
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Kira-kira kapan terakhir kali Kompasianer benar-benar bertamu ke rumah tetangga tanpa ada keperluan mendesak maupun undangan resmi? Ya, dateng saja, duduk, dan berbincang. Silaturahmi.
Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi menarik satu kebiasaan kita yang dulu sering dilakukan kini sudah jarang dijalani.
Apalagi di tengah kehidupan yang kian individual dan serba cepat, bertamu perlahan kehilangan tempatnya. Rumah berubah menjadi ruang privat yang nyaris tak tersentuh, sementara relasi sosial lebih sering dipelihara lewat layar.
Berikut ini kami coba rangkumkan konten-konten yang ikut dalam Topik Pilihan ini karena merekam kegelisahan: tentang jarak yang makin nyata, meski kita tinggal berdempetan.
1. Di Era Grup WhatsApp, Masih Perlukah Tetangga?
Beberapa waktu lalu, dalam tulisannya Kompasianer Julianda Boang Manalu nyata tersadar satu hal sederhana: tinggal di lingkungan yang cukup padat, rumah saling berdempetan, tetapi nyaris tidak mengenal siapa yang tinggal di balik tembok-tembok itu.
Menariknya lagi meskti tidak begitu mengenal siapa saja tetangganya, tetapi Kompasianer Julianda Boang Manalu tahu nama, kabar, bahkan tahu kapan ada hajatan atau musibah.
Dari segala kegelisahan sosial ini, Kompasianer Julianda Boang Manalu menyadari bahwa semua itu terangkum di grup whatsapp.
"Tidak bisa dimungkiri, grup WhatsApp telah menjadi ruang sosial baru. Ia memudahkan komunikasi, mempercepat koordinasi, dan menghapus jarak. Dalam satu pesan, puluhan bahkan ratusan orang bisa menerima informasi yang sama secara bersamaan," tulisnya. (Baca selengkapnya)
2. "Maaf, Saya Bukannya Sombong" tapi Baterai Sosial Saya Sudah Habis
Banyak orang membayangkan kehidupan desa selalu hangat dan terbuka, dengan tradisi bertamu yang cair tanpa jarak.
Namun, bagi Kompasianer Anditya Wiganingrum yang hidup di desa sekaligus bekerja dalam ritme modern sebagai guru, gambaran itu tak sepenuhnya berlaku.
Rumah yang sunyi bukan tanda sikap dingin, melainkan konsekuensi dari energi yang terkuras habis oleh tuntutan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.
"Perbedaan ritme antara dunia pendidikan yang serba cepat dengan kehidupan desa yang santai menciptakan tembok transparan yang semakin tinggi antara saya dan lingkungan sosial yang komunal," tulis Kompasianer Anditya Wiganingrum. (Baca selengkapnya)
3. Jadilah Tamu yang "Buta" ketika Datang dan "Bisu" ketika Pulang, Emang Bisa?
Dalam praktiknya, sifat dasar manusia yang gemar mengamati dan membicarakan kehidupan orang lain membuat adab ini sulit dijalankan. Bertamu justru sering berubah menjadi ajang "audit sosial", yang mana detail rumah, gaya hidup, hingga masalah keluarga tuan rumah menjadi bahan pengamatan dan gosip.
Alih-alih pulang dalam keadaan "bisu", tamu kerap membawa pulang amunisi cerita yang siap dibagikan ke berbagai lingkaran pertemanan.
Kesadaran akan kecenderungan tersebut menurut Kompasianer Nurul Rahmawati memilih menjaga jarak dari aktivitas bertamu maupun menerima tamu.
Sebagai tamu, Kompasianer Nurul Rahmawati merasa belum sanggup sepenuhnya menahan hasrat kepo dan bergunjing. Sedangkan kalau jadi tuan rumah, ada kekhawatiran bahwa tamu pun sulit benar-benar "buta" dan "bisu".
Alih-alih memutus silaturahmi, malah menawarkan alternatif yang lebih realistis: bertemu di lokasi netral atau menyarankan penginapan bagi tamu yang ingin menginap. (Baca selengkapnya)
4. Ketika Ngayo Menjadi Jeda yang Terlupa
Konten yang dibuat oleh Kompasiner Beryn Imtihan dibuka dengan pertemuan dua sahabat lama di aula desa yang kini berada dalam peran berbeda.
Nah, dari percakapan ringan itu muncul refleksi tentang tradisi Sasak bernama ngayo yakni bertamu sebagai laku timbal balik untuk merawat kedekatan sosial.
Sayangnya kebiasaan itu nyaris hilang seiring perubahan peran dan ritme hidup.
Bersamaan dengan itu, menurut Kompasiner Beryn Imtihan, rumah mengalami pergeseran makna: tidak lagi sepenuhnya ruang sosial, melainkan ruang privat yang dijaga.
Datang tanpa janji menimbulkan rasa sungkan. Norma baru ini membuat pintu lebih sering tertutup. (Baca selengkapnya)
***
Ingin tahu konten-konten menarik lainnya terkait fenomena bertamu ke tetangga sebagai praktik sosial yang kian tergerus zaman, silakan simak Topik Pilihan: Makin Jarang Ada yang Bertamu ke Rumah, Kenapa Ya?
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Bertamu ke Tetangga, Praktik Sosial yang Kian Tergerus Zaman"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang