
Dari pengalaman sederhana ini, saya belajar bahwa tantangan utama pendidikan di era digital bukan semata soal ketersediaan teknologi. Yang jauh lebih penting adalah keberanian untuk belajar dan mencoba.
Transformasi digital di sekolah tidak selalu harus dimulai dari proyek besar atau aplikasi mahal. Terkadang, ia justru berangkat dari kebutuhan sederhana dan keberanian orang biasa untuk keluar dari zona nyaman.
Jika sekolah ingin benar-benar bergerak maju, barangkali yang perlu dibangun bukan hanya infrastrukturnya, tetapi juga budaya belajarnya—bahwa mencoba hal baru, meski dengan keterbatasan, adalah bagian penting dari proses pendidikan itu sendiri.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Bel Sekolah Otomatis, Pengalaman Orang Biasa yang Awalnya Gaptek"
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT