Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rini Wulandari
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Rini Wulandari adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Meja Makan Keluarga yang Kini Sunyi

Kompas.com, 16 September 2025, 18:13 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Masihkah meja makan menjadi ruang kebersamaan keluarga di tengah kesibukan dan gempuran teknologi saat ini?

Sejak kecil, saya selalu mengingat pesan nenek dan ibu tentang makan bersama: “Bukan yang penting ambil, tapi ambil yang penting.”

Kalimat sederhana ini dulu sering terucap di meja makan keluarga kami, menjadi pengingat untuk menghargai makanan dan orang-orang yang duduk bersama.

Waktu itu, makan malam bukan hanya rutinitas, melainkan momen paling hangat. Sebelum jam makan tiba, semua anak harus sudah pulang, mandi, dan rapi.

Tidak ada aturan tertulis, tetapi semuanya berjalan dengan tertib. Kami makan bersama di meja makan — sebuah kebiasaan yang sederhana, namun penuh makna.

Ada aturan kecil yang kami patuhi: ambil makanan secukupnya dulu sebelum menambah, jaga agar tidak berceceran karena makanan juga butuh dihargai.

Setelah selesai, setiap orang, baik anak laki-laki maupun perempuan, membereskan alat makannya sendiri.

Bagi kami itu sudah biasa. Maka, ketika warung cepat saji menerapkan sistem “bereskan sendiri meja setelah makan”, anak-anak kami tak merasa aneh.

Dari Kebiasaan Kini Jadi Tantangan Baru

Apakah aturan itu membuat anak-anak tertekan? Tidak. Kebiasaan itu terbentuk perlahan lewat pembiasaan.

Namun, zaman telah berubah. Jika dulu gangguan terbesar hanya televisi, sekarang ada gawai dan media sosial yang menyita perhatian.

Saya pernah mencoba menerapkan aturan serupa di rumah kami sendiri, setelah tinggal terpisah dari keluarga besar. Anak saya protes. Katanya, “Zaman Ibu dulu kan beda dengan zaman sekarang.”

Awalnya saya ingin membantah, tetapi kemudian saya sadar: perubahan zaman memang membuat menjaga kebiasaan makan bersama menjadi semakin sulit.

Kesibukan juga membuat aturan itu kian longgar. Pekerjaan, sekolah, dan rutinitas masing-masing anggota keluarga membuat meja makan yang dulu ramai kini sering sunyi. Meski begitu, ada satu hal yang masih bisa kita upayakan: komunikasi.

Komunikasi Kecil yang Menjaga Hangat

Meski tidak selalu bisa mengontrol langsung, saya tetap berusaha menjaga komunikasi sederhana dengan anak-anak.

Menanyakan apakah mereka sudah makan, bagaimana keadaan rumah, atau sekadar mengingatkan agar makanan yang sudah disiapkan dimakan bersama.

Kemudahan teknologi dan ketersediaan makanan instan memang membantu. Frozen food, makanan siap saji, atau layanan pesan antar mempermudah urusan dapur. Namun, semua itu tidak bisa menggantikan hangatnya interaksi yang tercipta saat makan bersama.

Peran Ganda, Waktu yang Terbatas

Seperti alasan putri saya, zaman memang berubah. Banyak orang tua kini memikul peran ganda. Istri bekerja, suami bekerja, bahkan ada yang sekaligus mengurus orang tua di usia produktifnya.

Generasi “sandwich” menghadapi tekanan ekonomi dan tuntutan untuk tetap mapan di masa depan.

Di sisi lain, teknologi komunikasi yang semakin canggih menjadi pedang bermata dua. Ia memudahkan, tetapi juga “menjauhkan” anggota keluarga.

Tak jarang, meski semua berada di rumah yang sama, komunikasi berlangsung lewat gawai. Rumah terasa sunyi meski penghuninya lengkap.

Menghidupkan Kembali Meja Makan

Semakin sulit rasanya menyatukan anggota keluarga untuk makan bersama. Anak-anak sibuk dengan sekolah atau komunitasnya, orang tua sibuk dengan pekerjaan. Rumah pun sering hanya menjadi tempat singgah, apalagi meja makan.

Meski begitu, saya tetap berusaha menjaga agar makan malam menjadi waktu berkumpul. Meski hanya sekali sehari, makan malam bisa menjadi ruang curhat, tempat bertukar cerita, atau sekadar tertawa bersama sebelum masing-masing kembali pada kesibukannya.

Mungkin benar, setiap masa punya tantangannya sendiri. Tetapi saya percaya, meja makan adalah ruang sederhana yang tetap kita harapkan bisa menghangatkan keluarga dalam kondisi apa pun.

Jika dimulai dengan komunikasi kecil, disiplin ringan, dan niat menjaga kebersamaan, meja makan yang kini sunyi mungkin bisa kembali hidup — walau hanya sebentar setiap hari.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Meja Makan, Dulu Ruang Keluarga, Kini Ruang Sunyi"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Kata Netizen
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Kata Netizen
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kata Netizen
'Hamil Kebo', Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
"Hamil Kebo", Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
Kata Netizen
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kata Netizen
Bukan Sekadar Wisata, Museum Bisa Jadi Ruang Refleksi
Bukan Sekadar Wisata, Museum Bisa Jadi Ruang Refleksi
Kata Netizen
Batu Baginde dan Cara Kita Melihat Waktu
Batu Baginde dan Cara Kita Melihat Waktu
Kata Netizen
Titik Balik Hidup, Saat Semua Mengajarkan Pentingnya Menjaga Diri
Titik Balik Hidup, Saat Semua Mengajarkan Pentingnya Menjaga Diri
Kata Netizen
Soto Tanpa Nama dan Cerita tentang Harga Plastik yang Digunakan
Soto Tanpa Nama dan Cerita tentang Harga Plastik yang Digunakan
Kata Netizen
Merawat Inner Child Lewat Bacaan Masa Kecil
Merawat Inner Child Lewat Bacaan Masa Kecil
Kata Netizen
Es Tawon Malang, Manis yang Bertahan di Tengah Perubahan Kota
Es Tawon Malang, Manis yang Bertahan di Tengah Perubahan Kota
Kata Netizen
Cerita Kehamilan Kembar, Tantangan dan Strategi Memenuhi Nutrisi
Cerita Kehamilan Kembar, Tantangan dan Strategi Memenuhi Nutrisi
Kata Netizen
Perjalanan Menjadi Ayah, dari Jarak hingga Momen Mendampingi
Perjalanan Menjadi Ayah, dari Jarak hingga Momen Mendampingi
Kata Netizen
Belajar Memahami Orang Tua di Usia Senja
Belajar Memahami Orang Tua di Usia Senja
Kata Netizen
Split Bill, Cara Sederhana Menjaga Kenyamanan dalam Pertemanan
Split Bill, Cara Sederhana Menjaga Kenyamanan dalam Pertemanan
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau