Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sharfina
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Sharfina adalah seorang yang berprofesi sebagai Editor. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Langkah Kecil Kaum Urban Kurangi Sampah Rumah Tangga

Kompas.com, 28 Juli 2026, 11:51 WIB

Mungkinkah perubahan besar dalam pengelolaan sampah justru berawal dari kebiasaan-kebiasaan sederhana yang dilakukan di rumah sendiri?

Pertanyaan tersebut hadir ketika kita menyadari jika rumah sering dipandang sebagai tempat paling nyaman untuk pulang.

Namun tanpa disadari, rumah tangga juga menjadi salah satu penyumbang terbesar timbunan sampah di Indonesia. Sebagian besar limbah yang kita hasilkan setiap hari berasal dari aktivitas yang tampak sederhana, seperti memasak, berbelanja, hingga mengonsumsi berbagai kebutuhan rumah tangga.

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang dikutip Goodstats pada 2025 menunjukkan bahwa sekitar 56,7 persen sampah berasal dari aktivitas rumah tangga, sementara 13,7 persen berasal dari pasar.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga berhubungan erat dengan kebiasaan yang kita bangun setiap hari di rumah.

Peningkatan pola konsumsi masyarakat, terutama penggunaan produk sekali pakai, kemasan makanan, hingga berbagai barang kebutuhan sehari-hari yang sulit terurai, turut memperbesar volume sampah yang dihasilkan.

Hampir setiap aktivitas rumah tangga meninggalkan jejak limbah, mulai dari belanja, memasak, menggunakan peralatan elektronik, hingga memakai produk perawatan diri.

Sayangnya, kesadaran untuk mengenali jenis maupun jumlah sampah yang dihasilkan dari rumah masih belum menjadi kebiasaan banyak orang.

Padahal, memilah sampah sejak dari sumbernya merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mengurangi beban tempat pembuangan akhir.

Kesadaran itulah yang perlahan saya coba terapkan di rumah. Semuanya dimulai dari langkah kecil, yakni memilah sampah anorganik seperti botol plastik dan kantong plastik.

Saya semakin terdorong setelah mengetahui bahwa plastik yang mungkin hanya digunakan beberapa menit ternyata membutuhkan waktu sekitar 400 hingga 500 tahun untuk terurai di alam.

Fakta tersebut membuat saya mulai berpikir ulang sebelum membuang berbagai barang berbahan plastik.

Botol plastik bekas, misalnya, tidak langsung berakhir di tempat sampah. Di rumah, botol-botol tersebut kami manfaatkan kembali menjadi pot tanaman dengan sistem penyiraman sederhana. Caranya cukup mudah, botol dibelah menjadi dua bagian.

Bagian atas dibalik sehingga mulut botol menghadap ke bawah dan diletakkan di atas bagian bawah yang telah diisi air. Bagian atas kemudian diisi media tanam beserta tanamannya. Dengan cara ini, botol plastik memiliki fungsi baru yang lebih bermanfaat.

Begitu pula dengan wadah makanan berbahan plastik atau thinwall yang sering diperoleh saat membeli nasi kotak maupun makanan siap saji.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Ketemu Vitamin A-syik saat Jogging Malam di Manahan
Kata Netizen
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Menjadi Guru Tak Cukup Hanya dengan Keikhlasan
Kata Netizen
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Anggrek Membawa Saya Kembali kepada Kuntowijoyo
Kata Netizen
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Mindfulness Bukan Sekadar Menjauh dari Kabar Buruk
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Menyusuri Jejak Sejarah Kali Pepe di Tengah Kota Solo
Kata Netizen
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Karhutla Mapongka Mendekati Bandara dan Sekolah Rakyat
Kata Netizen
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kesendirian Tak Lagi Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Kata Netizen
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Kata Netizen
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Kata Netizen
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Kata Netizen
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Kata Netizen
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Kata Netizen
Bandung, Kota yang Memberi Ruang bagi Tumbuhnya Bakat
Bandung, Kota yang Memberi Ruang bagi Tumbuhnya Bakat
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau