yang Kehilangan Habitat
Dari Rawa ke Permukiman: Kisah Satwa yang Kehilangan Habitat
Kata Netizen
Fenomena 'Book Shaming' dan Cara Kita Memandang Pembaca Lain
Fenomena "Book Shaming" dan Cara Kita Memandang Pembaca Lain
Kata Netizen
Ayah dan Anak, Belajar Dekat Lewat Obrolan Sederhana
Ayah dan Anak, Belajar Dekat Lewat Obrolan Sederhana
Kata Netizen
Belajar Bersabar dari Jodoh yang Tak Kunjung Datang
Belajar Bersabar dari Jodoh yang Tak Kunjung Datang
Kata Netizen
Dari Toko Kelontong, Kesadaran Lingkungan Itu Tumbuh Perlahan
Dari Toko Kelontong, Kesadaran Lingkungan Itu Tumbuh Perlahan
Kata Netizen
Menabung Kurban dari Uang Kembalian dan Niat yang Dijaga
Menabung Kurban dari Uang Kembalian dan Niat yang Dijaga
Kata Netizen
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Mengenal Pulau Seram Lewat Cerita Seorang Murid
Kata Netizen
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Di Balik Julukan Panas Bekasi, Ada Kehidupan yang Terus Berjalan
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau