
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Pernah membayangkan bagaimana rasanya tinggal di sebuah rumah dengan luas 14 meter persegi? Bangunan seperti apa yang diharapkan dengan luas bangunan segitu?
Maka tidak heran jika banyak orang mempertanyakan: mugkinkah dan bagaimana caranya?
***
Jari Hesty berhenti menggulir layar ponselnya. Sebuah unggahan berita menampilkan denah rumah seharga Rp 100 jutaan. Sebuah angka yang terasa seperti jawaban atas doa-doa heningnya.
Di tengah bising pendingin ruangan kantor. Tanpa jeda, admin media sosial berusia 25 tahun itu. Membuka aplikasi catatan. Ia mengetik cepat, 'Perabot Rumah Pertama'.
Dalam benaknya. Hesti menempatkan sebuah sofa bentuk L berwarna abu-abu di sudut ruangan. Di seberangnya. Sebuah televisi 55 inci terpasang kokoh di dinding. Siap untuk sesi nonton film maraton di akhir pekan.
Senyumnya mengembang. Namun sebuah detail di pojok denah membekukannya. 14 m². Tunggu, ini bahkan tidak lebih besar dari kamar tidurku sekarang, pikirnya.
Ia mencoba kembali memetakan sofa L impiannya. Ke dalam denah virtual di kepalanya. Sofa itu memang pas. Tapi ujungnya menabrak dinding. Juga menghalangi akses menuju kamar mandi.
Hesty menatap nanar daftar perabot di layarnya. Angka dan denah itu kini terasa seperti sebuah lelucon yang kejam.
***
Kebingungan yang dirasa Hesty. Adalah cerminan dari kebingungan publik yang tertarik dengna rumah subsidi.
Di satu sisi, ada janji kepemilikan hunian. Di sisi lain, ada keterbatasan ruang yang menantang logika. Untuk memahami dilema ini, memahami spesifikasi dan prinsip desain rumah mikro jadi sebuah keharusan.
Rumah subsidi ini luasnya 14 meter persegi. Kini menjadi sorotan publik. Desainnya diharapkan jadi solusi rumah murah di perkotaan.
Rumah ini berdiri di atas lahan 25 m². Spesifikasinya satu kamar tidur dan satu kamar mandi. Ruang keluarganya menyatu dengan dapur sederhana.
Tata letak ruang sangat terbatas. Ruang keluarga hanya sekitar 2,7 m². Kamar tidur cukup untuk kasur ukuran 160×200 cm.
Area penyimpanannya minimalis. Ada lemari tanpa pintu dan gantungan baju sederhana.
Keterbatasan ruang ekstrem ini menuntut penghuni. Mereka harus sangat selektif memilih barang. Riset hunian mikro menyoroti pengelolaan ruang.
Prinsip utamanya adalah mengadopsi konsep tata letak terbuka. Konsep ini juga disebut open space. Meminimalkan sekat dan manfaatkan furnitur multifungsi.
Barang berukuran besar termasuk kategori 'barang terlarang'. Contohnya lemari dua pintu atau sofa panjang. Barang ini langsung memangkas ruang gerak. Juga menghambat sirkulasi udara dan cahaya alami.
Solusinya adalah furnitur modular dan multifungsi, contohnya meja kopi yang bisa jadi meja kerja. Atau tempat tidur dengan laci di bawahnya. Manfaatkan juga rak dinding tinggi untuk ruang vertikal.
Studi kasus hunian mikro menunjukkan keberhasilan adaptasi penghuni. Ini ditentukan oleh kreativitas memilih perabot. Juga kebiasaan hidup minimalis. Bukan semata-mata oleh luas ruang fisik.
Kelayakan huni di ruang mikro tidak ditentukan oleh apa yang tidak bisa dimiliki. Melainkan oleh kecerdikan memaksimalkan fungsi setiap benda dan sudut rumah.
***
Prinsip ini perlahan meresap ke dalam benak Hesty. Ia mengalihkan pandangan dari daftar perabot impiannya. Daftar itu kini terasa sangat absurd baginya.
Jari-jarinya kembali bergerak lagi di atas layar. Kali ini ia mengetikkan kata kunci yang berbeda. Yaitu 'perabot multifungsi' dan 'desain interior rumah mikro'.
Layar ponselnya kini menampilkan gambar yang berbeda. Ada sebuah meja kopi. Meja itu bisa diangkat menjadi meja kerja. Juga sofa dua dudukan yang ringkas. Sofa itu bisa diubah menjadi tempat tidur.
Ia melihat rak dinding vertikal yang tinggi. Rak itu memanfaatkan ruang yang sebelumnya ia abaikan. Wajahnya yang semula muram. Kini perlahan berubah. Matanya digantikan sorot penuh ketertarikan.
Dengan satu gerakan tegas, Hesty menghapus catatan lamanya. Ia mulai membuat sebuah daftar baru. Isinya bukan lagi barang-barang besar. Bukan barang yang sekadar melambangkan kemapanan. Bahwa dia mampu beli barang mahal.
Daftar barunya berisi perabot cerdas. Benda yang mampu memaksimalkan setiap fungsi. Ia pun sadar.
Tantangannya bukan pada luas rumah. Melainkan pada luasnya kreativitas. Kreativitas untuk membuat rumah terasa lebih hidup.
***
Cerita Hesty dan drama rumah 14 meter ini sebetulnya ngasih kita tamparan bolak-balik. Masalahnya bukan soal rumah sepetak kayak kosan bujangan.
Tapi otak kita yang telanjur mentok sama standar rumah idaman sinetron. Kita ini kan, kebanyakan udah keracunan kalau rumah itu.
Harus ada sofa besar buat rebahan. TV segede gaban buat nonton bola. Dan dapur yang kinclong biar bisa pamer di Instagram.
Padahal, buat apa?
Coba pertanyaannya dibalik. Bukan lagi, “Barang apa aja nih yang bisa gue sumpel ke sini?”. Tapi jadi, “Enaknya di sini gue bisa ngapain aja, ya?”.
Begitu pertanyaannya ganti. Dijamin rasa nyesek di dada itu langsung plong. Tiba-tiba aja tiap sudut sempit itu kelihatan kayak arena bermain. Bukan lagi penjara.
Karena pada akhirnya. Satu hal yang nggak punya meteran dan nggak ada batasnya, cuma kreativitas kita.***
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Rumah Subsidi 14 Meter, Sempit di Denah, Syahdu di Hati, Asal Tahu Kunci"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang