
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Di tengah perubahan sistem pendidikan yang kian menekankan proses dan perkembangan, masihkah peringkat akademik perlu dituliskan di rapor anak, atau justru cukup disimpan sebagai catatan pendamping?
Saat pembagian rapor semester ini, saya kembali dihadapkan pada satu perubahan yang cukup terasa dalam dunia pendidikan: ranking kelas tidak lagi tercantum di rapor siswa.
Bagi sebagian orangtua dan murid, ini mungkin hal biasa. Namun bagi generasi yang tumbuh dengan budaya peringkat, perubahan ini membawa perasaan yang campur aduk.
Dulu, ranking adalah momen yang ditunggu. Ada rasa bangga ketika nama berada di urutan atas, ada cerita yang dibawa pulang, ada senyum kecil yang menjadi bahan obrolan keluarga. Kini, ranking sebenarnya tidak benar-benar hilang.
Nilai tetap diolah, pemetaan akademik tetap dibuat. Hanya saja, posisinya disimpan sebagai catatan internal wali kelas, tidak diumumkan dan tidak dituliskan secara terbuka.
Perubahan ini tentu lahir dari niat baik. Dunia pendidikan sedang bergerak menuju pendekatan yang lebih manusiawi—tidak lagi menempatkan angka sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan anak.
Namun, di titik inilah muncul pertanyaan yang wajar: apa yang kita peroleh dari perubahan ini, dan apa yang mungkin kita lepaskan?
Ketika Orangtua Masih Bertanya Soal Peringkat
Dalam praktiknya, tidak sedikit orangtua yang masih datang dengan pertanyaan yang sama seperti dulu: “Anak saya ranking berapa?” Pertanyaan ini bukan bentuk ketidakpatuhan, melainkan refleksi dari kebiasaan panjang dalam memahami capaian belajar anak.
Tantangannya bukan pada pertanyaan itu sendiri, melainkan pada bagaimana menjawabnya. Alih-alih berhenti pada angka, guru kini diajak membuka percakapan yang lebih luas: tentang perkembangan anak, kekuatan yang menonjol, serta area yang masih perlu pendampingan.
Ranking tidak menjadi label, melainkan pintu masuk untuk memahami anak secara lebih utuh.
Ranking dan Makna Apresiasi
Pada masanya, ranking pernah menjadi “panggung kecil” bagi sebagian anak. Tidak semua siswa menonjol di bidang olahraga atau seni, dan peringkat akademik memberi ruang bagi mereka yang tekun belajar untuk mendapatkan pengakuan.
Masalah muncul ketika ranking diperlakukan secara kaku—diumumkan tanpa empati, dijadikan pembanding mutlak, bahkan melekat sebagai identitas permanen.
Di titik ini, yang perlu dikritisi bukan keberadaan ranking itu sendiri, melainkan cara kita memaknainya. Angka seharusnya membantu membaca proses, bukan menentukan nilai diri seorang anak.
Pergeseran Kurikulum, Pergeseran Cara Pandang
Kurikulum saat ini menempatkan perkembangan anak sebagai pusat perhatian. Penilaian tidak lagi bertanya “siapa yang paling unggul”, melainkan “sejauh apa anak bertumbuh”. Guru didorong memberi umpan balik deskriptif, bukan sekadar skor.
Itulah sebabnya ranking tidak lagi ditampilkan di rapor. Bukan karena tidak penting, melainkan karena tidak ingin anak tumbuh dengan identitas yang disempitkan oleh posisi akademik semata.
Setiap anak memiliki keunikan, dan tidak semua harus menonjol di bidang yang sama untuk disebut berhasil.
Namun, di sisi lain, ada kegelisahan kecil yang juga patut didengar: anak-anak yang berusaha keras dan konsisten, tetapi merasa capaian mereka “tidak terlihat”.
Menjaga Keseimbangan antara Melindungi dan Mengakui
Di sinilah dilema pendidikan modern hadir. Kita ingin melindungi anak dari luka perbandingan, tetapi juga tidak ingin mengabaikan pentingnya apresiasi atas usaha.
Menghapus ranking dari rapor bisa menenangkan, tetapi penghargaan terhadap kerja keras tetap dibutuhkan—bukan untuk meninggikan satu anak dan merendahkan yang lain, melainkan untuk menegaskan bahwa proses belajar layak dihargai.
Barangkali yang dibutuhkan bukan menghidupkan kembali ranking seperti dulu, melainkan menemukan cara baru untuk mengapresiasi capaian anak: lebih personal, lebih dialogis, dan lebih membangun.
Antara Kebutuhan Data dan Pesan Pendidikan
Dalam praktiknya, penilaian dan pemeringkatan tetap diperlukan, terutama untuk keperluan seleksi pendidikan lanjutan melalui jalur prestasi. Data tetap diolah dan digunakan oleh sistem.
Namun yang sedang diupayakan di ruang kelas adalah perubahan pesan: angka berfungsi sebagai alat bantu, bukan penentu jati diri.
Di sinilah peran pendidik menjadi krusial—menjaga agar anak memahami bahwa dirinya lebih dari sekadar peringkat di daftar nilai.
***
Pada akhirnya, pertanyaan tentang ranking tidak perlu dimusuhi, tetapi juga tidak harus diagungkan. Ia adalah bagian dari sejarah pendidikan kita, sekaligus pintu masuk menuju percakapan yang lebih dewasa.
Mungkin yang perlu diubah bukan pertanyaannya, melainkan kelanjutannya.
Bukan berhenti di “ranking berapa?”, tetapi berlanjut ke “anak saya berkembang di bagian apa?” dan “apa yang bisa kita dampingi bersama?”.
Di antara keinginan sekolah untuk melindungi anak dan harapan orangtua untuk melihat hasil perjuangan, dialog yang jujur dan hangat menjadi jembatan.
Pada akhirnya, setiap anak tidak harus berada di peringkat yang sama untuk disebut berhasil. Yang lebih penting, ia merasa dihargai, dipahami, dan didampingi sesuai potensinya. Di sanalah pendidikan menemukan maknanya yang paling manusiawi.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Masih Perlukah Ranking Ditulis di Rapor Anak?"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang