
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah dunia benar-benar siap menghadapi ancaman wabah penyakit baru yang datang dari unggas?
Pertanyaan ini kembali mengemuka setelah Jerman mengeluarkan peringatan serius terkait penyebaran flu burung yang meningkat pesat di wilayahnya pada akhir Oktober 2025.
Dalam beberapa pekan terakhir, kasus infeksi flu burung di negara itu melonjak tajam. Burung liar maupun peliharaan, termasuk burung bangau, dilaporkan terjangkit.
Institut Friedrich Loeffler (FLI), lembaga penelitian penyakit hewan nasional Jerman, bahkan menilai risiko penyebaran wabah berada pada tingkat yang sangat tinggi.
Peringatan ini menjadi sinyal bahwa flu burung bukan hanya soal kesehatan hewan, tetapi juga ancaman global yang bisa mengguncang kesehatan manusia, ketahanan pangan, hingga perekonomian dunia.
Flu burung sendiri disebabkan oleh virus influenza tipe A. Sebagian besar kasus menyerang unggas, tetapi beberapa jenis virus seperti H5N1 dan H7N9 terbukti dapat menular ke manusia.
Penularannya memang jarang, namun dampaknya bisa fatal.
Pada pandemi flu burung 2005 misalnya, virus H5N1 menewaskan lebih dari 400 orang di seluruh dunia—dengan tingkat fatalitas yang mencapai 50 persen, jauh di atas flu musiman biasa.
Di Indonesia, istilah “flu burung” bukan hal baru. Kasus pertama ditemukan pada manusia pada 2005, dan sejak itu Indonesia termasuk salah satu negara yang paling terdampak. Ratusan kasus tercatat, banyak di antaranya berujung kematian.
Meski kini situasi lebih terkendali, keberadaan virus ini tetap menjadi ancaman laten. Kasus terbaru yang melibatkan unggas atau burung liar terinfeksi menegaskan bahwa kewaspadaan tak boleh kendor.
Flu burung bukan hanya soal kesehatan masyarakat, tapi juga tentang ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi.
Wabah di sektor peternakan unggas dapat menyebabkan kerugian besar: dari distribusi ayam dan telur yang terganggu hingga penurunan produksi pangan nasional.
Pemerintah Jerman sudah mengingatkan dampak ekonomi yang mungkin terjadi akibat wabah ini—peringatan yang semestinya juga menjadi refleksi bagi Indonesia.
Langkah-langkah pencegahan perlu terus diperkuat. Pemerintah dapat memperketat pengawasan di peternakan unggas, menerapkan sistem biosekuriti, dan memastikan peternak memahami cara pencegahan yang benar.
Surveilans dini juga krusial, terutama di wilayah-wilayah dengan populasi unggas tinggi atau jalur migrasi burung liar.