
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Kini, lapaknya jauh lebih banyak. Kecuali pedagang bakso keliling dan siomay pikulan, sebagian besar penjual adalah warga sekitar yang mencoba peruntungan di bawah jalan layang tersebut.
Ruang publik di bawah flyover perlahan berubah menjadi ruang usaha. Barangkali ini cara warga mengisi waktu luang dengan kegiatan produktif.
Jalan realistis untuk mencari tambahan penghasilan di tengah janji pemerataan ekonomi yang masih terasa jauh.
Pasarnya cukup jelas: warga sekitar, para pelintas, pencari sarapan dan makan siang, hingga orang-orang seperti saya—yang sekadar ingin menyeruput kopi sambil memandang kereta lewat.
Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah para pedagang ini menyewa tempat? Apakah ada pungutan liar dari preman atau organisasi tertentu?
Ternyata tidak. Mereka hanya membayar iuran kebersihan sebesar Rp10.000 per bulan yang dikelola pihak lingkungan (RT/RW). Entah iuran murah itu yang mendorong bertambahnya pedagang, atau justru iuran muncul setelah lapak semakin banyak.
Nah, yang jelas, jumlah pedagang terus bertambah, mengisi trotoar, taman, dan ruang kosong di sekitar rel.
Di titik ini, muncul kegelisahan: jika pedagang terus bertambah tanpa penataan, ruang publik di bawah flyover ini akan menjadi apa?
Kini, perlintasan sebidang di kawasan itu tidak lagi dilalui kendaraan bermotor. Area tersebut hanya bisa dilalui pejalan kaki, meski tetap membutuhkan kewaspadaan karena tidak ada palang atau penjaga pintu.
Ruang di bawah flyover berfungsi sebagai trotoar, taman, serta jalur konektivitas warga sekitar.
Secara visual, tempat ini sebenarnya cantik. Banyak orang berhenti sejenak untuk memandang rangkaian gerbong keperakan yang melintas cepat.
Ada pula warga yang sejak lama menyeberangi rel untuk berjalan kaki menuju kawasan Air Mancur. Potensi inilah yang secara alami menggerakkan aktivitas ekonomi warga.
Awalnya hanya satu-dua penjual kopi saset dan penganan sarapan. Lalu bertambah dua, tiga, hingga beberapa usaha kuliner. Jika dibiarkan tanpa arah, bukan tidak mungkin suatu hari kawasan ini menjadi semrawut, kumuh, dan kehilangan rasa aman.
Dalam situasi seperti itu, konflik kerap muncul penggusuran, perlawanan, dan ketegangan sosial yang berulang kali kita baca di berita.
Padahal, sebelum sampai pada titik ekstrem, masih ada ruang untuk bersikap bijak.