Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompasiana News
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Kompasiana News adalah seorang yang berprofesi sebagai Editor. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Alasan-alasan Kita Jarang Bertamu ke Rumah Tetangga

Kompas.com, 1 Februari 2026, 18:54 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Kira-kira kapan terakhir kali Kompasianer benar-benar bertamu ke rumah tetangga tanpa ada keperluan mendesak maupun undangan resmi? Ya, dateng saja, duduk, dan berbincang. Silaturahmi.  

Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi menarik satu kebiasaan kita yang dulu sering dilakukan kini sudah jarang dijalani.

Apalagi di tengah kehidupan yang kian individual dan serba cepat, bertamu perlahan kehilangan tempatnya. Rumah berubah menjadi ruang privat yang nyaris tak tersentuh, sementara relasi sosial lebih sering dipelihara lewat layar.

Berikut ini kami coba rangkumkan konten-konten yang ikut dalam Topik Pilihan ini karena merekam kegelisahan: tentang jarak yang makin nyata, meski kita tinggal berdempetan.

1. Di Era Grup WhatsApp, Masih Perlukah Tetangga?

Beberapa waktu lalu, dalam tulisannya Kompasianer Julianda Boang Manalu nyata tersadar satu hal sederhana: tinggal di lingkungan yang cukup padat, rumah saling berdempetan, tetapi nyaris tidak mengenal siapa yang tinggal di balik tembok-tembok itu.

Menariknya lagi meskti tidak begitu mengenal siapa saja tetangganya, tetapi Kompasianer Julianda Boang Manalu tahu nama, kabar, bahkan tahu kapan ada hajatan atau musibah.

Dari segala kegelisahan sosial ini, Kompasianer Julianda Boang Manalu menyadari bahwa semua itu terangkum di grup whatsapp.

"Tidak bisa dimungkiri, grup WhatsApp telah menjadi ruang sosial baru. Ia memudahkan komunikasi, mempercepat koordinasi, dan menghapus jarak. Dalam satu pesan, puluhan bahkan ratusan orang bisa menerima informasi yang sama secara bersamaan," tulisnya. (Baca selengkapnya)

2. "Maaf, Saya Bukannya Sombong" tapi Baterai Sosial Saya Sudah Habis

Banyak orang membayangkan kehidupan desa selalu hangat dan terbuka, dengan tradisi bertamu yang cair tanpa jarak.

Namun, bagi Kompasianer Anditya Wiganingrum yang hidup di desa sekaligus bekerja dalam ritme modern sebagai guru, gambaran itu tak sepenuhnya berlaku.

Rumah yang sunyi bukan tanda sikap dingin, melainkan konsekuensi dari energi yang terkuras habis oleh tuntutan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.

"Perbedaan ritme antara dunia pendidikan yang serba cepat dengan kehidupan desa yang santai menciptakan tembok transparan yang semakin tinggi antara saya dan lingkungan sosial yang komunal," tulis Kompasianer Anditya Wiganingrum. (Baca selengkapnya)

3. Jadilah Tamu yang "Buta" ketika Datang dan "Bisu" ketika Pulang, Emang Bisa?

Dalam praktiknya, sifat dasar manusia yang gemar mengamati dan membicarakan kehidupan orang lain membuat adab ini sulit dijalankan. Bertamu justru sering berubah menjadi ajang "audit sosial", yang mana detail rumah, gaya hidup, hingga masalah keluarga tuan rumah menjadi bahan pengamatan dan gosip.

Alih-alih pulang dalam keadaan "bisu", tamu kerap membawa pulang amunisi cerita yang siap dibagikan ke berbagai lingkaran pertemanan.

Kesadaran akan kecenderungan tersebut menurut Kompasianer Nurul Rahmawati memilih menjaga jarak dari aktivitas bertamu maupun menerima tamu.

Sebagai tamu, Kompasianer Nurul Rahmawati merasa belum sanggup sepenuhnya menahan hasrat kepo dan bergunjing. Sedangkan kalau jadi tuan rumah, ada kekhawatiran bahwa tamu pun sulit benar-benar "buta" dan "bisu".

Alih-alih memutus silaturahmi, malah menawarkan alternatif yang lebih realistis: bertemu di lokasi netral atau menyarankan penginapan bagi tamu yang ingin menginap. (Baca selengkapnya)

4. Ketika Ngayo Menjadi Jeda yang Terlupa

Konten yang dibuat oleh Kompasiner Beryn Imtihan dibuka dengan pertemuan dua sahabat lama di aula desa yang kini berada dalam peran berbeda.

Nah, dari percakapan ringan itu muncul refleksi tentang tradisi Sasak bernama ngayo yakni bertamu sebagai laku timbal balik untuk merawat kedekatan sosial.

Sayangnya kebiasaan itu nyaris hilang seiring perubahan peran dan ritme hidup.

Bersamaan dengan itu, menurut Kompasiner Beryn Imtihan, rumah mengalami pergeseran makna: tidak lagi sepenuhnya ruang sosial, melainkan ruang privat yang dijaga.

Datang tanpa janji menimbulkan rasa sungkan. Norma baru ini membuat pintu lebih sering tertutup. (Baca selengkapnya)

***

Ingin tahu konten-konten menarik lainnya terkait fenomena bertamu ke tetangga sebagai praktik sosial yang kian tergerus zaman, silakan simak Topik Pilihan: Makin Jarang Ada yang Bertamu ke Rumah, Kenapa Ya?

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Bertamu ke Tetangga, Praktik Sosial yang Kian Tergerus Zaman"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Seberapa Penting Keterbukaan Finansial dalam Rumah Tangga?
Seberapa Penting Keterbukaan Finansial dalam Rumah Tangga?
Kata Netizen
Reusable Bag hingga Panen Kompos, Langkah Kecil Mengurangi Sampah
Reusable Bag hingga Panen Kompos, Langkah Kecil Mengurangi Sampah
Kata Netizen
Kembali KKN dengan Peran yang Berbeda
Kembali KKN dengan Peran yang Berbeda
Kata Netizen
Meningkatnya Kejahatan Jalanan, Keresahan Bersama di Bandung
Meningkatnya Kejahatan Jalanan, Keresahan Bersama di Bandung
Kata Netizen
Mekar di Negeri Orang, Menjaga Harapan untuk Pulang
Mekar di Negeri Orang, Menjaga Harapan untuk Pulang
Kata Netizen
Langkah Kecil Kaum Urban Kurangi Sampah Rumah Tangga
Langkah Kecil Kaum Urban Kurangi Sampah Rumah Tangga
Kata Netizen
Sastra Indonesia dan Peluang Menjadi Wirausahawan Literasi
Sastra Indonesia dan Peluang Menjadi Wirausahawan Literasi
Kata Netizen
Liburan yang Tak Terlupakan karena Cacar Air
Liburan yang Tak Terlupakan karena Cacar Air
Kata Netizen
Realitas Keuangan ASN yang Jarang Orang Ketahui
Realitas Keuangan ASN yang Jarang Orang Ketahui
Kata Netizen
Di Balik Semua Stereotip ASN, Mana yang Benar?
Di Balik Semua Stereotip ASN, Mana yang Benar?
Kata Netizen
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Kata Netizen
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Kata Netizen
Bukan Sekadar Arisan, Ada Cerita yang Menyatukan Keluarga
Bukan Sekadar Arisan, Ada Cerita yang Menyatukan Keluarga
Kata Netizen
AI Mengubah Cara Bekerja, Bukan Menghapus Kesempatan
AI Mengubah Cara Bekerja, Bukan Menghapus Kesempatan
Kata Netizen
Antara Uang Kuliah dan Nilai Akademik
Antara Uang Kuliah dan Nilai Akademik
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau