
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah membantu anak mengerjakan PR berarti selalu baik? Apa sempat terpikir itu justru membuat anak kehilangan kesempatan belajar mandiri?
Beberapa tahun lalu, pandemi Covid-19 mengubah cara belajar anak-anak di Indonesia. Sekolah-sekolah harus tutup sementara, dan pembelajaran dilakukan dari rumah.
Guru mengajar tanpa tatap muka langsung, sementara orangtua berperan lebih besar dalam mendampingi anak belajar.
Situasi ini memunculkan pertanyaan: apakah anak bisa tetap belajar efektif di rumah?
Jawabannya tergantung pada banyak faktor.
Salah satunya adalah iklim belajar di rumah dan sikap orangtua. Rumah yang kondusif dan dukungan orangtua yang tepat menjadi kunci keberhasilan pembelajaran jarak jauh.
Namun, dukungan orangtua bukan berarti mengambil alih seluruh proses belajar. Peran yang terlalu dominan justru bisa membuat anak pasif.
Ini terjadi ketika orangtua bukan sekadar mendampingi, melainkan ikut mengerjakan tugas anak secara langsung.
Ketika Orangtua “Ikut Sekolah”
Fenomena orangtua yang mengerjakan pekerjaan rumah anak bukanlah hal baru. Pada masa pembelajaran jarak jauh, banyak orangtua mengaku kerepotan hingga akhirnya memilih menyelesaikan tugas anak agar cepat beres.
Motifnya pun beragam. Ada yang khawatir anak terlihat “kurang mampu” dibanding teman-temannya, ada pula yang ingin anak mendapatkan nilai tinggi. Padahal, sikap ini justru menyimpan dampak negatif jangka panjang.
Dampak Negatif pada Anak
Anak Tidak Benar-Benar Belajar
Nilai di atas kertas mungkin bagus, tetapi anak bisa jadi tidak memahami materi sama sekali. Kesempatan untuk berlatih berpikir dan memecahkan masalah pun hilang.
Muncul Mentalitas Ketergantungan
Anak terbiasa mengandalkan orangtua untuk menyelesaikan tugas. Akibatnya, ketika menghadapi masalah di luar rumah atau di sekolah, ia kesulitan mencari solusi sendiri.
Mentalitas Lemah saat Menghadapi Tantangan
Anak yang terbiasa dibantu berlebihan cenderung mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memengaruhi kepercayaan diri dan daya juang mereka.
Peran Ideal Orangtua: Pendamping, Bukan Pelaksana
Orangtua adalah guru pertama bagi anak. Namun guru di sini bukan berarti pihak yang menyelesaikan semua tugas, melainkan pembimbing dan penuntun.
Peran orangtua lebih tepat sebagai mentor yang membantu anak memahami persoalan dan menemukan solusi sendiri.
Memberi arahan, menyediakan fasilitas belajar, dan menciptakan suasana yang mendukung sudah cukup untuk membuat anak belajar mandiri.
Apalagi dengan cara ini, orangtua tidak hanya membantu anak meraih nilai baik, tetapi juga membentuk kemandirian dan daya tahan mental mereka.
Kesimpulan: Mendampingi dengan Bijak
Mengerjakan tugas anak memang terasa sebagai bentuk kasih sayang, tetapi dampaknya bisa kontraproduktif. Sebagai gantinya, jadilah mentor yang menuntun anak memahami persoalan dan menyelesaikannya sendiri.
Dengan pendampingan yang tepat, anak akan tumbuh menjadi pribadi mandiri, tangguh, dan siap menghadapi tantangan di masa depan—bukan hanya sekadar mendapatkan nilai bagus di sekolah.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ketika Orangtua Selalu Mengerjakan Tugas Sekolah Anak"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang