Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Noer Ashari
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Noer Ashari adalah seorang yang berprofesi sebagai Operator. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa

Kompas.com, 22 Februari 2026, 15:54 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Rasa aman tidak lahir dari lamanya kita berada di dekat mereka, melainkan dari bagaimana kita merespons mereka. Saat anak menangis dan kita menenangkan dengan lembut, saat ia bercerita dan kita benar-benar mendengarkan, di situlah fondasi emosional terbentuk.

Dalam psikologi dikenal konsep attachment atau kelekatan yang dipopulerkan oleh John Bowlby dan dikembangkan lebih lanjut oleh Mary Ainsworth.

Intinya sederhana: anak membutuhkan figur yang responsif dan konsisten agar ia merasa dunia ini aman. Ketika orang tua hadir secara emosional, anak belajar bahwa perasaannya penting dan dirinya layak dicintai.

Secara perkembangan otak, interaksi hangat—tatapan mata, sentuhan, senyum, nada suara yang lembut membantu membentuk jalur saraf yang berkaitan dengan regulasi emosi dan rasa percaya diri.

Dari rasa aman itulah keberanian, kemandirian, dan kepercayaan diri tumbuh. Bukan dari lamanya kita duduk di sampingnya, tetapi dari hangatnya hubungan yang kita bangun bersamanya.

Bayangkan dua situasi berbeda.

Pada situasi pertama, kita bersama anak selama tiga jam. Duduk di ruang yang sama, sesekali menjawab pertanyaannya, tetapi tangan tidak lepas dari gawai.

Notifikasi berbunyi, mata lebih sering tertuju pada layar, respons yang diberikan singkat dan terburu-buru. Secara fisik kita ada. Secara waktu, bahkan “cukup lama”. Namun anak mungkin merasa seperti berbicara sendiri.

Pada situasi kedua, mungkin hanya lima belas menit. Kita menyimpan ponsel, menatap matanya ketika ia bercerita, tertawa bersama saat ia bercanda, memeluknya ketika ia mendekat. Tidak ada distraksi. Tidak ada perhatian yang terbagi. Hanya ada kita dan dia, utuh.

Secara durasi, jelas berbeda. Namun secara rasa, bisa jadi lima belas menit itu jauh lebih membekas. Karena yang diingat anak bukan berapa lama kita duduk di sampingnya, melainkan apakah di momen itu ia merasa benar-benar dilihat, didengar, dan dicintai.

Maka mungkin pertanyaannya bukan lagi seberapa lama kita bersama anak, melainkan seberapa utuh kita hadir di dalamnya. Sudahkah kita benar-benar hadir, atau sekadar berada di dekatnya?

Refleksi ini bukan untuk menyalahkan diri sendiri. Kita semua sedang belajar, sedang berusaha, dan sering kali juga lelah.

Namun di tengah kesibukan itu, mungkin ada ruang kecil yang bisa diperbaiki bukan dengan menambah jam kebersamaan, tetapi dengan menambah kesadaran dalam setiap momen yang sudah ada.

Anak mungkin tak akan pernah ingat berapa jam kita menemaninya bermain. Namun mereka akan selalu ingat siapa yang membuatnya merasa aman dan dicintai.

Karena pada akhirnya, yang tinggal dalam ingatan bukan lamanya kebersamaan, melainkan hangatnya.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Yang Anak Ingat Bukan Lamanya, tetapi Hangatnya"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau