
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Mungkinkah kita masih menjalani hubungan baik sebagai teman atau yang lainnya kepada mantan? Apakah bisa hubungan itu dijalani tanpa ada perasaan lama yang pernah dijalani?
Bagi sebagian orang, mantan sering kali dianggap seperti “musuh tak kasatmata”. Saat bertemu di jalan, pandangan langsung dialihkan. Ketika hadir di lingkaran pertemanan, rasanya ingin cepat-cepat meninggalkan tempat.
Situasi ini akan semakin rumit ketika keberadaan mantan sulit dihindari, misalnya karena satu kantor, satu kampus, atau satu tongkrongan. Mau tidak mau, akan ada momen pertemuan yang tak disengaja.
Daripada lelah menjaga jarak, mengapa kita tidak mencoba belajar bersikap lebih dewasa?
Menjaga hubungan baik dengan mantan bukan hanya mungkin dilakukan, tetapi juga bisa menjadi jalan untuk menutup bab masa lalu dengan cara yang sehat.
Pengalaman saya menunjukkan, sikap ini perlahan menyembuhkan diri dari rasa canggung hingga fobia pada mantan.
Tentu, tidak semua orang sanggup berteman dengan masa lalunya. Terlebih bila kisah itu lebih banyak menyimpan luka atau kecewa.
Namun waktu biasanya menjadi obat yang ampuh. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, sisi emosional kita pun ikut berubah.
Saya pun dulu butuh waktu lama untuk menerima kenyataan bahwa hubungan kami berakhir. Meski perpisahan terjadi baik-baik, tetap saja rasa kecewa sulit dihindari.
Kami belajar saling menjaga jarak, menahan diri untuk tidak berkomunikasi, hingga akhirnya mampu menjalani hari tanpa kabar satu sama lain.
Sampai suatu ketika, dia kembali menghubungi saya. Jujur saja, perasaan senang itu muncul karena kami sudah lama tak berkomunikasi.
Tetapi di titik ini saya menyadari: penting untuk menjaga diri agar tidak terbawa perasaan.
Saya belajar menganggapnya wajar, seperti teman lama yang sekadar menanyakan kabar, bukan tanda rindu atau ajakan untuk mengulang cerita lama.
Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa menjalin hubungan baik dengan mantan tanpa terjebak baper? Berikut beberapa langkah yang bisa dicoba:
1. Terima bahwa masa lalu sudah selesai
Kuncinya ada pada hati kita sendiri. Selama masih menyimpan harapan, setiap komunikasi akan terasa mendebarkan. Berdamailah dengan diri sendiri, terima bahwa hubungan itu sudah berakhir.
2. Jaga komunikasi secukupnya
Berteman tidak berarti harus intens berbicara setiap hari. Saling menyapa sesekali sudah cukup. Jangan biarkan kebiasaan lama kembali muncul dan memicu perasaan yang belum tuntas.
3. Hargai batasan saat ini
Dulu kita mungkin tahu semua sisi kehidupannya. Kini, tidak perlu ikut campur terlalu jauh. Batasan ini penting agar hubungan tetap sehat dan tidak menimbulkan salah paham.
4. Perlakukan dia seperti teman lainnya
Jika masih berada dalam satu lingkaran sosial, bersikaplah sewajarnya. Tidak perlu memberi perlakuan istimewa, tetapi juga jangan bersikap dingin. Seimbangkan sikap agar suasana tetap nyaman bagi semua.
Berteman dengan mantan bukanlah hal mustahil. Justru ini bisa menjadi tanda bahwa kita sudah berpikir lebih matang dan mampu menaruh perasaan pada tempatnya.
Bagaimanapun juga, mantan adalah sosok yang pernah memberi kita kebahagiaan dalam satu fase hidup.
Seni berteman dengan mantan adalah seni menatap masa lalu dengan senyuman—sambil melangkah menuju masa depan tanpa beban.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Jangan Lagi Fobia Pada Mantan, Sebuah Seni Berteman Tanpa Harus Baper"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang