
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Seperti apa lingkungan sekolah yang ideal bagi anak? Apakah cukup menghadirkan ruang kelas yang nyaman dan aturan yang tertib, atau justru perlu menjadi tempat yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan kegemaran berkarya sejak hari pertama mereka belajar?
Memasuki tahun ajaran baru, ribuan sekolah di berbagai daerah kembali menyelenggarakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Para kepala sekolah dan guru memperkenalkan diri kepada peserta didik baru, mengenalkan fasilitas sekolah, memaparkan berbagai prestasi yang pernah diraih, sekaligus menjelaskan tata tertib yang akan menjadi pedoman selama mereka belajar.
Semua itu merupakan bagian penting dari proses adaptasi.
Namun, bagi anak-anak—terutama mereka yang baru memasuki jenjang taman kanak-kanak atau sekolah dasar, lingkungan sekolah sering kali dimaknai dengan cara yang berbeda dibandingkan orang dewasa.
Bagi mereka, sekolah bukan sekadar ruang belajar. Sekolah adalah tempat baru yang penuh rasa penasaran, tempat menemukan teman, bermain, mencoba berbagai hal, dan membangun pengalaman pertama yang akan terus mereka kenang.
Karena itu, lingkungan sekolah idealnya tidak hanya dipenuhi aturan dan rutinitas seperti apel pagi atau upacara. Ia juga perlu menjadi ruang yang mampu merangsang imajinasi serta memberi kesempatan anak untuk berkreasi.
Lingkungan Sekolah dan Ruang Bermain
Bagi banyak orang tua, aktivitas mengantar anak ke sekolah sudah menjadi rutinitas sehari-hari.
Saat mengantar, perhatian mereka sering tertuju pada suasana di sekitar gerbang sekolah. Dahulu, kawasan ini hampir selalu diramaikan pedagang kaki lima yang menjual aneka jajanan dan mainan sederhana.
Keberadaan para pedagang tersebut secara tidak langsung ikut membentuk pengalaman masa kecil banyak orang.
Kini situasinya mulai berubah. Program Makan Bergizi Gratis (MBG), misalnya, sedikit banyak mengubah pola penggunaan uang saku anak.
Jika sebelumnya sebagian besar uang jajan digunakan membeli makanan ringan, kini muncul peluang agar uang tersebut lebih diarahkan untuk kebutuhan lain yang memiliki nilai edukatif, termasuk membeli mainan yang dapat merangsang kreativitas.
Uang jajan sejatinya memang memiliki dua sisi. Di satu sisi, ia mengajarkan anak mengelola keuangan dan menentukan prioritas. Di sisi lain, ia juga dapat menjadi sarana mengenalkan pilihan-pilihan yang mendorong proses belajar melalui permainan.
Ketika Mainan Menjadi Sarana Berkarya
Banyak dari kita mungkin masih mengingat masa kecil ketika halaman sekolah dipenuhi penjual mainan tradisional.
Mainan-mainan tersebut umumnya dibuat dari bahan sederhana seperti kayu, bambu, atau limbah pertanian. Meski tampilannya jauh dari kata modern, justru di situlah letak daya tariknya.
Salah satunya adalah mainan yang dibuat dari glonggong atau glagah, yakni batang bunga tanaman tebu yang ringan dan mudah dibentuk.