Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Noer Ashari
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Noer Ashari adalah seorang yang berprofesi sebagai Operator. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa

Kompas.com, 22 Februari 2026, 15:54 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Sudahkah kita benar-benar hadir untuk anak, atau selama ini kita hanya berada di dekatnya? Apakah yang mereka butuhkan adalah lamanya kebersamaan atau hangatnya perhatian yang utuh?

Kita mungkin merasa sudah bersama anak seharian. Rumah tidak pernah kita tinggalkan, kita duduk di dekatnya, mendengar suaranya, melihat ia bermain. Namun pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: apakah ia benar-benar merasa ditemani?

Tak jarang kita berada di ruangan yang sama, tetapi pikiran kita sibuk ke berbagai arah. Tangan memegang ponsel, mata menatap layar, sementara ia terus bercerita dengan wajah yang berharap ditatap balik. Kita merasa sudah hadir.

Padahal bagi anak, hadir bukan sekadar berada di sampingnya. Dan bisa jadi, tanpa kita sadari, yang ia cari bukan lamanya kebersamaan, melainkan hangatnya.

Sering kali kita merasa telah melakukan bagian kita. Kita di rumah seharian, ikut duduk saat anak bermain, menjawab pertanyaannya, menemaninya makan, mengantarnya tidur.

Lalu ketika ia tetap rewel, mudah marah, atau terus mencari perhatian, muncul rasa bingung yang perlahan berubah menjadi lelah.

Dalam hati mungkin terlintas, “Bukankah aku sudah di rumah seharian?” atau “Bukankah aku sudah menemaninya bermain?”

Rasanya tidak adil ketika upaya yang kita lakukan seolah belum cukup. Kita merasa sudah hadir, tetapi anak tetap tampak haus akan sesuatu yang belum sepenuhnya kita pahami. Di situlah kegelisahan muncul barangkali ada yang terlewat, bukan pada lamanya waktu, melainkan pada kualitas kebersamaan.

Selama ini kita kerap menghitung durasi: berapa jam di rumah, berapa lama menemani bermain, berapa menit mendengarkan cerita mereka. Kita fokus pada kuantitas. Padahal bagi anak, ukuran itu bukan angka.

Kuantitas berbicara tentang berapa lama kita ada di dekatnya. Kualitas berbicara tentang bagaimana rasanya ketika kita ada di sampingnya.

Anak tidak menghitung jam, mereka tidak mencatat durasi. Yang mereka rekam adalah perasaan: apakah ia merasa didengar, ditatap, dipeluk, atau justru diabaikan.

Dalam salah satu episode kanal YouTube Nikita Willy Official bertajuk #Momscorner 84 Anne Margareta | Berapa Lama Waktu Ibu Bekerja Bermain Bersama Anak?, dibahas bahwa kebersamaan bukan semata soal lamanya waktu ibu bekerja atau bermain bersama anak, melainkan tentang kualitas keterhubungan yang tercipta.

Satu jam tanpa distraksi bisa jauh lebih bermakna dibandingkan berjam-jam hadir secara fisik tetapi emosi tidak benar-benar terlibat.

Di sinilah mungkin letak titik baliknya: yang perlu diperbaiki bukan sekadar jadwal, melainkan cara kita hadir.

Dari sudut pandang psikologi anak, khususnya pada usia dini, yang sedang mereka bangun adalah rasa aman.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau