
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Namun karena sejak awal niatnya hanya mencoba dan belajar, saya memilih untuk melanjutkannya secara perlahan.
Momen Sederhana yang Berarti
Titik baliknya datang ketika bel itu akhirnya berbunyi otomatis.
Hanya rekaman sederhana yang disesuaikan dengan kebutuhan sekolah.
Namun saat bel masuk berbunyi tepat waktu, disusul pergantian jam, istirahat, hingga pulang sekolah, muncul satu kesadaran kecil namun bermakna: ternyata ini bisa dilakukan.
Dampaknya mulai terasa. Guru piket tidak lagi harus memencet bel secara manual. Kegiatan belajar mengajar berjalan lebih tertib. Suasana sekolah terasa lebih tenang dan teratur.
Tiga Minggu Masa Uji Coba
Meski demikian, saya tidak langsung merasa yakin. Sistem bel otomatis ini saya jalankan selama kurang lebih tiga minggu sebagai masa uji coba.
Hasilnya cukup menggembirakan. Banyak guru memberikan respons positif. Guru piket merasa sangat terbantu, dan hampir tidak ada lagi bel yang terlambat karena lupa. Padahal, sistem yang digunakan tergolong sederhana dan sepenuhnya gratis.
Di titik itu, saya mulai merenung. Selama ini kami bergantung pada aplikasi pihak lain, padahal dengan sedikit keberanian untuk belajar, kemandirian itu sebenarnya bisa dibangun.
Memaknai Peran Artificial Intelligence
Pengalaman ini juga mengubah cara pandang saya terhadap Artificial Intelligence. AI bukanlah sulap, dan tentu bukan pengganti peran manusia.
Ia hanyalah alat bantu. Yang tetap berperan utama adalah manusia itu sendiri—yang mau mencoba, menghadapi kesalahan, dan menyesuaikan solusi dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Jika saya yang merasa gaptek saja bisa memulai, rasanya bukan hal yang berlebihan untuk berharap bahwa lebih banyak pendidik pun dapat melakukan hal serupa.
Refleksi untuk Dunia Pendidikan
Dari pengalaman sederhana ini, saya belajar bahwa tantangan utama pendidikan di era digital bukan semata soal ketersediaan teknologi. Yang jauh lebih penting adalah keberanian untuk belajar dan mencoba.
Transformasi digital di sekolah tidak selalu harus dimulai dari proyek besar atau aplikasi mahal. Terkadang, ia justru berangkat dari kebutuhan sederhana dan keberanian orang biasa untuk keluar dari zona nyaman.
Jika sekolah ingin benar-benar bergerak maju, barangkali yang perlu dibangun bukan hanya infrastrukturnya, tetapi juga budaya belajarnya—bahwa mencoba hal baru, meski dengan keterbatasan, adalah bagian penting dari proses pendidikan itu sendiri.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Bel Sekolah Otomatis, Pengalaman Orang Biasa yang Awalnya Gaptek"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang