
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Masihkah meja makan menjadi ruang kebersamaan keluarga di tengah kesibukan dan gempuran teknologi saat ini?
Sejak kecil, saya selalu mengingat pesan nenek dan ibu tentang makan bersama: “Bukan yang penting ambil, tapi ambil yang penting.”
Kalimat sederhana ini dulu sering terucap di meja makan keluarga kami, menjadi pengingat untuk menghargai makanan dan orang-orang yang duduk bersama.
Waktu itu, makan malam bukan hanya rutinitas, melainkan momen paling hangat. Sebelum jam makan tiba, semua anak harus sudah pulang, mandi, dan rapi.
Tidak ada aturan tertulis, tetapi semuanya berjalan dengan tertib. Kami makan bersama di meja makan — sebuah kebiasaan yang sederhana, namun penuh makna.
Ada aturan kecil yang kami patuhi: ambil makanan secukupnya dulu sebelum menambah, jaga agar tidak berceceran karena makanan juga butuh dihargai.
Setelah selesai, setiap orang, baik anak laki-laki maupun perempuan, membereskan alat makannya sendiri.
Bagi kami itu sudah biasa. Maka, ketika warung cepat saji menerapkan sistem “bereskan sendiri meja setelah makan”, anak-anak kami tak merasa aneh.
Dari Kebiasaan Kini Jadi Tantangan Baru
Apakah aturan itu membuat anak-anak tertekan? Tidak. Kebiasaan itu terbentuk perlahan lewat pembiasaan.
Namun, zaman telah berubah. Jika dulu gangguan terbesar hanya televisi, sekarang ada gawai dan media sosial yang menyita perhatian.
Saya pernah mencoba menerapkan aturan serupa di rumah kami sendiri, setelah tinggal terpisah dari keluarga besar. Anak saya protes. Katanya, “Zaman Ibu dulu kan beda dengan zaman sekarang.”
Awalnya saya ingin membantah, tetapi kemudian saya sadar: perubahan zaman memang membuat menjaga kebiasaan makan bersama menjadi semakin sulit.
Kesibukan juga membuat aturan itu kian longgar. Pekerjaan, sekolah, dan rutinitas masing-masing anggota keluarga membuat meja makan yang dulu ramai kini sering sunyi. Meski begitu, ada satu hal yang masih bisa kita upayakan: komunikasi.
Komunikasi Kecil yang Menjaga Hangat
Meski tidak selalu bisa mengontrol langsung, saya tetap berusaha menjaga komunikasi sederhana dengan anak-anak.
Menanyakan apakah mereka sudah makan, bagaimana keadaan rumah, atau sekadar mengingatkan agar makanan yang sudah disiapkan dimakan bersama.
Kemudahan teknologi dan ketersediaan makanan instan memang membantu. Frozen food, makanan siap saji, atau layanan pesan antar mempermudah urusan dapur. Namun, semua itu tidak bisa menggantikan hangatnya interaksi yang tercipta saat makan bersama.
Peran Ganda, Waktu yang Terbatas
Seperti alasan putri saya, zaman memang berubah. Banyak orang tua kini memikul peran ganda. Istri bekerja, suami bekerja, bahkan ada yang sekaligus mengurus orang tua di usia produktifnya.
Generasi “sandwich” menghadapi tekanan ekonomi dan tuntutan untuk tetap mapan di masa depan.
Di sisi lain, teknologi komunikasi yang semakin canggih menjadi pedang bermata dua. Ia memudahkan, tetapi juga “menjauhkan” anggota keluarga.
Tak jarang, meski semua berada di rumah yang sama, komunikasi berlangsung lewat gawai. Rumah terasa sunyi meski penghuninya lengkap.
Menghidupkan Kembali Meja Makan
Semakin sulit rasanya menyatukan anggota keluarga untuk makan bersama. Anak-anak sibuk dengan sekolah atau komunitasnya, orang tua sibuk dengan pekerjaan. Rumah pun sering hanya menjadi tempat singgah, apalagi meja makan.
Meski begitu, saya tetap berusaha menjaga agar makan malam menjadi waktu berkumpul. Meski hanya sekali sehari, makan malam bisa menjadi ruang curhat, tempat bertukar cerita, atau sekadar tertawa bersama sebelum masing-masing kembali pada kesibukannya.
Mungkin benar, setiap masa punya tantangannya sendiri. Tetapi saya percaya, meja makan adalah ruang sederhana yang tetap kita harapkan bisa menghangatkan keluarga dalam kondisi apa pun.
Jika dimulai dengan komunikasi kecil, disiplin ringan, dan niat menjaga kebersamaan, meja makan yang kini sunyi mungkin bisa kembali hidup — walau hanya sebentar setiap hari.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Meja Makan, Dulu Ruang Keluarga, Kini Ruang Sunyi"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang