
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bisakah kebiasaan sederhana seperti berlari yang mana awalnya sekadar ikut tren menjadi jalan keluar dari insomnia sekaligus mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat?
Tahun 2023 menjadi salah satu fase yang cukup menantang bagi saya. Beban pekerjaan yang meningkat membuat pola tidur berantakan.
Malam terasa panjang, tetapi tidur sulit didapatkan. Insomnia berlangsung berbulan-bulan, hingga perlahan mulai memengaruhi konsentrasi dan kondisi kesehatan.
Di titik itulah saya merasa perlu melakukan sesuatu. Salah satu pilihan yang kemudian saya coba adalah olahraga lari.
Keputusan ini bisa dibilang cukup spontan. Sebelumnya, saya memang sesekali berolahraga seperti trekking, hiking, jalan kaki, atau yoga. Namun kali ini terasa berbeda lebih terarah dan dilakukan dengan kesadaran untuk memperbaiki kondisi tubuh.
Kebetulan, pada saat itu tren olahraga lari sedang meningkat. Saya mulai dari yang sederhana, berlari di sekitar SSA Kebun Raya Bogor, Lapangan Sempur, hingga Taman Ekspresi Bogor. Dari sekadar mencoba, saya kemudian tertarik mengikuti event lari, salah satunya yang diselenggarakan oleh Pocari Sweat.
Meski berangkat dari rasa penasaran, saya tetap mempersiapkan diri. Menjelang event 5K pertama, saya mulai rutin berlatih, belajar mengatur napas, dan melengkapi dengan yoga. Hasilnya cukup terasa setiap selesai berlari atau yoga, tubuh terasa lebih ringan, dan yang paling penting, tidur menjadi lebih mudah.
Jika sebelumnya saya terbiasa tidur larut hingga dini hari, perlahan pola itu berubah. Saya mulai bisa tidur lebih awal, sekitar pukul 21.00 atau 22.00. Perubahan ini terasa sangat berarti.
Selain berlatih, saya juga bergabung dengan komunitas lari. Dari sana, saya belajar banyak—mulai dari teknik dasar, pengaturan napas, hingga pentingnya menjaga asupan makanan dan cairan saat berolahraga.
Dari FOMO Menjadi Rutinitas Sehat
Pada awalnya, mengikuti event lari memang tidak lepas dari rasa FOMO (fear of missing out). Hampir setiap bulan saya mendaftar event, baik yang gratis maupun berbayar. Selain pengalaman, ada juga keseruan lain seperti bertemu teman baru, mendapatkan goodie bag, hingga doorprize.
Namun di balik itu, manfaat yang dirasakan jauh lebih besar. Tubuh terasa lebih segar, aktivitas menjadi lebih teratur, dan kualitas tidur meningkat.
Butuh waktu sekitar satu tahun bagi saya untuk konsisten berlari dengan jarak 5K. Perlahan, rutinitas ini menjadi bagian dari gaya hidup. Bahkan, saya rela bangun dini hari untuk mengikuti event di berbagai lokasi seperti GBK atau kawasan Sudirman.
Memasuki tahun 2024, saya mulai mencoba tantangan baru dengan mengikuti event 10K. Di fase ini, saya belajar lebih banyak tentang mendengarkan tubuh—tidak memaksakan diri, tidak terlalu ambisius mengejar kecepatan, dan lebih fokus pada keselamatan.
Saya masih ingat salah satu pengalaman saat mengikuti event lari di jalur menanjak. Napas mulai tersengal, dan saya memutuskan untuk memperlambat langkah, bahkan berjalan sejenak. Dalam situasi itu, satu hal yang saya pegang adalah memastikan tetap aman hingga garis finis.