
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Di tengah dorongan agar sekolah semakin terdigitalisasi, tidak semua pendidik dan tenaga kependidikan merasa berada di posisi yang sama.
Teknologi sering disebut sebagai solusi untuk berbagai persoalan, namun di saat yang bersamaan, ia juga bisa menjadi sumber kecanggungan bagi sebagian orang mereka yang merasa tertinggal, ragu untuk mencoba, atau akhirnya hanya menjadi pengguna pasif dari sistem yang dibuat oleh pihak lain.
Terus terang, saya termasuk dalam kelompok tersebut.
Saya bukan berlatar belakang teknologi informasi. Pendidikan saya adalah guru IPS. Bahkan, jika boleh jujur, saya kerap merasa kurang akrab dengan dunia teknologi.
Meski pernah mengikuti kursus komputer di era DOS Prompt, setelah itu saya lebih sering menggunakan apa yang sudah tersedia daripada mencoba membuat sesuatu sendiri.
Di sekolah, kami menggunakan sistem bel sekolah otomatis. Selama ini, bel tersebut mengandalkan aplikasi buatan pihak ketiga ada yang gratis, ada pula yang berbayar.
Bertahun-tahun saya menganggap itu sebagai sesuatu yang wajar. “Memang beginilah caranya,” pikir saya saat itu.
Namun, seiring waktu, muncul berbagai kendala. Aplikasi tidak selalu mudah diubah sesuai kebutuhan sekolah. Ketergantungan pada pihak lain terasa cukup besar. Ketika terjadi gangguan, pilihan kami terbatas: menunggu atau kembali mengeluarkan biaya.
Di sisi lain, guru piket tetap harus siaga setiap hari. Jika bel tidak berbunyi, maka bel manual harus dijalankan. Dalam praktiknya, kondisi ini melelahkan dan rawan terlewat, terutama di tengah aktivitas sekolah yang padat.
Dari situlah muncul keinginan untuk mencoba sesuatu yang berbeda.
Awal Mula Mencoba, dengan Banyak Keraguan
Suatu hari, saya memberanikan diri untuk bereksperimen. Bukan karena merasa mampu, melainkan karena rasa penasaran.
Saya mulai membaca dan mendengar tentang pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) yang katanya dapat membantu banyak hal. Awalnya ragu, apakah mungkin saya yang bukan orang IT bisa memanfaatkannya? Ternyata, dengan pendekatan yang sederhana, hal itu tidak sepenuhnya mustahil.
Saya mencoba membuat sistem bel otomatis sederhana menggunakan komputer sekolah yang sudah terhubung dengan perangkat audio.
Prosesnya jauh dari kata lancar. Script sering kali mengalami error, bel tidak berbunyi sesuai jadwal, dan beberapa perintah tidak berjalan sebagaimana mestinya. Beberapa kali muncul keinginan untuk menyerah dan kembali menggunakan sistem lama.