
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Seberapa sering kita menilai sebuah gunung hanya dari ketinggiannya, tanpa benar-benar memahami karakter alam yang menyertainya?
Sejauh mana persiapan mampu menolong kita ketika kenyataan di jalur pendakian tak selalu seindah cerita di media sosial?
Jika Anda berada di Lampung Selatan, khususnya di Kalianda, pandangan hampir pasti akan tertuju pada sebuah gunung dengan dua puncak yang saling berdekatan.
Bagian tengahnya tampak melekuk ke dalam, membentang tinggi dan luas di hadapan mata. Dari kejauhan, ia terlihat tenang, bahkan bersahabat. Gunung itulah yang dikenal sebagai Gunung Rajabasa.
Gunung Rajabasa memiliki ketinggian sekitar 1.281 meter di atas permukaan laut. Angka itu, bagi sebagian orang, mungkin tidak terdengar menggentarkan. Namun, di gunung ini, ketinggian bukanlah tolok ukur utama. Karakter alamlah yang justru menentukan.
Hutan hujan tropis yang lembap dan basah mendominasi jalur pendakian. Akar-akar pohon menjalar di sepanjang lintasan, memaksa kaki dan mata bekerja bersamaan. Medan seperti ini tidak hanya menuntut tenaga, tetapi juga kewaspadaan penuh.
Beberapa jalur berupa setapak sempit dengan jurang di kanan dan kiri. Tanahnya licin, pijakannya tidak selalu pasti, dan hampir tidak memberi ruang untuk kesalahan langkah. Di titik-titik seperti inilah pendakian berhenti menjadi aktivitas rekreasi, lalu berubah menjadi urusan kehati-hatian.
Semakin jauh melangkah, semakin terasa bahwa jalur yang kami hadapi berbeda jauh dari bayangan awal. Seolah ada jarak lebar antara cerita yang kami dengar dan kenyataan yang kami pijak.
Gambaran pendakian Gunung Rajabasa di media sosial, singkat, kering, dan penuh keceriaan. Foto-foto yang beredar seakan menegaskan bahwa Rajabasa adalah gunung yang ramah bagi siapa pun.
Kenyataannya, kami justru berhadapan dengan hujan dan badai di ketinggian. Jalur berubah licin, kabut menutup pandangan, dan setiap langkah harus diambil dengan penuh perhitungan.
Menuju Puncak
Bukanlah sebuah kebetulan ketika Gunung Rajabasa pernah menjadi markas gerilya Raden Intan II dalam melawan Belanda. Topografinya yang curam dan rimbun membuat siapa pun termasuk pasukan kolonial kesulitan melakukan pengejaran.
Letaknya pun strategis, layaknya menara pemantau alami bagi lalu lintas kapal-kapal Belanda di Selat Sunda. Dari punggungan tertentu, gunung ini memungkinkan pandangan terbuka ke berbagai arah. Dan itulah yang benar-benar kami rasakan di sepanjang perjalanan.
Kami mengarungi topografi curam dengan punggungan yang terasa seperti jalur pengawasan alami, seolah gunung ini sejak awal memang diciptakan untuk bertahan dan mengawasi.
Pendakian kami dimulai dari Basecamp Teropong Kota. Basecamp ini dapat diakses menggunakan kendaraan roda empat. Aksesibilitas ini, tanpa disadari, memberi kesan bahwa pendakian Rajabasa tidaklah terlalu berat.
Bahkan, tersedia jasa ojek dari basecamp menuju pos evakuasi dengan tarif Rp30.000 bagi pendaki yang ingin menghemat tenaga sebelum memasuki pintu rimba.
Kemudahan inilah yang barangkali menumbuhkan rasa percaya diri berlebih. Kami merasa cukup kuat, cukup siap, dan memilih berjalan kaki tanpa memanfaatkan jasa ojek, dengan alasan ingin lebih menikmati momen.
Belakangan, keputusan itu terasa kurang bijak. Karena justru tenaga yang dihemat di awal itulah yang sangat dibutuhkan saat pendakian sesungguhnya dimulai.
Entah berapa kilometer jarak dari Basecamp Teropong Kota menuju pos evakuasi. Yang jelas, kami menghabiskan waktu sekitar 40 menit berjalan kaki menapaki tanjakan konsisten dengan lapisan beton di sepanjang jalurnya, tanjakan yang pelan-pelan menggerus tenaga tanpa terasa.
Kami tiba di pos evakuasi, titik yang kerap menjadi tempat berkumpul berbagai rombongan pendaki. Kami pun memanfaatkan fasilitas toilet sebagai persiapan, agar tidak perlu menahan buang air kecil selama pendakian.
Meski tidak terdapat papan penanda bertuliskan “Pos Evakuasi”, titik ini dikenal luas oleh tim penyelamat dan para pengojek setempat sebagai pos evakuasi.
Di sini pula pendaki dapat menambah logistik. Sebuah warung menyediakan berbagai makanan instan, baik untuk dikonsumsi langsung maupun dibawa selama pendakian.
Warung ini tampaknya buka hingga pendaki terakhir turun. Ketika kami kembali sekitar pukul 22.00, warung tersebut masih buka dan ramai oleh warga lokal yang juga berprofesi sebagai pengojek.
Beberapa menit berjalan setelahnya, saya lupa persis jaraknya, sebelum memasuki pintu rimba, kami kembali menjumpai sebuah warung.
Di tempat ini, pendaki bisa sekadar melepas lelah atau mengisi tenaga. Konsepnya menyerupai kafe sederhana. Menariknya, tersedia pembayaran via QRIS dan akses Wi-Fi, sehingga persoalan jaringan internet bukanlah kendala.
Menurut penjaganya, warung ini buka 24 jam. Namun, saat kami turun dan berniat mengisi perut dengan mi instan, warung tersebut sudah tutup dan tampak gelap. Saya juga tidak menemukan fasilitas toilet di lokasi ini. Sepengetahuan saya, toilet hanya tersedia hingga pos evakuasi.
Perjalanan kami lanjutkan hingga tiba di pintu rimba. Di titik ini, perjalanan berhenti menjadi sekadar berjalan. Tanjakan terasa semakin konsisten.
Pemandangan di sekitar masih berupa perkebunan warga, durian, kopi, dan cengkeh. Namun, kabut tipis mulai turun perlahan, seolah memberi peringatan bahwa wajah gunung akan segera berubah.
Tak lama kemudian, hujan pun turun. Hujan ini seperti penanda bahwa bulan Desember benar-benar telah tiba. Sejak titik itu, hingga kami turun kembali, hujan dan angin kencang tak pernah benar-benar pergi.
Memasuki pintu rimba, vegetasi mulai berubah. Pepohonan semakin beragam, meski belum terlalu rapat. Sesekali tampak pohon-pohon besar menjulang, memberi isyarat bahwa kami telah benar-benar masuk ke wilayah gunung.
Sepanjang ingatan saya, jarak dari pintu rimba menuju Pos 1 tidak terlalu jauh. Di Pos 1, kami juga menjumpai beberapa pendaki yang mendirikan tenda untuk bermalam.
Sumber air bersih tersedia di sini. Pos 1 memang ideal untuk berkemah, areanya cukup luas, air mengalir, jaraknya tidak terlalu jauh dari pos evakuasi, dan cuacanya relatif lebih stabil dibandingkan area di atasnya.
Namun, jika Pos 1 masih memberi ruang bernapas, maka lintasan menuju Pos 2 adalah awal dari ujian sesungguhnya.
Jaraknya terasa sangat jauh, bukan lagi hitungan menit, melainkan jam. Vegetasi semakin rapat. Pohon-pohon besar menemani langkah kami, sementara jalur pendakian tetap berupa tanjakan konsisten yang dipenuhi batu dan akar, berfungsi sebagai pegangan sekaligus pijakan.
Di kanan dan kiri, jurang mulai sering kami jumpai. Hujan dan angin kencang terus menyertai, membuat setiap langkah terasa berat.
Lintasan dari Pos 2 menuju Pos 3 terasa lebih ekstrem. Jalur semakin sempit, vegetasi makin rapat. Setiba di Pos 3, kami beristirahat sejenak, membuka perbekalan, serta melaksanakan salat Zuhur dan Asar dengan cara dijamak.
Ibadah itu kami lakukan di tengah ketinggian, hujan badai, serta suasana lembap dan basah. Dengan sangat terpaksa, kami tidak dapat melakukan sujud secara sempurna.
Menuju Pos 4, vegetasi semakin rapat dan lumut mendominasi pepohonan. Jalur pendakian makin menantang. Kami tampaknya mulai memasuki punggungan Gunung Rajabasa.
Lintasan setapak dengan jurang curam di kanan dan kiri semakin sering ditemui. Jalur hanya cukup dilewati satu orang. Kadang menanjak, kadang menurun.
Hujan seharian membuat pijakan licin dan berlumpur. Beberapa kali sepatu saya terperosok ke dalam lumpur. Pakaian kami basah kuyup meskipun telah mengenakan jas hujan. Air tetap merembes melalui celah-celah kecil antara tubuh dan pakaian.
Perjalanan dari Pos 4 menuju puncak adalah perjalanan yang menantang sekaligus indah. Aura wingit terasa kental. Di beberapa titik, kami menemukan batu-batu besar menyerupai cetakan, dengan celah seukuran tubuh manusia, seakan menjadi tempat persembunyian.
Pemandangannya indah, tetapi juga menghadirkan rasa gentar. Di antara Pos 4 hingga puncak inilah hutan yang sesungguhnya terasa. Sinar matahari seolah enggan menembus kanopi, membuat lumut mendominasi hampir seluruh permukaan.
Akhirnya, kami tiba di Puncak Gunung Rajabasa. Setelah menaklukkan tanjakan, turunan, lalu tanjakan kembali, kami sampai juga di puncak.
Tidak ada euforia berlebihan. Yang ada hanyalah rasa syukur yang dalam. Barangkali karena kami sadar bahwa perjalanan belum benar-benar selesai.
Melelahkan dan Menyenangkan
Tak disangka, perjalanan turun terasa lebih berat dibandingkan saat mendaki. Kami bertemu malam, dan tentu saja, kegelapan.
Beruntung kami membawa headlamp, meski harus berjalan berlima hanya dengan tiga buah. Headlamp saya dan satu rekan lainnya tiba-tiba mati dan tak dapat digunakan.
Justru pada fase turun inilah banyak insiden terjadi, sepatu yang tak lagi bisa dipakai, celana robek, jas hujan sobek, hingga tergelincir berkali-kali. Saya sendiri sempat terpeleset di jalur yang sangat licin tanpa pijakan, dengan sisi kanan berupa tebing dan sisi kiri jurang curam.
Pendakian ini bahkan disebut-sebut sebagai pendakian terparah tahun ini oleh warga lokal, para pengojek, dan salah satu pengelola basecamp.
Hari itu menjadi pendakian dengan jumlah evakuasi terbanyak. Banyak pendaki yang tidak sanggup kembali ke basecamp. Syukurlah, meski harus menghadapi berbagai insiden, nyeker, tergelincir, hingga headlamp mati, kami berlima berhasil kembali dengan selamat.
Pengalaman ini menjadi nasihat penting bagi siapa pun yang hendak mendaki, terlebih jika ini adalah pendakian perdana, tidak ada yang benar-benar bisa disebut pendakian untuk pemula.
Setiap pendakian menuntut persiapan matang, sebab yang kita hadapi adalah alam, gunung, dan kuasa Sang Pencipta semesta, sesuatu yang tidak pernah sepenuhnya bisa diprediksi.
Catatan ini saya tulis enam hari setelah pendakian, pada 14 Desember 2025. Kami berangkat pada Minggu subuh dan kembali pada Senin subuh.
Melelahkan, tetapi menyenangkan. Dan, insyaallah, target berikutnya adalah menapaki puncak-puncak gunung di Lampung, sebagai persiapan suatu hari membawa istri dan anak-anak bermalam di Ranu Kumbolo. Semoga. Aamiin.
Kalau Anda, berencana mendaki ke mana?
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Catatan Pendakian Menuju Puncak Rajabasa"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang