
Ada kepuasan tersendiri menikmati semangkuk lodeh hangat di pagi hari—rasanya seperti pulang sebentar ke dapur rumah sebelum kembali menghadapi hiruk-pikuk aktivitas.
Kenangan itu bahkan sudah tertanam sejak masa kecil. Saya masih ingat betul menikmati nasi putih dengan lauk tahu besar tanpa kuah tambahan, karena tahu jumbonya sudah lebih dulu menyerap bumbu lodeh yang lezat.
Saat disuapkan bersama nasi, kuah yang tersimpan di dalam tahu seakan “pecah” di lidah, menghadirkan rasa gurih yang khas, dengan aroma bawang goreng yang begitu mantap. Sensasi itu, hingga kini, masih sama.
Bagi pengunjung yang ingin menambah lauk, tersedia berbagai pilihan seperti empal, perkedel kentang, paru, otak, babat, mendhol, dan tempe. Semua disajikan tanpa pretensi, namun konsisten dalam rasa. Kesederhanaan inilah yang justru menjadi kekuatan depot ini.
Ruang depot yang tidak terlalu luas menciptakan suasana yang akrab. Pengunjung duduk berdekatan, obrolan mengalir pelan, dan waktu terasa melambat. Sebuah pengalaman yang kian jarang ditemui di tengah kota yang dipenuhi gerai cepat saji dan kuliner serba instan.
Pemilik depot mengakui bahwa jumlah pengunjung sempat berkurang setelah pandemi. Namun pada akhir pekan dan hari libur, suasana ramai kembali terasa.
Bahkan saat musim mudik dan Lebaran, banyak pelanggan dari Jakarta, Bali, dan kota-kota lain menyempatkan diri datang. Mereka kembali bukan semata karena lapar, melainkan untuk bernostalgia mencari rasa yang pernah menemani masa lalu.
Menariknya, Depot Asri Bu Saerun juga pernah menjadi tempat singgah sejumlah pesohor. Nama-nama seperti Band Jamrud, Baim, hingga Bondan Winarno tercatat pernah mencicipi rawon dan lodeh di sini.
Nah, di dinding depot, foto-foto kenangan itu terpajang, termasuk tanda tangan Bondan Winarno dengan catatan khasnya: “Pokok’e Mak Nyus!!!” Sebuah pengakuan jujur dari lidah yang terlatih.
Meski demikian, kehadiran para pesohor tak pernah mengubah wajah depot ini. Ia tetap sederhana, tetap membumi, dan tetap setia pada pelanggan setianya.
Seperti banyak depot legendaris lainnya, Depot Asri Bu Saerun mengingatkan kita bahwa kuliner yang bertahan lama tidak lahir dari sensasi sesaat, melainkan dari kesetiaan merawat rasa. Dari pikulan sederhana di tahun 1950an hingga hari ini, rawon dan lodeh di depot ini tetap berbicara dengan bahasa yang sama.
Di tengah kota yang terus berubah, Depot Asri Bu Saerun hadir sebagai penanda bahwa makanan terbaik sering kali datang dari tempat yang paling bersahaja: tempat rasa, ingatan, dan kehangatan tetap terjaga lintas generasi.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Tahu Jumbo dalam Lodeh dan Rawon Depot Asri Bu Saerun Malang yang Terjaga Sejak 1950-an"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.