
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Aroma oncom yang ditumis bersama bawang putih, cabai, dan kencur selalu menghadirkan sensasi khas yang sulit dilupakan. Ketika nasi hangat diaduk dengan oncom berbumbu, lahirlah hidangan sederhana yang begitu akrab di dapur masyarakat Sunda: tutug oncom.
Menariknya, kesadaran akan keistimewaan hidangan ini justru datang dari pengalaman di luar negeri. Dalam sebuah konferensi internasional di Kelantan, Malaysia, percakapan ringan dengan peserta lain membuka perspektif baru.
Ketika ditanya tentang makanan yang paling berkesan dari Jawa Barat, salah satu dari mereka menjawab dengan antusias: “nasi tutug oncom dan kerupuk udang.”
Bagi mereka, cita rasa tutug oncom terasa unik—gurih, harum, dan berbeda dari nasi berbumbu yang pernah mereka coba. Kerupuk udang yang renyah semakin melengkapi pengalaman tersebut.
Momen sederhana ini seolah menjadi pengingat: sesuatu yang kerap dianggap biasa di tempat asalnya, bisa jadi justru meninggalkan kesan mendalam bagi orang lain.
Padahal, jika disajikan lengkap dengan lauk dan sayuran, tutug oncom merupakan contoh pangan lokal bergizi yang layak mendapat tempat di meja makan keluarga, termasuk saat Lebaran.
Alternatif Seimbang di Tengah Hidangan Bersantan
Lebaran di Indonesia identik dengan hidangan kaya santan seperti ketupat, opor ayam, dan rendang. Menu-menu tersebut telah menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Namun, konsumsi makanan bersantan secara berturut-turut sering membuat tubuh terasa lebih berat. Tak jarang pula muncul kekhawatiran terkait kolesterol maupun gangguan pencernaan.
Dalam konteks ini, menghadirkan variasi menu yang lebih seimbang menjadi penting. Pangan lokal yang kaya serat, protein nabati, serta bahan alami dapat menjadi alternatif yang menyehatkan tanpa mengurangi kenikmatan bersantap bersama keluarga. Tutug oncom menjadi salah satu pilihan yang relevan.
Kesederhanaan yang Sarat Makna
Dalam bahasa Sunda, “tutug” berarti menumbuk atau mencampur. Pada hidangan ini, nasi panas diaduk dengan oncom yang telah ditumis bersama bumbu sederhana seperti bawang putih, cabai, kencur, dan garam.
Hasilnya adalah nasi dengan aroma harum dan rasa gurih yang khas.
Sejak dahulu, tutug oncom dikenal sebagai makanan rumahan masyarakat Sunda. Ia lahir dari kreativitas mengolah bahan sederhana menjadi hidangan yang mengenyangkan.
Meski awalnya dianggap sebagai makanan sehari-hari, kini tutug oncom justru menjadi salah satu ikon kuliner Jawa Barat yang banyak dicari.
Di balik kesederhanaannya, tersimpan nilai budaya yang kuat: kebersamaan, kesederhanaan, dan rasa syukur atas hasil bumi lokal.
Oncom: Sumber Nutrisi dari Tradisi Fermentasi
Kekuatan utama hidangan ini terletak pada oncom, bahan hasil fermentasi dari kedelai atau ampas kacang tanah yang telah lama dikenal dalam tradisi kuliner Nusantara.
Proses fermentasi menjadikan oncom kaya akan protein nabati, vitamin B kompleks, serta serat yang baik untuk pencernaan. Selain itu, mikroorganisme baik yang terbentuk selama fermentasi juga berperan dalam menjaga kesehatan sistem pencernaan.
Dengan kandungan tersebut, oncom tidak hanya terjangkau, tetapi juga memiliki nilai gizi yang kompetitif dibandingkan berbagai sumber protein lainnya.
Resep Sederhana untuk Dicoba di Rumah
Bagi yang ingin menghadirkan tutug oncom sebagai menu alternatif di rumah, berikut resep sederhana yang dapat dicoba:
Bahan:
Cara membuat:
Haluskan bawang merah, bawang putih, cabai, dan kencur. Tumis hingga harum, lalu masukkan oncom. Aduk hingga matang dan bumbu meresap. Tambahkan garam secukupnya. Campurkan dengan nasi hangat, aduk hingga merata.
Untuk penyajian yang lebih lengkap, tutug oncom dapat disandingkan dengan ayam goreng, tahu dan tempe, ikan asin, sambal terasi, serta lalapan segar seperti mentimun dan kemangi.
Satu Sajian, Gizi yang Lengkap
Jika disajikan dengan lauk dan pelengkap, sepiring tutug oncom sebenarnya telah menghadirkan komposisi gizi yang cukup seimbang.
Karbohidrat dari nasi, protein nabati dari oncom, tahu, dan tempe, serta protein hewani dari ayam atau ikan asin berpadu dalam satu piring. Lalapan segar memberikan asupan serat, sementara sambal menghadirkan vitamin dan antioksidan.
Kombinasi ini menunjukkan bahwa hidangan sederhana pun dapat memenuhi kebutuhan gizi secara menyeluruh.
Ketika Pangan Lokal Mendapat Apresiasi Global
Pengalaman di Malaysia tadi menjadi pengingat bahwa kuliner Nusantara memiliki daya tarik yang melampaui batas budaya dan negara. Keunikan rasa, proses pengolahan tradisional, serta bahan alami menjadikan makanan seperti tutug oncom memiliki potensi untuk dikenal lebih luas.
Sering kali, kita baru menyadari nilai suatu makanan ketika melihat bagaimana orang lain menghargainya.
Mengangkat Kembali Pangan Lokal
Di tengah maraknya makanan modern dan cepat saji, banyak hidangan tradisional mulai jarang hadir di meja makan keluarga. Padahal, pangan lokal seperti tutug oncom tidak hanya kaya gizi, tetapi juga mendukung keberlanjutan bahan pangan lokal serta menjaga warisan budaya.
Lebaran dapat menjadi momen yang tepat untuk menghadirkan kembali hidangan ini. Di antara berbagai menu bersantan, sepiring tutug oncom bisa menjadi pilihan yang berbeda—lebih ringan, tetap lezat, dan menyehatkan.
Pada akhirnya, mungkin yang perlu kita lakukan bukan sekadar mencari menu baru, tetapi kembali menghargai apa yang telah lama kita miliki.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Tutug Oncom, Hidden Gem Pangan Lokal Bergizi yang Layak Hadir di Meja Lebaran"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang