Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Iwan Berri Prima
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Iwan Berri Prima adalah seorang yang berprofesi sebagai Dokter. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Dunia Global Mesti Waspada Ancaman Penyakit Flu Burung

Kompas.com, 31 Oktober 2025, 13:06 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Apakah dunia benar-benar siap menghadapi ancaman wabah penyakit baru yang datang dari unggas?

Pertanyaan ini kembali mengemuka setelah Jerman mengeluarkan peringatan serius terkait penyebaran flu burung yang meningkat pesat di wilayahnya pada akhir Oktober 2025.

Dalam beberapa pekan terakhir, kasus infeksi flu burung di negara itu melonjak tajam. Burung liar maupun peliharaan, termasuk burung bangau, dilaporkan terjangkit.

Institut Friedrich Loeffler (FLI), lembaga penelitian penyakit hewan nasional Jerman, bahkan menilai risiko penyebaran wabah berada pada tingkat yang sangat tinggi.

Peringatan ini menjadi sinyal bahwa flu burung bukan hanya soal kesehatan hewan, tetapi juga ancaman global yang bisa mengguncang kesehatan manusia, ketahanan pangan, hingga perekonomian dunia.

Flu burung sendiri disebabkan oleh virus influenza tipe A. Sebagian besar kasus menyerang unggas, tetapi beberapa jenis virus seperti H5N1 dan H7N9 terbukti dapat menular ke manusia.

Penularannya memang jarang, namun dampaknya bisa fatal.

Pada pandemi flu burung 2005 misalnya, virus H5N1 menewaskan lebih dari 400 orang di seluruh dunia—dengan tingkat fatalitas yang mencapai 50 persen, jauh di atas flu musiman biasa.

Di Indonesia, istilah “flu burung” bukan hal baru. Kasus pertama ditemukan pada manusia pada 2005, dan sejak itu Indonesia termasuk salah satu negara yang paling terdampak. Ratusan kasus tercatat, banyak di antaranya berujung kematian.

Meski kini situasi lebih terkendali, keberadaan virus ini tetap menjadi ancaman laten. Kasus terbaru yang melibatkan unggas atau burung liar terinfeksi menegaskan bahwa kewaspadaan tak boleh kendor.

Flu burung bukan hanya soal kesehatan masyarakat, tapi juga tentang ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi.

Wabah di sektor peternakan unggas dapat menyebabkan kerugian besar: dari distribusi ayam dan telur yang terganggu hingga penurunan produksi pangan nasional.

Pemerintah Jerman sudah mengingatkan dampak ekonomi yang mungkin terjadi akibat wabah ini—peringatan yang semestinya juga menjadi refleksi bagi Indonesia.

Langkah-langkah pencegahan perlu terus diperkuat. Pemerintah dapat memperketat pengawasan di peternakan unggas, menerapkan sistem biosekuriti, dan memastikan peternak memahami cara pencegahan yang benar.

Surveilans dini juga krusial, terutama di wilayah-wilayah dengan populasi unggas tinggi atau jalur migrasi burung liar.

Selain itu, edukasi publik menjadi kunci penting. Masyarakat perlu memahami bagaimana virus menular dan cara mencegahnya—mulai dari kebiasaan mencuci tangan hingga memastikan daging unggas dimasak matang sempurna.

Tak kalah penting, kerja sama internasional harus diperkuat. Penyakit lintas spesies seperti flu burung tidak mengenal batas negara.

Indonesia perlu berkolaborasi dengan organisasi seperti WHO, FAO, dan OIE dalam riset, pengembangan vaksin, serta pertukaran data epidemiologis.

Wabah penyakit menular seperti flu burung mengingatkan kita bahwa dunia kini semakin saling terhubung—dan karena itu pula, ancamannya pun semakin luas.

Kewaspadaan, kolaborasi lintas sektor, dan kepedulian terhadap keamanan pangan menjadi fondasi penting agar kita tak lengah menghadapi ancaman yang bisa datang kapan saja.

Pada akhirnya, melindungi manusia juga berarti melindungi alam dan satwa di sekitar kita.

Oleh karena itu, dalam rantai kehidupan global ini, kesehatan satu spesies dapat menentukan keselamatan yang lain.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Mewaspadai Ancaman Penyakit Flu Burung di Dunia Global"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Kata Netizen
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau