
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Rasa aman tidak lahir dari lamanya kita berada di dekat mereka, melainkan dari bagaimana kita merespons mereka. Saat anak menangis dan kita menenangkan dengan lembut, saat ia bercerita dan kita benar-benar mendengarkan, di situlah fondasi emosional terbentuk.
Dalam psikologi dikenal konsep attachment atau kelekatan yang dipopulerkan oleh John Bowlby dan dikembangkan lebih lanjut oleh Mary Ainsworth.
Intinya sederhana: anak membutuhkan figur yang responsif dan konsisten agar ia merasa dunia ini aman. Ketika orang tua hadir secara emosional, anak belajar bahwa perasaannya penting dan dirinya layak dicintai.
Secara perkembangan otak, interaksi hangat—tatapan mata, sentuhan, senyum, nada suara yang lembut membantu membentuk jalur saraf yang berkaitan dengan regulasi emosi dan rasa percaya diri.
Dari rasa aman itulah keberanian, kemandirian, dan kepercayaan diri tumbuh. Bukan dari lamanya kita duduk di sampingnya, tetapi dari hangatnya hubungan yang kita bangun bersamanya.
Bayangkan dua situasi berbeda.
Pada situasi pertama, kita bersama anak selama tiga jam. Duduk di ruang yang sama, sesekali menjawab pertanyaannya, tetapi tangan tidak lepas dari gawai.
Notifikasi berbunyi, mata lebih sering tertuju pada layar, respons yang diberikan singkat dan terburu-buru. Secara fisik kita ada. Secara waktu, bahkan “cukup lama”. Namun anak mungkin merasa seperti berbicara sendiri.
Pada situasi kedua, mungkin hanya lima belas menit. Kita menyimpan ponsel, menatap matanya ketika ia bercerita, tertawa bersama saat ia bercanda, memeluknya ketika ia mendekat. Tidak ada distraksi. Tidak ada perhatian yang terbagi. Hanya ada kita dan dia, utuh.
Secara durasi, jelas berbeda. Namun secara rasa, bisa jadi lima belas menit itu jauh lebih membekas. Karena yang diingat anak bukan berapa lama kita duduk di sampingnya, melainkan apakah di momen itu ia merasa benar-benar dilihat, didengar, dan dicintai.
Maka mungkin pertanyaannya bukan lagi seberapa lama kita bersama anak, melainkan seberapa utuh kita hadir di dalamnya. Sudahkah kita benar-benar hadir, atau sekadar berada di dekatnya?
Refleksi ini bukan untuk menyalahkan diri sendiri. Kita semua sedang belajar, sedang berusaha, dan sering kali juga lelah.
Namun di tengah kesibukan itu, mungkin ada ruang kecil yang bisa diperbaiki bukan dengan menambah jam kebersamaan, tetapi dengan menambah kesadaran dalam setiap momen yang sudah ada.
Anak mungkin tak akan pernah ingat berapa jam kita menemaninya bermain. Namun mereka akan selalu ingat siapa yang membuatnya merasa aman dan dicintai.
Karena pada akhirnya, yang tinggal dalam ingatan bukan lamanya kebersamaan, melainkan hangatnya.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Yang Anak Ingat Bukan Lamanya, tetapi Hangatnya"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang