
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Ini merupakan perjalanan rasa yang dilakukan pada akhir pekan di tempat "Anak Jaksel" biasa mangkal. Ya, dari semangkuk mie legendaris di pagi hari hingga sate taichan hangat di bawah flyover pada malam hari.
Niat awal ingin memberi tubuh waktu beristirahat, tetapi mata dan lidah seolah ikut meminta haknya untuk dimanjakan. Begitulah yang terjadi pada suatu Minggu pagi, ketika rutinitas olahraga membawa saya melintasi kawasan Blok A.
Sekitar pukul 05.50, saat melintas di bawah Stasiun MRT Blok A menuju Bundaran HI, perhatian saya tertuju pada sebuah kedai mie yang sudah tampak ramai dan tertata rapi.
Pemandangan itu memunculkan satu pertanyaan sederhana di kepala, mie apa yang sudah buka sepagi ini dan bahkan didatangi banyak orang?
Tak sempat berhenti lama, tetapi rasa penasaran terus terbawa sepanjang perjalanan. Usai berolahraga, jari-jari mulai bekerja mencari tahu.
Bermodal lokasi, akhirnya terungkap bahwa kedai tersebut adalah salah satu kuliner legendaris Jakarta Selatan yang belakangan kembali ramai diperbincangkan.
Rencana istirahat pun sedikit digeser. Hari itu, saya memutuskan untuk sekalian berburu kuliner hingga malam.
Mie Kondang Sejak 1980-an dan Sepenggal Nostalgia Jakarta
Kedai Mie Kondang menyambut dengan suasana yang bersahaja. Menu yang terpampang sederhana, tetapi menggoda: mie ayam, bakso, bihun, kwetiau, dengan pilihan topping bakso, pangsit, atau komplit. Bersama Ibu, kami memesan dua menu berbeda—kwetiau pangsit dan mie ayam pangsit.
Semangkuk besar kwetiau tersaji dengan potongan ayam, sawi, dan kerupuk pangsit. Dua pangsit rebus berukuran besar disajikan terpisah dengan kuah bening dan taburan daun bawang.
Tampilan awalnya terlihat sederhana, bahkan cenderung bening. Namun, begitu suapan pertama masuk ke mulut, rasa gurih langsung terasa. Bumbunya khas, sulit dijelaskan, tetapi jelas meninggalkan kesan.
Menariknya, sepanjang menikmati hidangan, saya tidak menambahkan kecap, saus, maupun sambal. Rasanya sudah pas sejak awal. Sentuhan kecap pada ayamnya pun terasa ringan dan menyatu. Original, tetapi justru di situlah kelezatannya.
Tekstur mie dan kwetiaunya cukup besar dan kenyal, tanpa aroma yang mengganggu. Pangsitnya pun tak kalah istimewa—jumbo, berisi penuh, dengan kulit yang halus dan lebar.
Bahkan ukuran mangkuknya terasa lebih besar dari kebanyakan kedai mie ayam. Baru setelah habis, saya menyadari bahwa porsi, isian, dan ukuran mangkuk benar-benar sepadan.
Dengan harga Rp22.000 per porsi, pengalaman ini terasa layak. Selisih harga untuk menu lain pun hanya berkisar Rp2.000 hingga Rp6.000. Jika meminjam ungkapan khas anak Jakarta Selatan: worth it.
Kedai ini tak pernah benar-benar sepi. Anak muda hingga orang tua silih berganti datang. Dari obrolan singkat dengan penyaji, saya tahu bahwa Mie Kondang ini sudah ada sejak era 1980-an dan hanya buka hingga pukul dua siang. Tak heran jika banyak yang datang pagi-pagi.
Usai makan, perhatian Ibu tertuju pada sebuah tempat yang berdampingan dengan kedai mie tersebut: Jakarta Foto. Seketika, wajahnya berbinar. Tempat itu rupanya menyimpan kenangan lama.
“Masih ada, ya. Dulu kalau mau cetak foto Kakak, Ibu selalu ke sini,” katanya, mengenang era 1990-an, ketika mencetak foto masih menjadi momen istimewa. Jakarta Foto kala itu bukan sekadar tempat cetak, tetapi juga studio sederhana lengkap dengan properti.
Kami hanya mengintip dari luar, tetapi nuansa tahun 90-an masih terasa kuat dari foto-foto yang terpajang.
Bagi yang ingin berkunjung, lokasi Mie Kondang dan Jakarta Foto ini sangat mudah dijangkau. Tepat di dekat tangga Stasiun MRT Blok A, cukup ketik “Mie Kondang Blok A” di peta digital.
Menikmati Taichan di Bawah Pohon dan Flyover
Malam harinya, perjalanan kuliner berlanjut ke kawasan Senayan Simprug. Tujuannya satu: sate taichan yang pernah viral saat masa pandemi, meski sejatinya sudah ada jauh sebelum itu. Bahkan, saya sudah mengenalnya sejak sekitar 2016.
Bersama rekan, kami memesan taichan kulit dan taichan campur. Pilihannya jelas: daging, kulit, atau campuran. Fleksibel, sesuai selera. Sepiring sate datang bersama lontong, sambal, bubuk kaldu, jeruk nipis, dan bawang goreng.
Tak sulit memahami mengapa sate taichan ini begitu populer. Sambalnya memiliki karakter khas—gurih, pedasnya bersahabat, dan tidak pelit. Bebas nambah.
Meski begitu, sejak semakin viral, tingkat kepedasan sedikit meningkat mengikuti permintaan pelanggan.
Selain sambal, keistimewaan lainnya terletak pada daging dan proses pembakarannya. Daging dimarinasi dengan bumbu rahasia sebelum dibakar, dan selama proses pembakaran terus diolesi bumbu yang sama. Hasilnya, sate terasa juicy dengan rasa yang meresap hingga ke dalam.
Saya menyaksikan sendiri bagaimana tempat ini berkembang. Dari masa awal ketika pemiliknya langsung melayani pelanggan, hingga kini dengan beberapa karyawan. Namun, satu hal tak berubah: pelayanannya tetap ramah dan cekatan.
Suasana makannya pun unik. Meja-meja sederhana berada tepat di bawah flyover dan di bawah rindangnya pohon. Aneh tapi nyata, suasananya justru tenang dan membuat betah. Tak heran jika banyak yang menyebutnya sebagai seni bersantap di bawah pohon dan flyover.
Dengan harga Rp20.000 per porsi sate dan tambahan Rp5.000 untuk lontong, tempat ini terasa ramah di kantong. A
neka minuman dan jajanan ringan pun tersedia dengan harga terjangkau. Lokasinya di Jalan Patal Senayan Simprug, tepat di bawah Flyover Permata Hijau, buka selepas magrib.
Tape Uli dan Penutup Hari Minggu
Siang harinya, saya sempat bertemu penjual tape uli keliling. Makanan tradisional ini terasa langka, biasanya hanya muncul saat Lebaran. Dengan Rp15.000, saya mendapatkan tiga uli dan satu plastik ketan.
Seperti biasa, Ibu memastikan, “Ulinya baru, kan?” Penjual menjawab singkat, “Masih anget, Bu.” Rasanya pun tak mengecewakan. Manis, bersih, dan disajikan rapi dengan daun pisang.
Begitulah Minggu saya berlalu—berburu kuliner legendaris dan viral, sekaligus memungut potongan nostalgia.
Setelah semua selesai, satu hal terasa pasti: mata dan lidah benar-benar dimanjakan. Segar kembali, dengan rasa yang masih tertinggal.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Berburu Mie Kondang dan Taichan, Kuliner Legendaris Favoritnya "Anak Jaksel""
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang