Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Junjung Widagdo
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Junjung Widagdo adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Bisakah Membangun Bangsa dengan Gizi yang Baik?

Kompas.com, 31 Januari 2025, 19:24 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Artinya, program MBG ini bukan semata pemberian makanan, tetapi juga menyisipkan edukasi. Orangtua dan anak-anak diperkenalkan pada jenis-jenis makanan sehat dan bergizi.

Harapannya, kesadaran akan pentingnya makanan sehat dan bergizi dapat tumbuh dalam diri anak-anak untuk masa depan mereka. Efeknya tentu bersifat jangka panjang.

Sangat cocok untuk mendukung persiapan Indonesia Emas 2046.

Dukung, Jangan Gembosi!

Banyak testimoni tentang pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) beredar di media sosial. Salah satu yang ramai dibicarakan kemarin adalah testimoni jujur dari seorang siswa SD setelah mencicipi menu ayam dari MBG. Katanya, “rasanya aneh.”

Mungkin ini hanya salah satu dari sedikit testimoni yang muncul ke permukaan tentang rasa dari menu MBG. Bisa jadi, di berbagai daerah terdapat kasus serupa, seperti kekurangan pada rasa, porsi, atau mungkin tingkat kehigienisan makanan.

Di sinilah sudut pandang masyarakat sebagai warga negara mulai terbelah. Ada yang menjadikan hal ini sebagai alasan untuk menggembosi program yang sedang dijalankan pemerintah. Namun, ada pula yang berpikir positif dengan menjadikan momen ini sebagai bahan evaluasi dan refleksi bagi pelaksanaan program MBG.

Saya rasa, tak ada habisnya jika kita hanya terus mencari kekurangan dari MBG. Inilah saatnya peran kita sebagai warga negara yang baik dibutuhkan.

Kritik pedas terhadap MBG tentu harus tetap disampaikan. Namun, yang perlu dicatat adalah semangat juang di balik kritik tersebut, bagaimana kita menggunakan kritik untuk memperbaiki program demi kebaikan bersama.

Dengan kata sederhana, mari kita perbaiki bersama apa yang kurang dari program MBG ini. Jangan justru selalu mencari celah untuk menggembosi program yang bertujuan baik ini.

Mari Berjiwa Besar

Harapannya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat berjalan dengan baik tanpa menjadi lahan "basah" bagi beberapa oknum. Mengingat mata rantai program MBG ini panjang, potensi penyalahgunaan wewenang demi kepentingan pribadi tentu perlu diantisipasi.

Selain itu, keberadaan program ini juga dapat berdampak pada kantin-kantin sekolah yang merasa kehilangan pendapatan karena anak-anak tidak lagi banyak jajan. Hal ini harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah.

Jangan sampai program yang baru ini justru mematikan mata pencaharian warga negara sendiri. Diharapkan ada kolaborasi yang menghasilkan kebijakan yang adil dan berpihak, baik kepada pemilik kantin maupun pemerintah.

Sebagai orangtua, saya pribadi merasa sangat terbantu dengan adanya program MBG ini. Porsi pengeluaran untuk jajan anak-anak kini lebih terkontrol. Jika sebelumnya anak harus membawa bekal dari rumah, sekarang hal itu tidak lagi diperlukan karena sudah tersedia makan siang bergizi gratis di sekolah.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau