Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Imanuel Lopis
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Imanuel Lopis adalah seorang yang berprofesi sebagai Petani. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Cerita dari Ladang Jagung, Ketahanan Pangan dari Timor Tengah Selatan

Kompas.com, 23 November 2025, 15:18 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Bagaimana masa tanam jagung di daerah yang mengandalkan pertanian tradisional menghadapi gempuran varietas hibrida?

Apakah ketahanan pangan lebih kuat bila kita mempertahankan jagung lokal, atau justru mempercepat peralihan ke jagung nonlokal?

Musim hujan yang mulai hadir di banyak wilayah Nusa Tenggara Timur menandai dimulainya musim tanam.

Jika di Kabupaten Timor Tengah Selatan, aktivitas para petani kembali menggeliat. Lahan-lahan mulai dibersihkan, dan benih-benih mulai disiapkan.

Jagung menjadi salah satu tanaman pertama yang ditanam—bukan hanya karena kebutuhan, tetapi karena jagung merupakan makanan pokok masyarakat di daerah ini.

Dan seperti yang terjadi secara turun-temurun, banyak petani masih memilih varietas jagung lokal yang diwariskan oleh orang tua dan leluhur mereka.

Ragam Jagung Lokal yang Turun-temurun

Di masyarakat, jagung lokal dibedakan berdasarkan warna dan teksturnya.

  • Pen molo (jagung kuning)
  • Pen muti (jagung putih)

Dari teksturnya, terdapat:

  • Pen fatu – bijinya keras, butuh waktu lebih lama untuk dimasak, dan sulit dipipil
  • Pena kikis – bijinya lebih lunak dan mudah rontok saat dipipil

Ada pula jagung hibrida lokal seperti pen li’at yang dikenal berbatang pendek dengan umur panen lebih singkat, serta pen boto yang biasa digunakan untuk membuat popcorn.

Setiap jenis memiliki tempat tersendiri dalam dapur dan budaya masyarakat.

Masuknya Jagung Nonlokal

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah semakin menguatkan program pertanian, termasuk pemberian bantuan alat tani, pupuk, dan benih jagung hibrida. Varietas inilah yang oleh masyarakat disebut pen kase atau jagung nonlokal.

Jagung nonlokal ini memang cepat panen dan hasilnya lebih besar, tetapi penggunaannya memiliki dinamika tersendiri bila dibandingkan dengan jagung lokal yang telah lama menjadi bagian dari sistem pangan tradisional.

Perbandingan Jagung Lokal dan Jagung Nonlokal

1. Benih

Jagung Lokal:
Setiap petani menyimpan sendiri benih panen sebelumnya. Jagung dipilih, diikat dengan kulitnya, lalu disimpan di loteng dapur.

Benih dianggap sebagai aset rumah tangga; tidak boleh digunakan sembarangan sebelum musim tanam.

Jika ada yang kekurangan benih, mereka dapat meminta kepada tetangga—sebuah bentuk solidaritas yang masih kuat.

Jagung Nonlokal:Benih mengandalkan bantuan pemerintah melalui kelompok tani.

Harga benih jagung nonlokal tergolong tinggi, bisa mencapai sekitar Rp100.000 per bungkus bila harus membeli sendiri.

2. Pengolahan Tanah

Jagung Lokal:
Ditaman di lahan yang cukup ditebas dan dibakar tanpa dicangkul atau dibajak. Lahan biasanya digunakan dua musim lalu diistirahatkan beberapa tahun.

Karena banyak akar dan tunggul sisa pohon, pertumbuhan akar jagung bisa terganggu.

Jagung Nonlokal:
Ditanam di lahan yang dibajak menggunakan traktor kelompok tani. Tanah menjadi gembur dan lebih siap tanam. Lahan bisa ditanam terus tanpa berpindah-pindah.

3. Sistem Tanam

Jagung Lokal:
Menggunakan sistem tumpang sari.
Satu lubang berisi 3–4 biji jagung dan 1–2 kacang tunggak, dengan jarak tanam sekitar 1 meter. Di sela-sela ditanam singkong, kacang-kacangan, dan tanaman pangan lain.

Jagung Nonlokal:
Ditanam dengan jarak rapat, 1–2 biji per lubang, tanpa tumpangsari.
Hasilnya optimal untuk jagung, tetapi tidak menyediakan variasi tanaman pangan tambahan.

4. Pemupukan

Jagung Lokal:
Mengandalkan pupuk alami dari daun rontok, humus, abu pembakaran, dan pohon polong-polongan seperti gamal yang memperkaya tanah dengan nitrogen.

Jagung Nonlokal:
Membutuhkan pupuk kimia sesuai takaran dan periode tertentu. Jika tanpa bantuan pemerintah, biaya pupuk bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah per musim.

5. Umur Panen

  • Jagung Lokal: 4–5 bulan
  • Jagung Nonlokal: ±3 bulan

6. Penyimpanan

Jagung Lokal:
Dikeringkan, diikat, lalu diasapi di loteng dapur. Asap dari tungku harian membuat jagung lebih awet dan tahan kutu.

Jagung Nonlokal:
Dikupas, dipipil, lalu dijemur. Tanpa pengering mesin, kualitas pengeringan sering tidak merata sehingga jagung rentan diserang kutu.

Oleh karena itu, banyak petani menjual jagung nonlokal segera setelah panen dan tidak menyimpannya sebagai stok pangan keluarga.

7. Rasa

  • Jagung Lokal: lebih manis, terutama saat masih muda.
  • Jagung Nonlokal: cenderung hambar.

Menguatkan Ketahanan Pangan Lewat Dua Arah

Pemerintah sering berbicara tentang ketahanan pangan, swasembada, dan kemandirian pangan nasional.

Namun, di lapangan, pertanian tradisional dan pengetahuan lokal justru menjadi fondasi yang tidak boleh diabaikan.

Pertanian modern memang memberi efisiensi dan hasil lebih cepat, tetapi kearifan lokal—seperti pengelolaan benih, sistem tumpangsari, serta teknik pengawetan tradisional—telah menjaga ketahanan pangan keluarga selama generasi.

Mungkin yang dibutuhkan bukan memilih salah satu, melainkan merangkai keduanya:
memperkuat pertanian modern tanpa memutus akar tradisi yang terbukti tangguh menghadapi waktu.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Jagung Lokal vs Jagung Nonlokal dalam Ketahanan Pangan"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau